Si Buntung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Si Buntung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:00 Rating: 4,5

Si Buntung

MASIH lekat benar dalam benakku kejadian 58 tahun silam. Kala itu, aku masih berusia 4 tahun. Gadingku belum tumbuh sama sekali. Aku, ibuku, 4 ekor bibiku, serta 3 ekor sepupuku sedang bermandi ria di lubuk besar tatkala sekumpulan makhluk besi mendekat. Mereka memiliki ukuran tubuh yang besar... lebih besar daripada tubuh ibuku. Setiap mereka melintasi suatu tempat, tanah yang sbeelumnya bergujul menjadi rata. Sebagai pimpinan kelompok, ibuku mengajak kami untuk masuk ke dalam hutan. Raungan makhluk-makhluk tersebut sangat asing bagi kami, menakutkan!
AKU sedang bercerita tentang negeriku, Duri namanya. Kalian tidak tahu? Cobalah ketik "Kota DUri" di teknologi yang bernama Google. Kalian akan berandai-andai dibuatnya. Jangan-jangan, bensin yang mengisi sepeda motor kalian sebelumnya berasal dari perut negeri ini. Jangan-jangan, bensin atau solar yang dionsumsi monil pribadi kalian berasal dari negeri ini. Jangan-jangan, solar yang memenuhi lambung kapal yang membawa kalian melintasi lautan berasal dari negeri ini. Jangan-jangan avtur yang diminum pesawat terbang yang kalian tumpangi untuk berjalan jauh juga aberasal dari perut negeri ini. Akh, lancang sekali aku menggurui kalian dengan informasi-informasi yang seharusnya lebih kalian ketahui dibandingkan aku. Saat ini, aku adalah gajah...aku seekor gajah!

Setiap kali makhluk besi--yang kuceritakan tadi-- mendekat, kelompok kami selalu menghindar. Lima tahun berlalu sejak kedatangan rombongan pertama makhluk besi tersebut, semakin banyak saja makhluk besi yang kami jumpai. Padahal, sebelumnya, Duri begitu sepi. Lubuk yang sebelumnya menjadi tempat kami mandi telah raib, berganti menjadi jalan tanah. Dulu, kami masih pernah berserobok dengan kumpulan harimau, tapi kita tak pernah lagi,

Di beberapa tempat, kami menemukan bangau besi raksasa yang selalu mematuki tempat yang sama. Setiap kali paruhnya diangkat, ia membawa cairan pekat berwarna hitam yang kemudian diteruskan ke dalam selang besi. Entahlah, aku tidak tahu akan dikumpulkan ke mana cairan hitam itu.

Manusia semakin berbondong-bondong mendatangi Duri. Berbagai logat dan bahasa memenuhi percakapan mereka. Keadaan semakin memburuk ketika sekumpulan manusia menebang hutan di pinggiran Duri hingga gundul..segundul-gundulnya. Hutan yang telah gundul tersebut ditanami satu jenis pohon tertentu. Belakangan, aku tahu bahwa manusia menamainya pohon akasia. Konon, menurut pengamatan teman-temanku, mereka mengolahnya menjadi kertas, satu jenis barang baru.

**
KETIKA terjadi pengubahan varietas hutan yang dilakukan oleh manusia, aku berusia 28 tahun. Aku baru saja memisahkan diri dari rombongan ibuku. sudah menjadi tradisi dalam kehidupan gajah, pejantan akan memisahkan diri dari kelompok gajah betina dan gajah kecil. Aku bertemu dengan Oek dan Eok, pejantan muda yang seusia denganku. Aku lebih kuat daripada mereka. Oleh karena itu, aku memimpin kelompok kecil kami. Berteman dengan mereka sangat menyenangkan. Bermain semprot-semprotan air adalah favorit kami, meskipun, saat ini, semakin sulit mencari lubuk tempat kami bermandi ria.

Sejak kedatangan makhluk besi, 24 tahun yang lalu, ruang gerak kami semakin menyempit. Untungnya, makanan untuk kami masih cukup tersedia. Oleh karena itu, kami hanya perlu menyingkir ketika bertemu dengan manusia ataupun makhluk besi. 

