Nyanyian Hari Raya - Takbiran - Nyanyian Idul Fitri - Ketupat - Bedug - Mudik | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Nyanyian Hari Raya - Takbiran - Nyanyian Idul Fitri - Ketupat - Bedug - Mudik Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:59 Rating: 4,5

Nyanyian Hari Raya - Takbiran - Nyanyian Idul Fitri - Ketupat - Bedug - Mudik

Nyanyian Hari Raya

Sepanjang malam langit bernyanyi
di jagat cahaya pohonan diam
khusyuk mendengarkan
pepohonan takzim dalam dzikir
daun-daun tengadahkan tangan ke langit
munajatkan doa yang erat terkepal

Sungai-sungai berkilauan tenang dan hening
mengalirkan kejernihan membasuh batu-batu hitam
bahkan tebing mengepalkan khusyuk
dari kejauhan begitu tawaduk
Karangjati, Bantul. 2015

Takbiran

Barisan obor kirab di jalan-jalan
anak-anak takbir bersahutan menjabarkan kebesaran
sebuah upacara kemenangan digelar semalaman
tanpa tepukan
hanya bedug bertaluan ditabuh dalam-dalam
kembang api dan petasan ikut pesta kemenangan

Obor tak pernah padam
seperti kerlip bintang turun di kota dan perkampungan
menebarkan benderang
seindah jiwa yang lapang dan tenang
Karangjati, Bantul. 2015

Nyanyian Idul Fitri

Di halaman masjid dan tanah lapang
menghampar sajadah
menampung sujud orang-orang

Matahari mengintip dari celah dedaunan
burung-burung tak mau terbang
ikut mendengarkan khotbah dari kejauhan

Langit pun bicara dengan birunya
berjamaah bersama gunung dan lautan
seperti hendak menirukan orang-orang
yang berbarengan menunduk
lalu menempelkan kening pada sajadah
duduk sama rendah ikhlas dalam fitrah
Karangjati, Bantul. 2015

Ketupat

Dzikir janur menyembul dan menelusup
seperti anyaman hidup
melintang membujur seperti sengkarut janur
beras-beras jiwa
berhamburan dalam cemas
yang memanas di tubuh ketupat empat kiblat

Menunjuk ke utara ke timur ke barat
juga ke selatan lalu bersedekap
Karangjati, Bantul. 2015

Bedug

Kemenangan dirayakan tetabuhan
riuh bersahutan dari malam ke fajar
dari sempit ke lebar
bagai kirab pasukan seusai perang

Di tanah lapang di jiwa yang tenang
pohon takbir ditegakkan
setinggi umbul-umbul yang berkibaran

Dan gaung bedug yang berdentam di sekujur raga
mengiringi burung-burung menyebrangi angkasa
membuat sangkar sorga
Karangjati, Bantul. 2015

Mudik

Aku pulang ke kampung kelahiran
kupulangi darah bayiku, ari-ariku
yang terpahat di telapak kaki ibu
bekas potongan rambut dan kuku
dan ledak tangis awalku

Sungkem di kampung
melacak jejak masa kanak
melacak kerabat
merubung jabat di kelilingi jagat ketupat

Aku ingin meneguk restu
yang terjun dari kendi-kendi
di atas meja layaknya sesaji

Mata moyang meneteskan doa
di ubun-ubunku yang lama mengembara
Karangjati, Bantul. 2015

Umi Kulsum, alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Pekerja Budaya Bantul, tinggal di Bantul. Sejumlah puisinya dimuat di antologi bersama dan media massa. Selain menulis puisi juga menulis esai, opini dan cerpen. Selain jadi guru di SMPN 2 Bantul, saat ini aktif bergiat di Sastra Bulan Purnama di Rumah Budaya Tembi Bantul. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Umi Kulsum
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 3 Juli 2016


0 Response to "Nyanyian Hari Raya - Takbiran - Nyanyian Idul Fitri - Ketupat - Bedug - Mudik"