Penumpang - Katakan kepada Maysaroh - Perang yang Lain | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penumpang - Katakan kepada Maysaroh - Perang yang Lain Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Penumpang - Katakan kepada Maysaroh - Perang yang Lain

Penumpang 

Aku selalu ingin berada
di tempat yang tidak tepat.
Stasiun pukul tiga pagi,
bank di tanggal merah,
rumah Belanda di Wonokromo,
atau di dalam perasaan-perasaan
yang tak kau inginkan.

Bagaimana kau yakin
tempatmu di dunia ini
adalah di mana kau
berada sekarang?
Yang aku diami di malam hari
adalah yang aku tinggalkan
di pagi hari. Yang kau
kenakan di siang adalah
di sore hari.

Satu-satunya cara
untuk pulang adalah
dengan pergi.
Tapi aku tak pernah
berangkat biarpun berada
dalam kereta yang melaju.
Kau tak pernah turun
meski telah sampai
di stasiun tujuan.

Katakan kepada Maysaroh

Katakan kepada Maysaroh
aku memiliki setangan untuk menyeka lelahnya
sehabis menyaksikan layang-layang lupa daratan.
Langit ampak begitu sepele. Dapat diukur
dengan segulung benang.

Langit biru di Wonokromo
hanya sekadar warna,
membentangkan pertanyaan-pertanyaan
seorang pengarang kepadaku
seperti seorang mandor
yang belajar menembak
di atas kuda Sumbawa.

Maysaroh, ke sini. Jangan ganggu papamu.
Ia sedang melukis sebuah peta masa silam.
Peta yang melahirkan jalan-jalan panjang
bagi kaki buntungnya. Peta yang sama
dengan yang kau lihat. Jalan yang sama
dengan yang kau dengar dalam sebuah orkes.

Katakan kepada Maysaroh
aku mencintai pertanyaan-pertanyaannya
yang piawai menyingkirkan jawaban.

Perang yang Lain

Ia siapkan Perang Padri yang lain untukku.
Perang Aceh yang kesekian,
Perang Diponegoro terakhir,
atau Perang Bali yang baru.
Tanpa rencong, keris, bedil kokang,
pun tanpa darah. Perang baru
yang hilang tanda.

Kami hanya perlu saling menikam tanpa clurit.
Pada jantung dan pada lambung.

Kami tak akan pernah
mengalahkan satu sama lain.
Kami hanya akan mengalahkan diri sendiri.
Yang menang adalah desir suara lampu gas,
penghidup kincir, induk semang pelesir.

Seperti moyangku dalam Mahabarata,
memperistrimu aku harus terus-menerus
turun ke medan perangNya.





Rio Fitra SY lahir di Sungailiku, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 1986. Sedang menyiapkan buku puisinya yang berjudul Pasien Terakhir.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rio Fitra SY
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu, 16 Juli 2016 

0 Response to "Penumpang - Katakan kepada Maysaroh - Perang yang Lain"