Salah Alamat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Salah Alamat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:00 Rating: 4,5

Salah Alamat

TOM, bisa nggak kamu ke rumahku?” tanya Lusi, cewek tercantik di kelasku kepada Tomi. 

“Ooo … bisa-bisa,” jawab Tomi dengan rasa deg-degan. Jantungnya seakan mau copot karena cewek yang ia sukai mengajaknya untuk ke rumahnya. Keringat panas mengalir dari wajah Tomi bak air terjun, membasahi gagang telepon. 

“Oke! Aku tunggu jam 19.00, jangan lupa ya?!” kata Lusi dengan muka mesra dan lembut.

“Ya … ya … oke,” balas Tomi.

Tomi menjerit keras sekali lalu menari-nari kayak orang gila. Tentu saja Tomi girang, setelah sekian lama pe-de-ka-te sama tuh cewek, baru kali ini Lusi bereaksi. Emang sih, ini bukan panggilan untuk kencang, tapi Lusi mau ngajak Tomi untuk datang ke rumahnya kan udah luar biasa banget tuh ….

Namun dasar Tomi pemalu, dia takut dan malu kalo pergi sendirian. Takut kalo nanti nggak bisa ngomong, takut gugup dan bikin kencan pertamanya terasa hambar. Oleh karena itu, dengan amat terpaksa gue nemenin dia. Gue kira bakalan jadi obat nyamuknya Tomi, eeh … nggak tahunya Tomi yang jadi obat nyamuknya. Dia hanya diam seribu bahasa, membisu, muka merah dan keringat yang terus membasahi mukanya. Gue sih cuek aja ngomong-ngomong sama tuh cewek.

Ternyata Lusi oke juga diajak ngobrol. Orangnya asyik dan rada gila, cantik lagi, wah … cool deh. Gue dan Lusi terus ngobrol panjang lebar sementara Tomi manyun terus di pojokan. 

Sudah berulang kali gur ngasih kesempatan Tomi untuk ngajak Lusi bicara. Tapi dianya diam saja, hanya sebatas memberi senyuman gugupnya yang terasa hambar. Akhirnya waktulah yang menghembuskan kami berdua untuk pulang dari rumah Lusi. 

Dan kami pun pamit untuk pulang. Gue pikir Tomi pasti marah padaku, soalnya dari tadi gue yang bicara sama Lusi. Eee … nggak tahunya ia malah ngucapin thanks berkali-kali.

“Thanks ya Win, kau emang satu-satunya sahabatku. Entah apa yang akan terjadi kalo nggak ada kamu tadi. Pasti deh situasinya kayak kuburan,” kata Tomi.

“Sudah … sudah … gue kan cuma membantu. Elunya sih bodoh amat. Ngomong aja pake malu-malu segala, keringetan lagi. Payah lu …!”

“Ya … aku kan gugup banget. Abis Lusi itu kan cewek idamanku.”

“Iya …! Terus kalo idaman elu kenapa? Jadi bisu, gitu?”

“Udah ah … eh tadinya ia kelihatan happy banget lho,” kata Tomi dengan wajah polos dan tololnya. 

“Yaah … itu kan berkat gue,” jawabku dengan bangganya sambil kulirikkan mataku, memberi isyarat minta upeti.

“Iya … iya … pasti minta traktir kan?” kata Tomi yang ternyata tahu juga isi hatiku.

“Kok tahu sih?” kataku merayunya.

“Uuh … dasar!”

Keesokan harinya, Tomi mentraktirku makan sepuasnya.

“Waah … thanks ya sobat, enak deh,” kataku padanya.

“Iyaa … pokoknya semua yang berbau gratis itu pasti enak!” balas Tomi.

“Yaak … betul,” jawabku.

“Mau nggak kamu nolongin aku sekali lagi Win?” kata Tomi dengan wajah memelas penuh harap.

“Yaah … mulai lagi deh.”

