Perempuan Limited Edition (25) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (25) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:16 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (25)

DI dalam kamar yang lumayan besar untuk sebuah kamar tamu. Nadia menggelengkan kepala. "Aneh," katanya dalam hati. Apa yang dicari Adi dengan menjadi cleaning service di rumahnya, jika orangtuanya saja memiliki pekerjaan yang begitu banyak yang harus dibantu. Punya warung, punya penginapan dan entah apalagi. Pantas tadi Adi sangat akrab dengan si pemilik warung, rupanya warung miliknya. Ah ada-ada saja.

Sejenak Nadia melupakan kejadian yang barusan ia alami dan membiarkan Reza yang mungkin di penginapan atau mungkin malah kembali ke Yogya.

Nadia mengusap mukanya dengan kedua tangan, menarik napas panjang dan mengembuskan dengan keras. Duduk di tepi ranjang smabil berpikir. Mengapa aku tidak bisa melakukannya? Bukankah aku sengaja ingin menunjukkan pada Tuhan jika memang Tuhan itu ada? Kenapa aku nggak bisa? Nadia memukul-mukul kasur yang diduduki. Entah apa yang ada dalam otaknya. Rasa capek fisik dan lelah batinnya membuat Nadia tertidur.

Jam setengah delapan, Nadia baru bangun. Nadia kaget karena sadar ini bukan di rumahnya. Nadia segera mandi dan bersyukur kamar tamu ini sudah disediakan berbagai keperluan mandi termasuk handuk, layaknya di hotel berbintang. Setelah selesai Nadia segera keluar. Namun rumah terasa sepi, tidak ada orang sama sekali kecuali suara orang memasak di dapur.

"Eh sudah bangun Bu?" tanya pembantu yang kaget melihat kemunculan Nadia.

"Iya maaf kesiangan Bi, saya capek sekali."

”Tidak apa Bu, wong memang capek. Oh iya, itu kopinya sudah saya sediakan Bu, tapi mungkin sudah agak dingin, biar saya buatin lagi ya Bu," jelas pembantu bernama Bi Ijah itu.

"Nggak usah Bi, itu saja biar saya minum nanti. Kok Bi Ijah tahu kalau pagi saya minum kopi?"

"Mas Adi yang cerita, katanya Ibu kalau pagi selalu ngopi dan merokok. Hehehe..."

Mungkin dirasa aneh bagi orang-orang desa melihat ibu-ibu merokok. Nadia hanya tersenyum.

"Oh ya Bi mereka pada kemana kok sepi?"

"Pada ke sawah Bu, hari ini masih panen kentang. Mas Adi bantuin Ibunya ngawasi di sawah dan Bapak sudah berangkat ke Wonosobo Subuh tadi."

"Minggu-minggu gini, Bi?"

"Bukan kerja kantoran bu, ndak tahu ada urusan apa."

Nadia mengangguk-angguk.

"Ibu mau lihat orang panen kentang tidak? Tadi Mas Adi pesan, jika Ibu pengin tahu saya disuruh antar."

"Boleh Bi, saya belum pernah lihat orang panen kentang." Nadia bersemangat.

"Tunggu sebentar ya Bu, selesai masakan satu ini nanti saya antar."

"Iya nggak papa, Bi. Wah Ibunya Adi juragan kentang ya Bi di sini?"

"Iya Bu, sawahnya luas ditanami macam-macam. Kadang sampai kekurangan tenaga. Mas Adi kan baru saja betah di rumah Bu, biasanya ke mana-mana sampai Ibunya kehilangan akal."

"Kok bisa gitu Bi?"

"Nggak tahu juga Bu. Aneh-aneh saja yang dilakukan Mas Adi."

"Tapi Adi baik itu baik Bi ketika di rumah saya?"

"Kalau oranngnya memang baik, Bu. Tapi kelakuannya suka aneh-aneh."

"Aneh gimana Bi, contohnya?" tanya Nadia.

"Ya itu tadi kerja ikut orang jadi pembantu jadi sopir dan banyaklah pokoknya," jelas Bi Ijah dengan mimik lucu. Mmebuat Nadia kembali tertawa.

"Mari Bu saya antar dulu," ajak Bi Ijah setelah satu masakan tadi sudah matang.

Setalh sampai di sawah, Bi Ijah kembali ke rumah majikannya. Melihat hamparan yang begitu luas yang ditanami aneka sayuran, ada bunga kol yang tumbuh subur menarik perhatian Nadia, karena terlihat seperti bunga. Suasana itu membuat Nadia benar-benar lupa masalah yang dihadapi. Dengan menyusuri tepian batas sawah, Nadia menuju gubuk kecil yang disediakan untuk berteduh.

"Gimana Bu tidurnya semalam? Nyenyak?" tanya Ibu Adi yang sedang mengawasi orang-orang yang sedang bekerja.

"Sangat nyenyak Bu, sampai kesiangan bangunnya."

"Hawa di sini memang dingin Bu, jadi enak untuk tidur.

"Iya, ya Bu. Tanpa perlu AC," jawab Nadia sambil melihat Adi yang membantu para pekerja.

"Adi rajin ya Bu?"

"Walah Bu, saya juga bingung, semenjak berhenti bekerja dari Ibu, Adi jadi rajin di rumah, biasanya Adi itu tidak pernah betah di rumah, biasanya Adi itu tidak pernah betah di rumah. Selalu muter saja kemana-mana cari pengalaman katanya."

"Lha kenapa Bu?"

"Saya sendiri nggak ngerti, semenjak habis sakit, Adi itu malah nggak pernah betah di rumah," ucap ibu Adi. Nadia hanya mengerutkan kening.

"Oh ya Bu, itu Ibu sudah saya persiapkan kentang super untuk dibawa nanti dan paprika khas Dieng Bu. Cabe kayak paprika kecil-kecil tapi pedasnya minta ampun. Kata Adi Ibu suka pedas? Dan putra Ibu suka kentang," kata Ibu Adi dan Nadia seketika ingat Adrian.

Ya ampun pasti Adrian kebingungan tidak ada kabar darinya semenjak handphone-nya low bath sejak kemarin dan Nadia tak berniat menghidupannya dan dibiarkan mati.

"Oh ya Bu, maaf saya banyak ngrepoti, kira-kira jam berapa ya Bu Adi bisa ngantar saya?" tanya NAdia setelah mengingat Adrian.

Entahlah Nadia tiba-tiba merasakan kangen luar biasa terhadap putra tunggalnya itu. Seolah tidak bertemu lama sekali. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 17 Juli 2016



0 Response to "Perempuan Limited Edition (25)"