Perempuan Limited Edition (24) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (24) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:11 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (24)

RESEPSIONIS segera menghampiri kamar yang disewa Reza. Karena baru masuk beberapa jam, resepsionis sangat hapal letak kamarnya. 

”Tidak apa-apa hanya salah paham dengan istri saya,“ ucap Reza dan resepsionis segera minta maaf. 
Reza hanya termenung tidak tahu harus berbuat apa. Rasa kesal merasa dipermainkan Nadia memenuhi dadanya. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali besok akan kembali menemui Nadia di rumahnya. 

Setelah merasa sedikit jauh dari penginapan, dengan napas yang masih naik turun, Nadia menghentikan larinya dan berjalan mengampiri sebuah warung makan, membeli minuman. Belum sempat Nadia duduk dan memesan minuman sebuah suara memanggil namanya.

”Ibu? Ibu Nadia?”

Nadia kaget dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

”Kok Ibu ada di sini?“ ulang orang itu yang ternyata Adi yang pernah bekerja dan merangkap jadi sopir Nadia dulu. Nadia membelalakkan matanya, kaget dan campur bahagia karena ada orang yang dikenalnya di tempat itu. 

”Ibu kenapa seperti orang ketakutan? Mas Adrian mana? Ibu bersama siapa?“ Adi memberondong pertanyaan. Nadia masih mengatur napasnya. 

”Duduk dulu Bu, duduk dulu.... Pak Agus buatin teh anget ya.“

”Aku bareng Reza ke sini,“ jawab Nadia.

”Haah? Pak Reza yang dulu itu?“ Adi kaget. Tahu kalau Reza dulu etikanya kurang baik terhadap mantan bosnya itu. 

Nadia mengangguk.

”Kok bisa Bu?“

”Ceritanya panjang Di....“ Nadia enggan bercerita.

”Baiklah Bu. Ibu minum dulu teh angetnya ini Bu,” kata Adi setelah teh sudah diantar pemilik warung.

Nadia segera meminumnya dan setelah sedikit menjelaskan kenapa bisa berada di warung ini hingga bertemu dengan Adi, Adi mengusulkan malam ini Nadia bermalam di rumahnya. Dalam hati Adi sangat prihatin melihat mantan bosnya ini semakin keluar dari jalur.

Setelah metabolisme tubuh dirasa normal kembali, Nadia sedikit tenang.

”Kok kamu bisa di sini? Bukannya kamu dari Banjarnegara?“ tanya Nadia saat ditawari bermalam di rumahnya.

”Walah Bu, Banjarnegara kan kabupatennya. Asli saya dan rumah saya kan Dieng, Bu.“

”ooo....“ Nadia mengangguk-angguk. 

”Sepertinya saya pernah cerita jika tinggal saya di Dieng, Bu.“

”Lupa mungkin aku.”

”Nanti saya kenalin sama orangtua saya Bu, kalo sekarang mau pulang Yogya ya tengah malam nyampainya. Besuk saja saya antar Ibu pulang Yogya,” kata Adi.

Nadia mengangguk lagi dan mengikuti Adi meninggalkan warung menuju rumah Adi yang jaraknya tidak terlalu jauh. 

”Mari Bu, silakan masuk,” kata Adi sesampainya di sebuah rumah.

Nadia melongo melihat Adi memersilakan masuk ke sebuah rumah tingkat yang bagus dan ada dua mobil terparkir di situ.

”Ini rumahmu?” tanya Nadia yang masih bingung.

”Rumah orangtua saya Bu, bukan rumah saya,“ jawab Adi sambil tersenyum. Mungkin memaklumi kebingungan Nadia.

”Kamu gila ya? Lha ngapain kamu kemarin nglamar kerjaan jadi cleaning servis?” ucap Nadia karena merasa konyol dengan rumah begitu besar namun mau bekerja sebagai cleaning servis.

”Ya nggak gila Bu, kan cari pengalaman,” jawab Adi sambil tertawa.

“Ya tapi…” Belum sempat Nadia melanjutkan bicaranya, pintu terbuka. Wanita setengah baya dengan memakai kain layaknya ibu-ibu di kampung.

”Eh Mas Adi,” kata wanita tersebut sambil meneliti Nadia. 

”Mari Bu masuk,” ajak Adi. Nadia masih kebingungan mengikuti langkah Adi memasuki rumah yang kurang lebih sama besarnya dengan rumah miliknya.

”Bik… tolong panggilkan Ibu ya, bilang ada tamu,” kata Adi lagi pada wanita tadi yang ternyata pembantu.

Nadia memandangi Adi dengan seksama. Memang sejak awal melamar kerja dulu Nadia merasa janggal melihat Adi. Bahkan sempat dikatakan tidak cocok sebagai cleaning servis maupun sopir. Masih dengan tanda tanya besar Nadia dengan bekerjanya Adi dulu di rumahnya, seorang wanita cantik dengan perhiasan di tangan dan leher yang lumayan besar menyalaminya.

”Ini Bu Nadia bos Adi dulu, Bu,” jelas Adi pada wanita yang ternyata ibunya.

”Oh ini ya Bu Nadia?” sapanya ramah dan Nadia hanya mengangguk. Benar-benar bingung dengan yang dilihatnya. 

”Kok nggak ngasih tahu dulu jika Ibu mau main ke sini?” ujar ibu Adi dengan ramah dan Nadia hanya mengangguk. Benar-benar bingung dengan yang dilihatnya. 

”Kok nggak ngasih tahu dulu jika Ibu mau main ke sini?” ujar ibu Adi dengan ramah. Nadia hanya tersenyum karena masih bingung dengan apa yang dilihatnya.

”Adi banyak bercerita tentang Ibu selama Adi bekerja di tempat Ibu. Kata Adi, Ibu ini orangnya baik sekali. Dan Adi berhenti karena sudah tidak ada yang dikerjakan lagi karena toko Ibu tutup. Ia pa Bu?“ kata ibu Adi yang ternyata melebihi Nadia saat Nadia sebelum mengalami guncangan ini. Ya sejak Nadia berubah memang Nadia jarang terdengar ocehannya lagi.

”Padahal saya sudah senang saat Adi cerita bahwa Bu Nadia mau menyekolahkan Adi dan Adi bersedia. Padahal saya itu sudah ribuan kali Bu, bilang pada Adi untuk melanjutkan tapi nggak pernah digubris,“ kata ibu Adi lagi.

”Oh gitu ya Bu? Saya ini cuma melihat bahwa Adi ini cukup cerdas sayang kalau tidak sekolah, maaf Bu saya tidak tahu keadaan Adi yang sebenarnya, makanya saya menawarkan itu,“ jelas Nadia.

”Nggak apa-apa Bu, wong saya malah bersyukur. Alhamdulillah ada orang yang bisa menggerakkan hai Adi waktu itu. Malah saya mikir nanti biaya-biaya yang dikeluarkan Ibu akan saya ganti.”

”Buu biar Bu Nadia istirahat dulu, besok aja ngobrolnya disambung lagi,” potong Adi.

‘”Oh ya ya monggo Bu istirahat dulu,” kata Ibu Adi pada Nadia.

”Saya balik kewarung lagi nemeni Pak Agus,” pamit Adi pada ibunya.

“Oh iya ini kan malam minggu pasti banyak tamu, sekalian kamu cek penginapan yang di atas ya,” pesan ibu Adi yang membuat Nadia semakin bingung. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 3 Juli 2016



0 Response to "Perempuan Limited Edition (24)"