Oma Martha | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Oma Martha Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:24 Rating: 4,5

Oma Martha

AKU berjalan santai menuju ke sekolah yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Seperti biasa, aku melewati rumah mungil dan asri yang halamannya ditumbuhi pohon ceri yang rindang. Kadang kutemui buah ceri yang menggelantung pada dahan yang keluar pagar. Biasanya mataku mencari-cari buah ceri merah yang dapat kugapai dengan tanganku dan memetiknya, lalu kumakan sepanjang perjalanan menuju sekolah. 

Tapi pagi ini, begitu aku hendak menggapai ceri tiu. 

“Buah yang merah tua lebih manis, nak.” Seorang nenek menegurku dari dalam pagar.

“Sorry, Oma … saya cuma iseng kok,” kataku setelah sedikit terkejut sambil kembali melangkah dengan ritme yang lebih cepat karena menahan malu. “Sialah, ada orangnya juga rumah itu, padahal selama aku lewat di depannya tidak pernah aku menemukan tanda-tanda kehidupan.” Aku membatin.
“Ha … ha … ha … emangnya enak ketahuan nyolong.” Inong, teman sebangkuku, terbahak-bahak setelah mendengar ceritaku di kantin.

“Emangnya, elo nyolong berapa banyak sih?” Ira menahan gelinya.

“Ya ampun paling-paling cuma tiga biji doang. Tahu nggak yang bikin gue nggak enak? Itu oma nggak marah, malah tersenyum.” Aku menerawang mengingat manisnya senyum oma tua itu.

Sebenarnya aku enggan melewati rumah itu lagi. Tapi aku tidak punya pilihan lain, karena itu satu-satunya jalan menuju sekolahku. Dari jarak dua meter aku sudah sibuk mengawasi rumah bercat hijau itu. Di tamannya ada oma tua yang duduk melamun di atas kursi rodanya, jelas dia yang menegur aku kemarin. Di sebelahnya berdiri seorang wanita muda berpakaian putih seperti seragam baby sitter. Tepat ketika aku lewat di depannya, aku membuang pandangan jauh ke depan, pura-pura tidak melihat. Tiba-tiba,

“Tidak mengambil ceri lagi, nak?”

Itu suara orang yang menegurku kemarin. Aku menoleh ragu, “Nggak, Oma.”

“Kemarilah, sebentar,” Oma tua itu menggerakkan jarinya.

Aku pun mendekati dengan salah tingkah. Kulihat perempuan berpakaian putih itu memasuki rumah, tak berapa lama kulihat dia membawa sesuatu dan diserahkannya pada oma itu. 

“Ini untukmu supaya kau tidak susah-susah lagi mengambilnya.” Oma tua itu menyerahkan keranjang kecil berisi penuh buah ceri merah.

“Saya … nggg.” Aku memandangi keranjang itu dengan bingung.

“Sudahlah, ambil saja.” Oma tahu, aku suka buah itu.

“Terima kasih, Oma ….”

“Marta … panggil aku, Oma Martha.”

“Ya, terima kasih Oma Martha.” Aku menerimanya dengan malu hati.

Oma Martha berusia enam puluh lima tahun, tapi fisiknya lebih tua dari usia sebenarnya, ditambah lagi dia harus terus-terusan duduk di atas kursi roda karena kelumpuhannya. Dalam dua pekan ini aku sudah akrab dengan Oma Martha. Entah kenapa aku begitu tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.

Setiap pulang sekolah aku menyempatkan untuk menghampiri dan mendengar ceritanya. Oma Martha pun tidak keberatan untuk bercerita. Dari ceritanya aku tahu banyak hal tentang dirinya, dan Oma Martha sama sekali belum pikun. Dari ceritanya pula aku tahu bahwa beliau baru pindah dari Bandung, dan tinggal di rumah itu hanya berdua dengan baby sitternya yang bernama Warsih.

Mbak Warsih itu sangat kaku, berbeda sekali dengan Oma Martha. Dia tidak pernah tersenyum padaku, mengucapkan sepatah kata pun sulit baginya. Sesekali aku hanya mendengar gerutuannya tidak jelas ketika Oma Martha mulai menyuruhnya melakukan banyak hal. Menurut Oma Martha, Mbak Warsih itu memang begitu pembawaannya. Tapi sebenarnya dia baik hati.

Aku merasa bahwa Oma Martha orang tua yang kesepian. Kehadiran Mbak Warsih jelas sangat tidak membantu. Makanya ketika aku mencoba mendekatinya dia terlihat senang. Dengan antusias dia menungguku untuk mampir ketika aku melewati rumah itu. Kadang beliau membawakan kue-kue kering yang lezat. Katanya sih, walaupun kue itu dibuat oleh tangan Mbak Warsih, tapi semua atas instruksi dan pengawasan langsung dari Oma Martha. 

