Salma Rindu Sumba | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Salma Rindu Sumba Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:55 Rating: 4,5

Salma Rindu Sumba

Seumur hidupnya, baru dua kali Salma menginjakkan kakinya ke luar negeri. Satu kali ke Siargao, di Filipina, mendampingi suaminya, Dirk Jarred mengikuti turnamen surfing sedunia. Lantas satu lagi, berkunjung ke tempat kelahiran pria yang menikahinya saat ia baru berusia 17 tahun itu. Sebuah negeri dekat lingkaran kutub utara.

Saat itu sekitar Natal, bunga-bunga es berguguran di mana-mana, membentuk tumpukan salju hampir setinggi lutut, dan para pria keluarga Jarred beramai-ramai membersihkan jalan depan rumah dengan sekop. Sementara kaum perempuan, menemani Salma menghangatkan diri di depan perapian. Salma mengerudungkan lau*, yang ia kenakan saat pernikahan dengan Dirk. Hasil tenunannya sendiri, yang ia buat setelah menyelesaikan hinggi** sebagai balasan atas lamaran Dirk yang membawa mas kawin empat ekor kuda.

“Mungkin tempat dia memang bukan di sini,” komentar Dirk saat kembali masuk rumah dan mendapati wajah pucat Salma, yang berusia lebih muda 15 tahun darinya. “Besok kita pulang ke Sumba.”

Sejak itu, suaminya selalu terbang sendiri bila mesti pulang untuk mengurus paspor. Selagi Dirk jauh darinya, Salma menyibukkan diri mengurus ternak, usaha tenun ikat, dan empat bungalow di samping rumah. Tempat tinggal mereka berjarak sekitar tiga jam dari Waingapu, terletak di bibir teluk, yang di bulan Juni sampai September menciptakan gelombang tinggi, membentuk terowongan berdinding muda kehijauan. 

Mereka berdua tak sengaja menemukan tempat itu, saat berbulan madu keliling Sumba dengan sepeda motor. Mulai jalanan berdebu dan tebing batu, padang sabana, kubur batu, menhir sampai una mbatangu*** membuat Dirk terpesona. Begitu pula pantai-pantainya, seperti Kallala, Tarimbang dan Wanokaka. Tetapi paling disukai Dirk adalah pantai ini, yang ia namai “Teluk Tanpa Nama”. Karena ia bisa berselancar sepuasnya. Melebur diri dan papan selancarnya kepada bukit-bukit dan lembah bentukan laut dan angin.

“Sebagai orang asing, saya tidak dapat membeli tanah ini, Salma,” kata Dirk. “Tetapi kita dapat menyewanya untuk tinggal dan membuka usaha. Kelak, semuanya akan menjadi milikmu, dan saya berjanji, tidak akan memisahkanmu dari tanah Sumba.”

***
Salma bertemu Dirk saat ia dan Oreanda, sahabatnya sejak kecil, tengah menonton kejuaraan surfing di Jimbaran, Bali. Kedua gadis belia ini meninggalkan tanah Sumba karena ingin bekerja. Saat itu Salma mengenakan lau--karena ia rindu tanah Sumba--dan blouse warna gading. Rambut ikalnya tergerai. Di mata Dirk, sosok Salma bagai seorang dewi klasik yang menyeruak di antara bikini, rashie--busaha surfer dari nylon atau spandex--dan papan selancar.

Dirk berterus-terang mengagumi kain panjang Salma. Gadis itu menjelaskan, lau adalah bagian dari tradisinya di tanah Sumba. “Apakah lau dan hinggi dikenal dalam upacara pernikahan?” tanya Dirk. Salma mengangguk, “Lelaki Sumba melamar bakal istri dengan emas dan ternak, sedang pihak perempuan membalasnya dengan kain tenun.

Dirk adalah seorang surfer kelas dunia. Uang hadiah dari kompetisi ia jadikan modal untuk travelling mencari tempat-tempat selancar yang belum pernah ia datangi. Saat bertemu Salma, Dirk sudah menjelajahi Asia Tenggara sekitar dua tahun. Tahun pertama di Baler dan Siargao, Filipina, lalu tahun kedua di Nias, Cimaja, Pangandaran, serta Bali. Mendengar Salma mengucapkan “Sumba”, Dirk tergerak untuk merasakan sensasi ombak di sana. Sekaligus angan-angan menikahi Salma.

***
Sepuluh tahun menikah, Salma mendengar banyak hal tentang Dirk dari tamu-tamunya yang menginap di bungalow mereka. Suaminya adalah seorang kampiun di eranya, menunggang ombak dari satu pantai ke pantai lain. Tidak pernah tinggal lama di satu negara. Karena itu mereka takjub, saat mendapati Dirk bermukim di Sumba dan mundur dari kompetisi dunia. Dirk menanggapi mereka, “Era saya sudah berlalu, surfing bagi saya kini kesenangan semata.”

