Sebuah Tanya Orang Pinggiran - Kembalikan - Semangkok Kopi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebuah Tanya Orang Pinggiran - Kembalikan - Semangkok Kopi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:36 Rating: 4,5

Sebuah Tanya Orang Pinggiran - Kembalikan - Semangkok Kopi

Sebuah Tanya Orang Pinggiran

Kemana aku pulang
Jika kota ku berwajah kelam tanpa cahaya dan bulan
Sedangkan hanya kota yang memberikan ku hidangan
Dari pagi, siang, sampai malam

Kemana aku pulang
Setelah kota ku di tinggal tuan-puan
Tuan-puan yang memberi banyak harapan

Kemana aku pulang
Jika doa-doaku hilang ditengah peradaban
Tanpa dikasihani

Tak salah jika aku pergi ke kota orang
Sebab kota ku hanya menjadi lapangan catur
Janji tuan-puan tak perlu di catat
Janji yang hanyalah pantat saat mengeluarkan angin
yang baunya menyeruap

Tak usah tertawa jka kau membaca puisi ini
Sebab itu bukanlah hal yang aneh terjadi di kota ku
Tertawalah jika banyak orang yang ingin singgah ke
kota orang
Sedangkan tuan-puan kita melarangnya
Sebab di kota ku penuh kecamuk dan dilupakan tuan
puan

Yogyakarta, 2016 


Kembalikan

: kepada Tuan-Puan

Kembalikan kelaparanku
Kelaparan tanpa membenci satu sama lain

Kembalikan rasa hausku
Saat meminum susu

Kembalikan kekenyanganku
Kekenyanyan yang ku selesaikan bersama roti bakar
dan ayam kampung

Kembalikan segalanya
Sebab lebih baik lapar tanpa menyakiti satu sama lain
Haus meminum air keruh
Kenyang dari peluh sendiri

Yogyakarta, 2016


Semangkok Kopi

: kepada Yuditeha

Dari perikan gitarmu, malam bernyanyi sambil mem
baca puisi
Tanpa koma, titk, dan paragraf ‘puisi yang bukan ilusi’
Nafasnya terputus pada kecamuk kota yang tak ingin
ditiduri bidadari

Petikan gitarmu pun berbisik pada anak kecil yang
mengamen dijalan
Mereka lupa pada jalan pulang, meratapi kesedihan
tanpa pangkuan
Sedangkan para pengemudi acuh untuk sekedar mem
beri uang recehan

adakah hari ini ‘Semangkok Kopi’ yang menemanimu
bernyanyi dengan puisi ..?
untuk sekedar melupakan kecamuk kota
Kecamuk yang dicipta tuan-puan sebelum lupa jalan
pulang

Akhirnya kau mengerti semua kehidupan yang omong
kosong
Seperti kemarahan yang kau tulis dalam puisimu

Puisi yang melihat kota tanpa nyawa, bersedih dipojok
pasar
Bau yang menyengat membuat kita malas bernalar
Hingga jalan keluar yang kita inginkan tak kunjung
ditemukan

Minumlah semangkok kopi itu
Secangkir kopi tidaklah cukup menunggu tuan-puan
kita untuk ingat jalan pulang
Sampai kota tak lagi berkecamuk pada mereka yang
kelaparan di jalan

Yogyakarta, 2016 

*) Rudi Santoso, lahir 30 November 1993 di Sumenep Madura. Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Salah satu pendiri Komunitas Seni dan Sastra Blangkon Art Jogja. Buku antologi puisinya Sajak Kita (2015), Secangkir Kopi (2014) dan Surat untuk Kawanan Berdasi (2016), antologi cerpen muda Indonesia (Gema Media 2015) dan beberapa puisinya telah terbit

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rudi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 24 Juli 2016

0 Response to "Sebuah Tanya Orang Pinggiran - Kembalikan - Semangkok Kopi"