Perempuan Limited Edition (26) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (26) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:38 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (26)

PERUBAHAN sikap Nadia menjadikan jarak jauh dengan anaknya itu, meski masih dalam satu rumah. Nadia menjadi sedih, dan itu terlihat dari raut mukanya.

"Ibu kenapa?"

"Ngga papa Bu, cuma ingat anak saya saja."

"Putra Ibu itu anaknya baik, sangat sayang dengan ibunya dan tidak neko-neko walaupun semua fasilitas ada, saya banyak tahu ya dari cerita Adi," jelas ibu Adi.

"Alhamdulillah Bu," jawab nadia.

"Mungkin itu juga yang dilihat Adi, sehingga Adi jadi betah di rumah dan mau bantu-bantu kerjaan Ibunya," tambah ibu Adi lagi.

"Saya juga sudah siapkan carica Bu, nanti Ibu juga bisa cobain, enak lho Bu."

"Aduh terimakasih banyak ya Bu, kok malah kayak orang ngrampok saya."

"Ah nggak Bu, itu juga sebagai ucapan terimakasih saya pada Ibu karena telah membuat Adi tidak muter-muter lagi."

Setelah makan siang Adi mengantarkan Nadia dengan membawa setumpuk oleh-oleh.

"Aduh Ibumu ini, aku kayak mau dagang kentang aja dibawain sekarung gitu," ungkap Nadia di mobil dalam perjalanan pulang.

"Nggak papa Bu, kan Mas Adrian suka banget kentang."

"Iya sih tapi nggak harus sebanyak itu, Di."

"Ibu saya tiap bawain tamu ya minim segitu Bu."

"Hah masak? Ibumu baik sekali ya."

"Bu Nadia juga baik kok," jawab Adi sambil tertawa.

Adi merasa ada sedikit perubahan dari mantan bosnya ini yang mau mulai bicara lagi.

"Maaf ya Bu, kenapa sih Ibu mau diajak Pak Reza? Bukankah Ibu tahu kalau Pak Reza itu etiketnya kurang baik, dan tujuannya hanya ingin tidur dengan Ibu?" Pertanyaan Adi membuat Nadia menahan napas.

"Maaf Bu," kata Adi lagi, melihat mantan bosnya langsung terdiam.

"Kamu tahu kan kejadian yang menimpa Ibu? Itu membuat Ibu ingin menentang semua ini, dan ingin tahu apa yang akan terjadi jika Ibu keluar dari konsep hidup Ibu sendiri."

"Ibu, Ibu...."

Adi tertawa. Rasanya snagat lucu mendnegar kata-kata itu.

"Tapi bersyukur Bu. Ibu ternyata tidak bisa melakukannya. Karena Tuhan sangat menyayangi Ibu."

"Apa kamu bilang?" Nadia ingin meyakinkan telinganya.

"Iya.... Tuhan masih sangat sayang Ibu."

"hadeeeeh!" sangkal Nadia.

"Ibu masih meragukan keberadaan-Nya?" tantang Adi. Dan Nadia tak menjawab.

"Ibu sadar tidak jika Tuhan tidak sayang Ibu, Ibu tidak akan dipertemukan dengan saya kemarin. Hal kecil Bu, tapi itu sudah merupakan signal mukjizat Tuhan, Bu."

Nadia merasa tertampar mukanya diingatkan anak kecil. Namun hati kecil Nadia tetap membatu tak menjawab apapun.

"Mukjizat seperti apa yang Ibu inginkan agar Ibu bisa kembali seperti Ibu Nadia yang dulu? Adik Ibu kembali hidup? Sehingga Ibu kembali percaya bahwa Tuhan itu ada?" kata Adi lagi, sudah tidak melihat siapa yang diajak bicara. Nadia masih tetap diam.

"Skenario Tuhan tidak pernah sama dengan skenario kita Bu. Minimal itu yang saya alami," kata Adi dan belum sempat Nadia menanyakan apa yang pernah dialami Adi, mobil mendadak oleng. Nadia pegangan dengan kuat.

"Ya Tuhan ada apa ini?" jerit Nadia.

Adi segera menepikan mobilnya.

"Ibu masih menyebut nama Tuhan."

Adi tersenyum sambil turun dari mobil memeriksa mobil yang ternyata salah satu ban mobil gembos tanpa isi sedikitpun.

"Gembos Bu. Nggak tahu kenapa ini. Harusnya nggak langsung gembos habis begini," terang Adi sambil melihat ban mobilnya. Nadia menarik napas panjang. Ada-ada saja dalam hatinya.

"Ibu turun dulu ya biar saya ganti ban dulu," ujar Adi. Kebetulan tempat berhenti mobil tepat di depan gereja.

"Ibu bisa duduk di situ bu," tunjuk Adi setelah celingukan mencari tempat duduk untuk Nadia selama menunggu. Matanya tertuju kursi dekat parkir motor.

Karena hari Minggu, gereja ada aktivitas. Nadia mengangguk meski ada perasaan risih di hatinya, karena hanya berada di luar gereja.

Nadia tetap tak mau berlarut-larut dan  terbawa dengan kebetulan-kebetulan ini. Hatinya tetap keras.

Selama Adi mengganti ban, Nadia berjalan mencari kamar kecil, dan tanpa disadari  telinganya mendengarkan pembacaan firman.

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu rancangan yang damai sejahteera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."

Nadia menghentikan langkahnya, menelan ludah, menarik napas panjang, memejamkan matanya.

"Ah." Itu yang keluar dari mulut Nadia dan menggelengkan kepalanya dengan keras lalu melanjutkan langkahnya mencari kamar kecil.

Adi yang sudah selesai mengganti ban mobil, menunggu Nadia. Layaknya masih sebagai sopir Nadia, Adi segera menghampiri Nadia.

"Sudah selesai Bu, siap melanjutkan perjalanan," ungkap Adi. Dan Nadia langsung naik mobil.

"Bagaimana Bu?" tanya Adi tiba-tiba.

"Apanya?" Nadia tidak mengerti.

"Ibu tadi saat terkejut masih menyebut nama Tuhan," ucap Adi sambil tersenyum seolah mengejek Nadia.

Nadia tak menjawab, mengalihkan mukanya ke samping. Adi hanya senyum-senyum, seperti ada kemenangan dalam dirinya.

Baru sekitar dua kilometer mobil berjalan, Adi menepikan mobilnya kembali.

"Ada apa lagi?" tanya Nadia karena dirasa mobil tidak ada amsalah dan baik-baik saja.

"Maaf Bu, saya salat dulu. Maghrib waktunya pendek," tegas Adi yang memang menghentikan mobil di depan musala. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 17 Juli 2016



0 Response to "Perempuan Limited Edition (26)"