Empat tahun kemudian, manusia semakin beringas saja. Mereka mulai berani mengganggu kehidupan kami. Mereka mengatur semua aspek kehidupan kami. Temanku Eok ditangkap oleh manusia. Ia dan beberapa gajah lain dikurung di sebuah tempat khusus. Menurut Pikiciut, burung kuntul yang sering hinggap di badanku, di tempat tersebut, Eok diperintah untuk melakukan gerakan-gerakan yang tak lazim dilakukan oleh seekor gajah. Gajah macam apa yang berdiri dengan dua kaki, coba?

Empat tahun kemudian, kehidupan kami para gajah semakin sengsara. Keadaan ini tidak pernah kubayangkan sebelumnya, bahkan dalam mimpi sekalipun. Sekelompok manusia datang dari utara Duri. Mereka membawa sebuah tanaman yang bernama kelapa sawit. Hutan digunduli habis-habisan dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan dengan delapan tahun sebelumnya. Caranya pun lebih keparat. Mereka membakari hutan. Temanku Oek mati terpanggang api. Aku marah! Aku mengejar manusia yang membakar rumah kami. Manusia tersebut masuk ke dalam makhluk besi. Aku tidak peduli, kuseruduk saja mereka sekalian. Makhluk besi itu terbalik, kuinjak mereka hingga penyek sekalian. Ternyata makhluk besi itu tak sekuat yang kubayangakn sebelumnya. Tapi, sayang, ketika aku menyeruduk makhluk besi tadi, gadingku patah. Sejak saat itu, aku dipanggil "Si Buntung," oleh manusia dan gajah lainnya.

**
AKU adalah gajah terpintar di negeri ini. Ya, di Duri, aku lah gajah terpintar dan tertua. Gajah-gajah lain hormat kepadaku. Manusia? Mereka takut kepadaku. Manusia ini makhluk licik. Aku sering disuguhi jebakan oleh mereka. pagar listrik, racun, ranjau, hingga bunyian-bunyian aneh di bawah 20 hertz yang mereka rancang untuk memekakkan telingaku.

Semua jebakan itu berhasil kuhindari. Yang paling emmbahayakan nyawaku sebenarnya adalah sepucuk bedil khusus yang mampu menembus tengkorakku. Tetapi, jika menghadapi manusia seperti ini, aku akan menumbangkan pohon-pohon di sekitarku untuk mengganggu konsentrasi mereka. Pada jarak yang memungkinkan, kulibas mereka dengan belalaiku. Lalu kuinjak sampai lumer tubuh mereka. Jangan macam-macam kepada si buntung!

Saat ini, usiaku telah menginjak 62 tahun. Gajah tua yang tengah menuju ajal. Bis ahidup setua ini, kupikir merupakan sebuah prestasi. Aku berkelana seorang diri. Aku hidup dalam keadaan lapar berkepanjangan. Manusia telah menyulap hutan yang menjadi penyedia makanan kami menjadi sebuah perkebunan.

Tapi, aku tidak pernah kehabisan akal. Ternyata kelapa sawit yang mereka tanam memiliki bagian yang lezat. Umbut kelapa sawit usia dua tahun adalah makanan favorit kami, para gajah. Lebih dari dua tahun, umbut itu sudah tidak enak lagi. Itulah yang menjadi pengganjal perutku selama ini. Tetapi, aku harus berhati-hati sebelum makan. Beberapa dari mereka biasanya membubuhkan racun pada batang kelapa sawit muda. Kalau itu termakan, tamatlah riwayatku.

**
LIMA puluh delapan tahun semenjak kedatangan manusia ke negeri ini, kesulitan yang kami alami bagaikan grafik eksponensial. Semakin bertambahnya tahun, semakin menjulang tinggi tingkat kesulitan kami. Entah, pada tahun ke 'n,' mungkin harapan hidup kami, para gajah akan bernilai nol. Ya, nol! Karena tingkat kesulitan kami telah bernilai tak hingga.***

Muhammad Taufik, tinggal di Bandung

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Taufik
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 17 Juli 2016


1 Response to "Si Buntung"

seno hataru said...

seperti reportase saja. tak ada konfliknya.