Something Stupid | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Something Stupid Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:44 Rating: 4,5

Something Stupid

“Wow, warna lipstiknya keren deh! Besok aku pinjam ya?” kata Milla sambil memegang lipstik glossy berwarna merah bata milik Sara.

“Terserah, eh aku benar-benar nggak nyangka kalau Wina ngundang kita ke ultahnya, kita kan udah lama nggak keep in touch sama dia.”

“It’s gonna be a mad party!” seru Milla sambil mengikuti gaya bicara Wina yang cerewet. Keduanya tertawa.

Wina adalah sahabat Milla dan Sara sewaktu SMP, tetapi ketika lulus ketiganya bersekolah di sekolah yang berbeda. Walau begitu Milla dan Sara tetap sering bertemu, karena rumah mereka berdekatan. Sedangkan Wina tampaknya sudah memiliki teman-teman baru di sekolahnya, oleh sebab itu mereka tidak pernah berhubungan lagi. Tetapi beberapa hari lalu Wina datang ke rumah Milla dan Sara untuk memberikan undangan ulang tahunnya ke-17. Undangan itu dianggap Milla dan Sara sebagai suatu ‘reuni’ sekaligus ajang pamer. 

“Gimana soal mobil, boleh nggak?”

“Nggak tahu tuh Mil, aku sih udah coba ngambil perhatian bokap dengan nyuciin mobilnya kemarin sore. Mudah-mudahan dia tergerak untuk minjemin mobilnya, aku kan selalu bersikap baik di rumah,” jawab Sara.

“We’ll be lookin’ flashy in your Mercedes Benz,” Milla memplesetkan lagu Get the Party Started-nya Pink. 

Keesokan harinya Milla sampai di rumah Sara pukul 14.00 WIB, mereka berencana untuk berdandan habis-habisan untuk datang ke pesta ulang tahun Wina. Di meja riasnya, Sara sudah menyiapkan seluruh peralatan dandan miliknya dan pinjaman punya Mama. 

“Pestanya jam tujuh Mil, kita punya banyak waktu untuk dandan.”

“Yap! Aku bawa ini dan ini,” kata Milla sambil menunjukkan kemben dan hipster unfinished yang baru dibelinya dua hari lalu.

“Tapi ... pestanya kan cuma dirayain di rumah ... dan kita berdua sama-sama tahu kalau rumah Wina tuh masuk gang. Kalau kita dandan heboh begitu ‘ntar yang ngeliatin kita bukannya cowok-cowok keren, tapi abang-abang yang suka jualan di sekitar rumah Wina. Lagipula mobil nggak bisa masuk jalanan rumahnya, jadi kita harus jalan 50 meter dulu untuk sampai ke rumahnya. Remember?” Sara panjang lebar menjelaskan.

“Aku nggak lupa, justru karena itu kita dandan. Kita harus lain daripada yang lain dan nunjukkin ‘kelas’ kita. Kamu pasti mau diperhatiin Arya kan?”

“Mau banget Mil, aku dengar-dengar sekarang Arya lagi suka sama Wina. Aku nggak mau dong kalau mereka sampai jadian, udah tugasku untuk ngerebut Arya kembali.”

Tidak lama kemudian mereka berdua sudah sibuk berdandan heboh.

“Mau konser di mana nih?” sindir Alfred, kakak tertua Sara begitu mereka siap berangkat.

“Sirik aja, ini dandanan terbaik kita tahu!” balas Sara kesal.

“Emangnya mau jadi Pink atau Christina Aguilera? Kok tiap satu jari dipakein dua cincin, ntar dipalak lho!” Alfred mencoba mengingatkan.

“Bodo!!” Sara langsung menarik Mila ke luar rumah, menyalakan mesin mobilnya, dan menancap gas. 

“Alfred ngeselin ya Sar?!” kata Milla berpendapat.

“Baru tahu!” jawab Sara sambil membelokkan mobilnya ke jalan raya.

“Untunglah akhirnya bokap kamu ngijinin kita pakai mobil ini.”

“Nggak kok, pulang sekolah tadi aku ngambil kunci di kantung bokap.”

“What ... berani banget, ‘ntar kalau dimarahin gimana?”

“Bilang aja kalau nggak sengaja, lagian siapa suruh nggak ngijinin aku pakai mobilnya.”
Saat itu juga mobil itu bergerak naik turun perlahan.

“Apaan tuh?” tanya Milla.

Sara menggeleng, kemudian turun dan mengecek ban belakang.

“Damn ... bannya kempes, kemasukan paku!” Sara kelihatan kesal.

“Apa? Oh my God, jangan di tempat seperti ini,” Milla ketakutan melihat suasana yang gelap dan sepi di jalan tersebut.

“Calm down, kita dekat sama jalan raya kok,” Sara berusaha menenangkan.

“Perlu dibantu Dik?” terdengar suara seorang laki-laki setengah baya di belakang Sara.

“Nggak ... nggak!!” Sara menjawab setengah berteriak.

Lelaki tersebut terkekeh sebentar, kemudian pergi.

“Pikir coba, satu Mercedes, dua cewek dengan setelan dan aksesori mahal ... siapa pun bisa ngejahatin kita Sara!” Milla tampak ketakutan.

“Aku bisa ngeganti ban kok Mil, tapi sekarang mulai hujan rintik-rintik. Kamu pegangi payung sementara aku ngeganti ban ya?”

“Telepon aja ke rumah atau tinggalin mobilnya di sini, dan kita ke rumah Wina naik taksi,” Milla menyarankan.

“Aku lupa bawa handphone, lagipula kalau kita tinggalin mobilnya di sini rawan banget Mil!”

Akhirnya Milla turun dari mobil dan memegangi payung sementara Sara mengganti ban. Keduanya melepas seluruh aksesori yang dipakai agar tidak menimbulkan perhatian orang untuk berbuat kejahatan.

“Aku nggak nyangka kalau kamu bisa juga ngeganti ban.”

“Aku belajar dari bokap ... untuk keadaan darurat aja,” jawab Sara.

Setelah beberapa menit terbuang untuk mengganti ban, keduanya masuk ke dalam mobil. Keringat membasahi wajah Sara, tangannya pun penuh dengan bekas-bekas lumpur dari ban mobil, dandanannya hancur. 

“Sekarang gimana?” tanya Milla pasrah.

“Kita tetap pergi ke ultahnya Wina ... no matter what!”

Di depan rumah Wina terlihat sepi dan tidak menunjukkan tanda-tanda adanya pesta yang sedang berlangsung. Sara dan Milla saling berpandang-pandangan, bingung.

“Mungkin belum banyak yang datang,” kata Milla pelan.

Sara langsung mengetuk pintu pagar rumah Wina. Beberapa saat kemudian Wina keluar dengan baju tidur. Wina sama kelihatan heran seperti keduanya.

“Milla, Sara ... what a surprise!” kata Wina dengan tawa tertahan melihat dandanan Sara dan Milla.

“Bukannya kamu ultah hari ini Win? Mana orang-orang? Kamu bilang pesta ini bakalan ramai?! Di mana ramainya?” tanya Sara beruntun.

“Aku memang ultah hari ini, tapi dirayain besok supaya banyak yang datang, karena besok kan malam minggu. Memangnya kamu nggak baca undangannya?” ***

Gadis, 24 Mei - 3 Juni 2002

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Melissa Kharisma Putri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Gadis" edisi 24 Mei - 3 Juni 2002
 

0 Response to "Something Stupid"