Kadang-kadang aku memberikannya sedikit buah-buahan sekadar untuk membalas kue-kue kering yang dia berikan. Tapi Oma Martha sedikit keberatan. Alasannya, beliau tidak mau merepotkan aku. Bukankah kue-kue kering yang diberikan padaku paling tidak telah membuat Oma Martha dan Mbak Warsih repot juga?

Hari minggu ini tidak ada kegiatan ekstrakurikuler yang harus kuikuti. Rencananya aku hendak main ke rumah Oma Martha. Aku berharap dengan mendengar kenangan manis beliau, suntukku segera terobati setelah kemarin aku gagal mengerjakan ulangan kimia. Aku melongok dari luar pagar, kulihat Mbak Warsih menata pot-pot suplir agar terkena sinar matahari pagi. 

“Pagi, Mbak Warsih, Oma ada?”

Seperti biasa dia hanya menatapku dingin lalu mengangguk pelan. Kenapa sih Oma mempekerjakan orang yang kurang simpatik ini untuk menemaninya? Aku sama sekali tidak habis pikir.

“Maaf Mbak, saya boleh masuk?” Teganya orang ini membiarkan aku berdiri lama di luar pagar.

Mbak Warsih mengangkat wajahnya, matanya menatapku dengan sinis. Kemudian membuka pintu pagar yang terkunci. Aku melihat beberapa sepatu dan sandal di atas keset dari sabut kelapa, tumben tidak biasa-biasanya Oma kedatangan tamu. Akhirnya kuputuskan untuk duduk di kursi rotan yang dipelitur warna cokelat tua di beranda. Aku pikir akan lebih baik kalau aku menunggu tamu-tamu itu pulang saja.

Rumah Oma kelihatan asri. Hampir di setiap sudut rumahnya ditanami beraneka ragam tanaman, rumput-rumput jepang yang terawat, sampai pohon jambu bangkok yang ditanam di samping rumah. Semuanya tertata sangat rapi, aku mengacungkan jempol untuk Mbak Warsih untuk hal satu ini.

Kira-kira setengah jam aku menunggu tamu-tamu Oma pulang, akhirnya tamu-tamu itu menampakkan wajahnya di ambang pintu. Yang pertama seorang lelaki berumur kira-kira empat puluhan tahun, badannya gemuk dan tidak begitu tinggi. Lalu disusul seorang perempuan yang mirip Oma, badannya kebalikan dari bapak yang keluar pertama tadi, kurus dengan dandanan yang sangat menor. Aku memastikan bahwa perempuan itu habis menangis, karena aku melihat matanya yang sembap dan bedaknya yang sedikit memudar terbasuh air mata. Usianya kira-kira tiga puluh limaan. 

“Sialan, siapa sih yang meletakkan pot di sini?” maki lelaki ketiga yang keluar dari pintu setelah menabrak pot suplir. Rambut gondrongnya dicat merah, memakai jaket kulit, kelihatannya dia lebih muda dibanding dua orang tadi. Sayangnya, ketiga orang tadi hanya melirik sebentar begitu melihat keberadaanku, lalu pergi dengan mobil kijang yang diparkir di luar pagar tanpa meninggalkanku sedikit pun informasi mengenai identitas mereka.

“Oma Martha, aku datang?” teriakku begitu memasuki ruang tamu.

Oma memutar kursi rodanya menghadap kepadaku.

“Maaf Oma, mungkin aku datang tidak pada saat yang tepat,” aku sangat jelas melihat mendung menggelayut di mata Oma.

“Oh … sama sekali tidak, justru Oma senang kau di sini.” Seperti biasa Oma selalu menunjukkan sifat ramahnya yang tidak habis-habis kepadaku.

“Siapa orang-orang itu?” Aku berharap tidak salah bertanya.

Oma terdiam tangannya mengepal, bibirnya bergetar.

“Maaf, saya terlalu lancang.”

Oma menggeleng tanda tak setuju dengan pernyataanku.

“Mereka anak-anakku, tapi aku merasa tidak punya siapa-siapa sejak dua puluh tahun lalu, saat suamiku meninggal.” Oma menghela napas. Aku meraih jemarinya yang keriput dan berharap dia sedikit lebih tenang.

“Yang pertama, Rudy namanya, dia menikah dengan wanita tua yang kaya, hanya untuk memanfaatkan wanita itu, karena dia sangat pemalas, tidak mau bekerja. Kerjanya hanya mabuk-mabukan dan main perempuan. Oma malu sekali dengan istrinya, sampai akhirnya istrinya minta cerai. Kini tak ada lagi orang yang menghidupinya.”

Oma terbatuk kecil, “Jika tadi kau lihat, seorang perempuan yang mirip denganku, itu Rina, putriku nomor dua. Dia selalu bermimpi menjadi seorang artis, sampai dia rela jadi simpanan sutradara film murahan. Sayangnya sampai detik ini tidak ada satu judul film pun yang dibintangi olehnya. Dia sangat marah ketika aku tidak memberikan restu saat dia menikah.”

