Ramadan Kali Ini | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ramadan Kali Ini Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:45 Rating: 4,5

Ramadan Kali Ini

SEPERTI biasanya, menjelang Lebaran kelima kali ini, Rizki masih saja mengulang kecemasan Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Sebabnya, Syira, gadis yang sangat dicintainya tidak pernah pulang kampung pada lima Lebaran sebelumnya. Pada Lebaran kali ini, Rizki pun harus siap kecewa. Kecewa tidak saja karena Syira yang tidak pulang kek kampung halaman. Kecewa pada janji Syira yang tak pernah ditepati.

"Riz, kau tidak suah cemas. Aku merantau karena menuntut ilmu, kuliah. Jadi saya pasti pulang, paling lama setiap Lebaran tiba. Sebab keluargaku di sini. Saat saya pulang di setiap lebaran itu kita akan bersama," janji Syira sebelum keduanya berpisah.

Sampai lima Lebaran, Syira tetap saja tidak pulang. Awalnya, Rizki menyadari bahwa mungkin Syira sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Tapi saat mendengar kabar dari orangtuanya bahwa Syira sudah tidak mau pulang lagi ke kampung halaman, Rizki jadi kecewa. Kecewa tidak saja karena telah dikecewakan janji Syira, juga penasaran dengan kenyataan yang sedang dihadapi Syira. Sampai lima Lebaran tidak mau pulang ke kampung halaman, sekadar menengok kedua orangtuanya.

"Selama itulah orang kuliah? Sesibuk itulah orang kuliah? Sampai menengok kedua orangtuanya saja tidka bisa?" kata hati Rizki saat melihat bingkai foto kekasihnya itu. "Terus bagaimana denganku. Lima Lebaran tidak bertemu. Tanpa kabar pun, pastilah kau sduah melupakanku. Tapi, kenapa aku tidak bisa melupakanmu?"

"Riz, sudahlah lupakan, Syira. Dia anak kuliahan yang pasti sudah melupakanmu. Dia sudah jadi anak kota yang hidup dan pergaulannya bebas. Jadi sudah saatnya kau membuka hati untuk orang lain. Dan yang lebih penting lagi, Riz, Ayah dan Ibu sudah tua. Ayah dan Ibu ingin melihatmu bersanding..." kata Ibu Rizki.

"Ibu...."

Rizki bergegas meninggalkan ibunya. Rizki keluar rumah. Ibunya hanya melepas dengan tatapan mata sedih. Air matanya berurai. Ia tidak tega melihat anak semata wayangnya yang selalu bersedih saat menjelang Lebaran. Lebaran yang kayanya selalu memunculkan harapan untuk isa bertemu dengan kekasihnya, Syira.

"Rizki, kamu mau ke mana?" teriak ibu. 

Rizki hanya diam. Ia melangkah pergi. Menuju sungai dekat rumahnya. Sungai yang telah mengantarkan pertemuan dan perpisahan dengan Syira. Di tepi sungai yang rindang dan indah itu, Rizki dalam keadaan sedih menghabiskan waktu berlama-lama, melamun di situ. Sampai buka puasa dimulai.

***
Di sungai itu, sore hari, Rizki duduk di bebatuan yang menyimpan kenangan dirinya dengan Syira. Sayup-sayup terdengar suara takbir berkumandang. Suara takbir yang membuat Rizki semakin pilu. Kekasih yang sangat dicintainya tidak kunjung pulang. Rizki menarik napas panjang. Rizki semakin putus asa.

"Riz...." Suara lembut Prita tidak mampu membuyarkan lamunan Rizki.

Prita menyentuh pundak, "Rizki..."

Rizki tersadar. Ia menatap lekat wajah Prita, "Syira, kamu datang menemuiku?"

"Aku Prita, Riz."

"Syira...."

"Aku Prita, Riz. Sadarilah."

Rizki tersadar saat tangan Prita memegang wajah Rizki.

"Maafkan aku, Prita.

Prita tersenyum mencoba memahami perasaan Rizki.

"Ayo, kita pulang, Riz. Aku akan menemanimu. Sebentar lagi buka puasa dan malam Lebaran. Kau harus bergembira menyambut Lebaran kali ini. Sekalipun tanpa kepulangan Syira."

