Perjamuan Hilang Bentuk - Pesan dari Warung Makan - Lakon Buatan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perjamuan Hilang Bentuk - Pesan dari Warung Makan - Lakon Buatan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:44 Rating: 4,5

Perjamuan Hilang Bentuk - Pesan dari Warung Makan - Lakon Buatan

Perjamuan Hilang Bentuk

Begitulah
Meja-meja itu bisu
Kutuk-mengutuk di depanmu

Pada sepiring nasi
dan segelas air putih
segerombolan harapan yang kau semayamkan
tiba-tiba berlarian dari sarang
mengejarmu dengan laju
hingga segala sudut merayumu
untuk takluk

Tetapi
begitulah, meja-meja itu bisu
kutuk-mengutuk di depanmu
dan orang-orang di kota ini
teramat kekal pada garis sendiri
hingga batas telah dituhankan
oleh diam dan kesendirian

Oh virus-virus kurus kering
di akar-akar pertumbuhan ekonomi
racun bagi ikan-ikan kecil
sebelum gemulai di piring. Amboy

Nasi putih dan air putih di depanmu
dikutuk meja-meja
begitulah ia bisu

Sleman, April 2016

Pesan dari Warung Makan

ikan campur
bumbu rempah
dan hei kau kecambah teratai
bergumullah
tidak pada singkatnya musim panen
kau dengar jeritan lengan baju
yang malu-malu pada masa lalu
hingga nyeri di pucuk bisul itu pecah

Sungguh sakitnya berceceran
mengenai apa saja yang bersuara
sampai akhirnya kebisuan pun terpilih
menjadi pemimpin sidang
di jalan dan di mimbar
dengan predikat sangat memuaskan

Oh bumbu rempah
aromamu lidasserupa harga sekarung angka
yang dijual di pasar bebas terbuka
kota-kota menyebutnya ilmu
sedang desa tahu itu kopong

Begitulah
musim itu disuguhi teh dan kacang
hingga erosi enam bulanan
berpasir di tulang kampung halaman

Oh ikan campur di siang bolong
ialah sajian semak belukar
yang genit pada segelas keheningan
JAdi apalah guna gelanggang
Jika nuansa diam dipentaskan
Menyambut panen empat tahunan

Tapi begitulah
riwayat baru itu lahir
serupa piring-piring kotor
yang dibiarkan

Sleman, April 2016

Lakon Buatan

                        :Rohman Digul

Barangkali 

kita lahir sebagai anak ayam
di arena tarung tanpa batas ini
yang sepi tanpa penonton
dimamah musim selagi kencur
dibesarkan hitungan jagung
dan kita manja di leluasa kurung
sebagaimana kering termeung di lembah sumur

Itulah alasan
kenapa kita harus benar-benar mendidik paruh
hingga khatam benar ilmu hitung
dan tahu wilayah untung dan buntung

Hanya saja
kita harus jeli memilah buku-buku
tentang melebarkan sayap,
mengasah cakar atau memerahkan bulu

kelak kita akan diadu bahkan dengan kawan satu kurung
dan kita bebas menyerang dengan mantra dari gunung apa saja
namun sebelah mata terkatup
maka sesungguhnya kita adalah katak
yang kalah pada tempurung

tak ada tokoh lain di tubuh lakon ini
sebab hanya ada dua musim peran: petarung atau patron
dan kelak pada kering paling akut
kedua-duanya mungkin akan saling naif

Sleman, April 2016


Boy Boangmanalu. Mahasiswa Fakultas Geografi UGM Yogyakarta. Mengelola Komunitas Barisan Gerilya Sastra (ARETA) dan Serinai Sastra di Sleman.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Boy Boangmanalu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 17 Juli 2016 

0 Response to "Perjamuan Hilang Bentuk - Pesan dari Warung Makan - Lakon Buatan"