Pelabuhan Ampenan - Di Gunung Lokon - Natal di Sintesa Peninsula - Mendaki Bukit Doa - Tangga ke Mahawu - Doa Petani Bunga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelabuhan Ampenan - Di Gunung Lokon - Natal di Sintesa Peninsula - Mendaki Bukit Doa - Tangga ke Mahawu - Doa Petani Bunga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:44 Rating: 4,5

Pelabuhan Ampenan - Di Gunung Lokon - Natal di Sintesa Peninsula - Mendaki Bukit Doa - Tangga ke Mahawu - Doa Petani Bunga

Pelabuhan Ampenan

Sebuah jalan membelah kebisuan siang
Udara panas serta debu mengepul ke udara
Aku menyusuri pedestrian, melewati deretan toko
Yang sudah menjadi reruntuhan di antara gudang tua
Rumah tanpa penghuni dan biara sepi. Ke sanalah
Aku berjalan sendiri sambil menundukkan kepala
Berjalan dengan membawa sebongkah batu
Di dalam dada. Aku mencari kedai kopi

Sebuah dermaga mengiris keheningan pantai
Matahari masih di puncak kemegahannya
Perahu-perahu membisu, juga tiang-tiang kayu.
Bentangan tambang serta beberapa pemuda
Yang tampak termangu. Ke sanalah aku berjalan
Sambil mengutuki betapa cepatnya putaran waktu
Lalu memanggil kembali tahun-tahun yang pergi
Dan menenggelamkannya di lubuk hati

Sebuah bangku dengan guguran daun kering
Yang beterbangan karena dipermainkan angin
Kelompok kecil awan membubarkan diri di udara
Langit bersih seperti kulit telor asin, sesekali ombak
Membentur tembok dermaga. Ke sanalah aku berjalan
Dengan mempercayakan langkah pada ujung kaki
Ke sanalah aku berjalan menyeret ingatan yang tersisa
Lalu menginjaknya dengan sepatu. Aku haus sekali

Sebuah kedai kopi jauh di ujung dermaga
Di antara pondok-pondok nelayan yang kusam
Tenda-tenda rumbia serta dinding-dinding papan
Yang mulai dimakan usia.  Ke sanalah aku berjalan
Berjalan sambil melepaskan pakaian satu demi satu
Membuang lembar demi lembar keyakinanku ke laut
Ke sanalah aku berjalan sendiri menemui kembaranku
Yang merana. Menjumpai kesepianku yang sempurna

2014

Di Gunung Lokon

Sebuah resonansi
Digetarkan cahaya pagi
Ujung dari doa yang murung
mengendap di keheningan
Lereng gunung

Monumen kabut
Yang menjulang tanpa tiang
Menjadi gerbang sunyi
Angin tanpa arah
Dingin tanpa muasal
Mengental
Seperti amsal

Sebuah vibrasi
Yang diletupkan lava
Menepi di akhir mazmur
Dari udara tercium
Harum sulfur

Kaldera waktu
Yang bergolak tanpa suara
Menjelma daratan baru
Kuburan tanpa nisan
Luka tanpa jejak
Menguap
Bersama epitaf

2015

Natal di Sintesa Peninsula

Aku meninggalkan kamar dan pergi ke puncak bukit
Jalan menanjak dan melingkar adalah rute resmi
Menuju pagi. Kabut berkerumun di tengah udara dingin
Dan matahari belum sepenuhnya terbit dari tingkap langit

Di atas hamparan kampung di atas lereng gunung
Atap-atap seng seperti deretan nisan tua yang ramping
Tapi pagar-pagar gamping mengungkapkan gambaran lain
Kematian bukan terminal terakhir bagi penempuh batin

Aku bersandar pada sebuah patung dengan sisa ingatan
Yang masih tergantung. Pohon-pohon meredam deru angin
Lampu-lampu natal menebarkan sinarnya yang gemetar

Mungkin aku tak tahu atau lupa untuk apa mencintaimu
Dengan melukai dada. Tapi celah waktu selalu terbuka
Juga bagi hadirnya takwil baru mengenai penebusan dosa.

2015

Mendaki Bukit Doa

Cinta adalah palang kayu
Yang kupanggul dari lembah
Ke puncak bukit. Ada tetesan darah
Jejak pengusiran yang terukir
Sepanjang retakan tanah
Dan pecahan gamping

Tapi kenangan lewat dari pikiran
Dan perasaan letih. Waktu seakan mengendap
Ingatan tak ada lagi dan doa yang kuseret
Tersangkut pada baris-baris nubuat
Lalu aku membayangkan sorga
Yang penuh parodi

Cinta adalah sejumlah luka
Yang nyerinya masih kutampung
Di dada dan lambung. Tak ada yang berubah
Hanya malam yang bersekutu dengan sepi
Lalu kau dan aku tercipta kembali
Dilepas mengembara ke bumi

Tapi sejarahnya hanya mencatat adegan
Yang terjadi di luar kita. Dawat telah kering
Pena sudah patah dan doa yang kugelindingkan
Tersandung bongkahan-bongkahan batu
Yang tengah ditatah seorang rahib
Menyerupai anatomiku

2015

Tangga ke Mahawu

Aku hanya menghitung sejumlah jari
Pada tanganku. Tak ada Rosario lapis lazuli
Atau tasbih pandan suji dalam genggamanku
Dingin udara memperlambat langkah hari

Aku hanya membilang detik dan menit
Pada tangga usiaku. Lalu mencatat nyeri
yang ditancapkan paku berkarat ke daging kayu
Dari telapak tanganku menetes darah sunyi

Aku hanya menghitung butiran kancing
Pada kemejaku. Tak ada lagi semerbak sulfur
Atau harum ambar yang tercium dalam semadiku
Waktu terkubur bersama lembar-lembar amsal

Aku hanya membilang bulan dan tahun
Pada jadwal kematianku. Lalu mengekalkan luka
Yang dulu dibenturkan pahat baja ke sebongkah batu
Tanpa terasa ada yang mengalir dari sudut lambungku

2015

Doa Petani Bunga

Wahai malam yang memperpendek jarak
Dengan misa pagi. Beri kami orkestra yang ramai
Hingga pentas sunyi usai dan kuntum-kuntum peoni
Tercium semerbaknya di awal pergantian musim

Wahai musim yang mengurapi lapisan tanah
Dengan sakramen hujan. Beri kamu alegro rasa syukur
Kegembiraan yang mengalirkan nada pada lembar partitur
Hingga putik-putik krisan mekar sebelum paskah tiba

Wahai paskah yang memberkati daun-daun gugur
Dengan tembang mazmur. Beri kami rekuim yang panjang
Hingga segala duka mengendap dan akar-akar magnolia
Kembali mengalirkan cahayanya pada paras bunga

2015


Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Bergiat di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Komunitas Azan. Kumpulan puisinya antara lain Bagian dari Kegembiraan (2013) dan Like Death Approaching and Other Poems (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari Acep Zamzam Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 9 Juli 2016

0 Response to "Pelabuhan Ampenan - Di Gunung Lokon - Natal di Sintesa Peninsula - Mendaki Bukit Doa - Tangga ke Mahawu - Doa Petani Bunga"