Notifikasi Kini - Bulan Menaksir Hujan - Pujian Menjemputmu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Notifikasi Kini - Bulan Menaksir Hujan - Pujian Menjemputmu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:30 Rating: 4,5

Notifikasi Kini - Bulan Menaksir Hujan - Pujian Menjemputmu

Notifikasi Kini 

ke mana kita mesti mencari
matahari
setelah ufuknya benar-benar
bangkit dari barat,
cahaya berjatuhan setelah kalap
menghadap
jutaan manusia mencipta cahaya
kedua
dengan terang separuh masa silam
di kemudian, segala perasaan yang
hunjam
beriringan menelaah: pendarnya
yang palsu

di antara kerumun manusia yang
mencoba
menghidupkan masing-masing
benderang
pada sumbu jejaring, kita
barangkali sadar
jiwa bersitumbuh: yang remang
dan yang gamang
--lepas di antaranya, seorang
manusia
sedang bergoyang, memabukkan
sunyi picisan
dengan lagu-lagu sungsang,
memberi napas kecil
pada nyala yang menancap di
mata para manusia;
sebuah lorong disisakannya,
kecamuk yang jelma
merah menempiaskan
kemerdekaan atas nama
bangsa yang tidur

maka, ia tak ingin sekalipun
menelan ludah sendiri
atau memelantingkan sunyinya
sendiri dengan
bunyi-bunyi klise; mulutnya
terbuka

menghasut sukma menghasut
luka ia lelehkan, duka yang lumer
di kantung matanya
mengugurkan prasangka kecut
dibunting sunyi
mengoyak matahari kemanusiaan
buatan
mengirim bajingan kecil
memecahkan pengunguman atas
nama
:
harapan yang terlanjur politik

2016

Bulan Menaksir Hujan 

aku tak menemukanmu sama
sekali
di cangkir keempat kopi hitam
yang menjauhkan
dari diabetes mellitus; aku tak
menemukanmu
pada pelangi yang muncul sehabis
sembilan ibu
mengecor kaki-kakinya di depan
istana mimpi

jalanan yang aduh dengan
anakanak bersabuk
dikasihi mesin-mesin beroda,
jalanan yang ludah
oleh kaum aku. sejak kapan para
aku tekun
mencarimu?

malam dengan ledakan trafo
menjauhkan
dari jarak-jarak bunuh diri dalam
kepala
seorang manajer pemasaran toko
buku;
hujan lewat di kegelapan, mencuri
waktu
yang dibungkus cahaya teplok di
setiap angkringan,
tempias membeku dadu mengirim
nasib
ke udara

aku tetap tak menemukanmu
sampai jauh indeks perasaan yang
dilepas
oleh riuh busur kekuasaan:
cintamu, bulan
meringis
klasik sekali;
basah mata--kampanye para
pendaku

2016

Pujian Menjemputmu 

tiga kali tiga sudah
kita melipat-hitung kegagalan
karena duka searah jarum jam
dari yang itu menjadi yang itu lagi
dan itu lagi; di putaran itu, musim
nyeri di bekas liurmu
tak pernah sesekali berkhianat

kita berpikir bahwa dengan rajin-
rajin
bertindak dan melaksanakan apa
yang semestinya berhaluan cinta,
kita mendapat hal setimpal;
tapi sekali lagi, jika ini kehendak,
perlahan bebal dan bertahan
normal
adalah upaya untuk bisa
merasakan
jalan selamat.

sebuah altar didirikan dari sisa
sisa sabda
dan aliran-aliran putus asa;
sesungguhnya
perjamuan ini mengundang
kecemasanmu
seperti gerimis ketika matahari
sedang terik-teriknya

tiga kali tiga sudah
ketika kenangan wafat
jasadnya bangkit menyertai kita
entah selama-lamanya
entah sampai kita
benar-benar
saling cekik
dalam naik doa-doa yang ujung
telunjuknya
selalu berdarah


2016

Ganjar Sudibyo ialah lulusan psikologi Undip yang masih setia belajar berpuisi, menerjemahkan dan menulis esai serta resensi di berbagai media, mengikuti lomba, antologi dan forum diskusi sastra serta penelitian kualitatif. Buku antologi tunggal sepilihan sajaknya berjudul Pada Suatu Mata, Kita Menulis Cahaya (2013 & 2015). Sedang merampungkan buku sepilihan puisi terjemahan: Bilamana Aku Melupakan-Mu, Yerusalem (Penulis: Yehuda Amichai).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ganjar Sudibyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 17 Juli 2016

0 Response to "Notifikasi Kini - Bulan Menaksir Hujan - Pujian Menjemputmu "