“Kali ini aja, please,” desaknya dengan penuh memelas.

“Oke deh …. Apa?”

“Tolong kasihkan surat ini pada Lusi,” kata Tomi.

“Haah … surat cinta!” jawabku kaget.

“Yap … itu ungkapan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Oh ya, masukin aja nih surat ke dalam kotak surat di depan rumahnya, dan ingat … jangan sampai dia tahu!” tegas Tomi.

“Haaah … jangan sampai dia tahu?” kataku penasaran. 

“Iyaa … pokoknya turuti aja perintahku. Kamu tinggal masukin aja nih surat dan pulang dengan aman. Oke …!”

Dengan perasaan ragu, aneh, penuh tanda tangan, terpaksa gue ikutin semua perintah Tomi, soalnya dia janji ngasih gue 5 batang coklat Delfi.

Sesampainya di depan rumah Lusi, gue mastiin kalo nggak ada seorang pun di luar. Dengan gerak kilat, gue masukin surat tutupin Tomi ke dalam kotak surat. Kupastikan sekali lagi kalo kagak ada seorang pun di rumah yang gede itu. Kubalikkan badanku untuk siap berlari secepat kilat, namun betapa sialnya diriku, di depanku berdiri seorang wanita yang bertubuh seksi dengan senyumannya yang menggugah hati. 

“Lho, Edwin! Ngapain kamu di sini?”

“Ooo … nggak ada apa-apa kok, aku cuma lewat aja, he … he … he.”

“Surat apaan yang kamu masukin itu?” tanya Lusi dengan polosnya.

Gunung berapi itu akhirnya meletus juga dalam jantungku. Abis udah! Gagal deh rencana gue. Gimana harus tanggung jawab sama Tomi.

“Untukku ya?” tanya Lusi sekali lagi sambil membuka kotak surat, mengambil surat itu dan membuka serta membacanya. 

Aduh …! Abis sudah riwayatku. Aku tahu pasti Tomi menulis yang tidak-tidak. Kulihat pipiya semakin memerah dan nampak semakin cantik. Cantik seperti bidadari yang turun dari kahyangan. 

“Sungguhkah apa yang tertulis ini benar?” tanya Lusi padaku dengan muka yang memerah dan penuh harap akan kepastian surat itu.

Tentu aja gue jawab iya, soalnya itu kan benar-benar keluar dari isi hati Tomi. Tapi Lusi salah paham, ia mengira kalo gue yang nulis tuh surat. Dasar Tomi yang bodoh, ia menulis surat cinta tapi lupa nulis namanya, sehingga Lusi ngira gue yang nulis tuh surat. Soalnya gue yang ketangkep basah masukin tuh surat ke kotak suratnya.

“Itu … itu sebenarnya …” belum sempat kujelaskan. 

“Baiklah …” kata Lusi.

“Hah! Baiklah apa?” tanyaku.

“Aku terima cintamu, tahu nggak waktu pertama kali ketemu kamu, aku udah jatuh cinta sama kamu,” kata Lusi mengaku dengan tersipu malu.

Alamaak .. salah alamat. Haruskah gue jelasin semua ini. Ternyata Lusi cinta sama gue. “Wanita tercantik di kelasku mencintaiku,” kata hatiku penasaran.

Udah ah, kesempatan yang langka ini terpaksa aku terima daripada nanti Tomi patah hati.

Oke deh … biarin aja Tomi yang tolol itu, nanti kan dia juga tahu dan akan memaafkanku. Soalnya dia sih selalu tergantung sama gue dan satu-satunya teman Tomi kan cuma gue. Pasti ia akan mau mengerti dan lagi pula ia kan masih belum bisa memahami hati seorang wanita. Belum saatnya ia pacaran. 

Maka aku pun menjawab tanpa ragu, “Thanks Lusi … I love you ….”***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Andjas Asdrianto S.
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Gadis" edisi 29 Januari – 7 Februari 2002

0 Response to "Salah Alamat"