Rizki hanya terdiam. Keduanya kemudian melangkah pulang. Di tengah-tengah perjalanan, sayup-sayup terdengar suara yang membuat hati Rizki bergetar.

"Rizki..."

Rizki sangat kenal dengan suara itu. Itu suara Syira. Sumbernya dari sebuah angkot yang melintas di jalan raya. Sebuah lambaian dari tangan mungil yang sangat dikenalnya membuat Rizki berhenti detak jantungnya. Bibirnya yang selama ini banyak diamnya mendadak bergumam riang, "Syira?"

"Iya, Riz, itu Syira. Syira pulang Lebaran kali ini."

"Syira...." teriak Rizki lantang.

Rizki bergegas berlari kencang pulang ke rumah meninggalkan Prita. Prita hanya menarik napas panjang. Napas sakit hati yang mendadak mengobrak-abrik perasaannya. Tidak dapat dipungkiri, Prita cemburu atas kepulangan Syira. Prita tidak ingin Syira pulang. Tersebab, Prita sangat mencintai Rizki. Bahkan, kedua orangtuanya sudah menyepakati menjodohkan keduanya Lebaran kali ini.

Tapi smeuanya speertinya akan sia-sia belaka. Sebab, kepulangan Syira pada Lebaran kali ini akan membuat rencananya dan keluarganya berantakan. Rizki akan memilih Syira daripada dirinya. Kehancuran perasaan Prita sudah di depan mata. Prita pun melangkah pulang dengan gontai. Rasanya dunia sudah dekat dalam kehancuran.

Prita menangis terisak-isak dalam setiap langkahnya.

***
MALAM hari, saat takbir berkumandang di segala penjuru desa, Rizki sudah berdandan rapi. Masih teringat dengan perkataan Syira  sebelum meninggalkannya pergi. "Jika aku pulang, kita akan bertemu pertama kali di taman desa yang indah itu."

Bergegas Rizki menuju tempat itu. Kepergian Rizki menimbulkan rasa sedih ibunya. Ia mendadak etringat dengan Prita. Perempuan yang mengutarakan rasa cintanya pada Rizki kepada ibu.

Sesampainya di taman desa itu, Rizki segera duduk di bangku kosong taman. Tatapan matanya memutari penjuru taman. Berharap Syira datang dari sudut taman itu dengan senyumnya yang indah. Namun, yang tampak terlihat jelas hanyalah anak-anak kecil yang sedang bermain.

"Kak Rizk...." seru seorang anka kecil yang menghampiri.

"Oh, ya. Nak, ada apa?" tanya Rizki.

"Saya disuruh Ibu untuk kenalan sama Kak Rizki."

"Siapa namamu, Nak?"

"Namaku, Syifa."

"Kamu dari mana? Sepertinya kamu bukan anak desa ini."

"Betul Kak, saya dari Jakarta. Tapi, Ibuku dari sini."

"Siapa Ibumu, Nak?"

"Bunda Syira."

Mendadak tubuh Rizki lemas. Tak ada perkataan yang bisa keluar dari mulutnya. Dadanya terasa sesak. Rizki hanya mampu menatap lekat-lekat anak usia empat tiga tahunan yang berdiri di hadapannya. Rizki pun mengakui bahwa anak itu mirip sekali wajahnya dengan ibunya.

"Nak, sampaikan maaf Kakak sama Ibu, ya?"

"Maaf buat apa, Kak?"

"Maaf karena telah menunggu selama lima kali Lebaran."

"Siap, kakak."

Anak itu bergegas berlari. Rizki pun bergegas pulang. Sekarang ia harus menyadari bahwa penantian panjang lima Lebaran sia-sia. Di sudut kamarnya, Rizki bersimpuh di atas sajadah. Mulutnya perlahan-lahan mengucapkan takbir. Hatinya hancur, Rizki pun memohon ampun atas segala khilafnya pada Allah.

Dian Wahyu Sri Lestari, Sokaraja Tengah RT 01 RW 04 Sokaraja banyumas.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Wahyu Sri Lestari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 3 Juli 2016

0 Response to "Ramadan Kali Ini"