Aku mengambil cangkir Oma yang berisi susu cokelat hangat. Oma menyambutnya lalu meneguk sekali. Kali ini Oma terlihat lebih tenang.

“Dan yang berambut gondrong itu Robby, putra bungsuku. Dia telah masuk rumah sakit ketergantungan obat sejak SMP, dia lebih suka diasuh anak-anak pinggir jalan ketimbang aku.”
“Anak muda yang malang,” batinku berbisik.

Air mata mulai deras di mata Oma. “Semua salahku, aku gagal mendidik mereka, Ibu macam apa aku ini?” Oma histeris meninju kursi rodanya. “Mereka meninggalkanku sendirian di usia tua. Sekarang … mereka meminta warisanku pada saat aku belum meninggal.” Volume suara Oma menurun, nyaris tidak terdengar.

Kemudian aku menyuruhnya istirahat untuk sekadar melepaskan penat beban hatinya. Aku pulang dengan perasaan campur baur. Tidak mengerti, mengapa Oma yang sedemikian baik, harus kesepian di usia senjanya?

Sepulang dari sekolah, rencananya aku hendak mampir ke rumah Oma sekadar menengok keadaannya. Terus terang, aku begitu mencemaskannya setelah kejadian kemarin. Sepertinya kecemasanku mendapat jawaban. Aku melihat orang berkerumun di depan rumah Oma Martha, bahkan beberapa orang kulihat menaiki pohon ceri. Sementara sekeliling rumah itu dibatasi garis pembatas polisi (police line) berwarna kuning, aku menghampiri dengan jantung berdegup kencang. 
“Ada apa, Pak?” tanyaku pada seorang warga yang berkerumun.

“Ada nenek-nenek meninggal, sepertinya diracun.”

Aku melihat Mbak Warsih sedang berbincang-bincang dengan tiga orang polisi. Tidak lama mayat Oma dikeluarkan dari rumah. Orang-orang yang semakin banyak meringsek maju mendekati mayat Oma yang digotong menuju ambulance untuk diotopsi berharap bisa melihatnya lebih dekat. Beberapa polisi aku lihat menghalau massa. Aku yang berdiri di tengah-tengah terdesak-desak dan nyaris sulit bernapas. 

Sorenya aku dijemput dua orang polisi di rumah, yang satu berpakaian seragam dan yang lain berpakaian preman. Kecemasan yang teramat sangat terlukis di wajah ibuku, karena seumur hidup kami tidak pernah berurusan dengan polisi. Beliau mendampingiku sampai ke kantor polisi. Ayahku segera menyusul setelah izin dari kantornya. Keduanya berharap tidak ada sesuatu yang menimpa putrinya. Aku sendiri merasakan seperti apa yang ibu rasakan. Wajar saja kalau mereka kaget karena selama ini orang tuaku memang tidak mengetahui persahabatanku dengan Oma Martha.

Polisi menanyakan beberapa pertanyaan, pertanyaannya seputar kedekatanku dengan Oma dan kejadian terakhir aku bertemu dengan Oma. Aku pun bercerita dengan lancar, sementara jari-jari Pak Polisi sibuk mengetik apa yang keluar dari mulutku. Setelah selesai meminta keteranganku, kami dipersilakan untuk pulang.

Malamnya aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Mungkinkah Oma dibunuh? Lalu, siapa pelakunya? Ketiga anaknya jelas-jelas menginginkan warisan Oma. Tapi tegakah seorang anak membunuh ibunya sendiri? Di rumah itu cuma ada Oma dan Mbak Warsih? Warsih? Yah mungkin saja, matanya begitu dingin sikapnya begitu kaku, sangat pantas memerankan karakter seorang pembunuh. Tapi apa yang diharapkannya dengan membunuh Oma?

Aku menghadiri pemakaman Oma Martha. Tidak ada seorang pun anaknya yang hadir. Dan kudengar Mbak Warsih sudah pulang ke kampungnya. Hanya ada beberapa orang dari gereja yang mengurus pemakamannya. Kasihan Oma saat meninggal pun dia begitu sendirian dan kesepian. 

Beberapa hari kemudian baru aku ketahui bahwa Oma meninggal karena bunuh diri setelah mencampurkan racun pada susu cokelatnya. Aku dapat memahami dengan pasti betapa frustrasinya 

Oma yang gagal mendidik ketiga anaknya, dan menamatkan beban hidupnya dengan bunuh diri.
Belakangan aku baru mengetahui Oma meninggalkan surat wasiat yang menyatakan bahwa seluruh harta dan rumahnya dihadiahkan kepada panti asuhan, kecuali pohon ceri yang di depan rumahnya, Oma Martha mewariskannya untukku ….***

[Untuk mbah putri terkasih]

Rujukan:
[1] Disalin dari karya St. Barokah A. Soedari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Gadis" edisi 29 Januari – 7 Februari 2002


0 Response to "Oma Martha"