Setelah tidak lagi menjadi surfer dunia, Dirk melarut dalam keseharian warga Sumba. Tekun mengurus ternak, menunggui orang mendiris nira--bahkan ingin ikut memanjat, sampai-sampai Salma harus mengingatkan usia Dirk--dan mengobrol dengan penenun yang bekerja di teras rumah. Bila terdengar seloroh pekerja mereka menyebut “bapak kulit putih”, Dirk selalu menyahut, “ini salah kulit saja!” disambung tawa renyah.

Salma telah melupakan sensasi bunga-bunga salju yang begitu lama tidak ia lihat di tanah air Dirk, ketika mereka kedatangan tamu, pasangan muda Mikhail Yurtayev dan Padma Ayuningdyah. Keduanya bukan surfer, tetapi pelancong yang berboncengan naik sepeda motor keliling Nusa Tenggara--mengingatkan Salma pada bulan madunya sendiri.

Ia tengah menyiapkan salad--yang dahulu diajarkan Dirk saat mulai membuka bungalow: potongan-potongan avokad, tomat, robekan selada, dan udang rebus dicampur mayonnaise--saat Padma datang ke dapur, dan keduanya terlibat percakapan hangat.

Padma adalah kelahiran Surabaya yang dibesarkan di Kiev, Ukraina. ”Saya justru belajar banyak tentang Indonesia dari Mikhail,” ceritanya. “Ia tidak dilahirkan di negara ini, tetapi katanya: tinggal di mana pun tak menjadi soal, yang penting hati kita. Di mana kita merasa cocok, di situlah rumah kita.”

Sementara antara Dirk dan Mikhail juga terjalin kedekatan yang membuat Salma terharu. Karena mereka tidak memiliki anak, kedatangan Padma serta suaminya tak ubahnya semacam penghiburan. Dirk mengajari teknik dasar berselancar kepada Mikhail, dengan papan selancar kesayangannya. Uniknya, Mikhail punya kemiripan dengan Dirk, setiap kali dijuluki “kulit putih” ia akan berkomentar “ini salah kulit saja!”

***
Beberapa bulan setelah Mikhail dan Padma berlalu, Dirk sakit keras. Salma membawanya berobat ke Waingapu, lalu dirujuk ke Denpasar. Di sanalah mereka mendengar Dirk divonis kanker stadium lanjut. 

“Aku tahu hal ini akan terjadi, Salma,” ucap Dirk. “Kalau ada kesalahan paling besar yang pernah kulakukan kepadamu, inilah: aku tak pernah mengakui mengidap kanker. Itu sebabnya, aku tak pernah menetap di satu tempat, karena ingin melihat banyak sebelum mati. Sumba menjadi rumahku, dan kau berasal dari sini.”

Di pangkuan Salma, Dirk mengembuskan napas terakhir. Ia berselimutkan hinggi yang ditenun Salma dan dikenakan pada hari pernikahan mereka. Salma bertahan untuk tidak mencucurkan air mata. Angin pagi bertiup menyapa pantai, bau segar laut pun mengantar tidur abadi Dirk, yang selalu berada di sisi Salma selama dua puluh tahun.

***
Pada akhirnya, kau mesti memutuskan untuk tinggal atau pergi. Bukan kepada tujuan atau tempat, tetapi rumah buat hatimu, Salma membaca surat yang ditulis Dirk. Lembaran itu baru ia buka sekian hari setelah suaminya dimakamkan--di sebuah bukit kecil dirimbuni pepohonan lontar dekat rumah mereka.

Bersama surat itu, terdapat beberapa lembar cek berjumlah cukup fantastis, dan surat pengantar membuat identitas baru di negara Dirk. Tetapi apakah semua ini perlu, tanyanya dalam hati. Ia melipat lembaran surat dan menaruhnya bersama kertas berharga tadi di kotak kayu berukir kuda. Salma termangu: kalau ia pergi, bagaimana kelak bila ia merindukan Sumba? Karena Salma tahu, sejatinya rasa rindu itu tidak pernah hilang. Dirk menjadi “rumahnya” selama ini. ***

Catatan:
* = kain tenun ikat Sumba untuk perempuan
** = kain tenun ikat Sumba untuk lelaki
*** = rumah tradisional dengan menara dari ilalang


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ukirsari
[2] Telah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1480/XXIX 4 - 10 Juli 2016

1 Response to "Salma Rindu Sumba"

FKA Yarsi said...

Abstraksi , orientasi , komplikasi , evalusi ,resolusi sama koda di paragraf yang mana