Sorban Kiai Sadeli | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sorban Kiai Sadeli Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Sorban Kiai Sadeli

KAMPUNG Hadrah memanas. Isu yang berkembang soal misteri sorban milik Kiai Sadeli, sudah bergeser dari sekadar polemik ceng-ceng po ke wilayah stabilitas dan ketahanan spiritual kampung santri. Figur Kiai Sadeli, sebagai tokoh sentral mulai diusik. Para murid, santri dan warga kampung Hadrah mulai terbelah. Isu itu bermula dari sebuah tulisan yang diunduh di sebuah situs Ceng-cengpo.com yang dikelola warga santri soal mimpi yang secara kebetulan dialami oleh lima orang santri, meski dengan durasi dan latar belakang cerita yang berbeda, tapi mengarah pada kredibilitas Kiai Sadeli dan sorbannya.

Suasana bakda Asar, mendung, sesekali suara guntur mendera, tak jauh dari tempat itu anak-anak bermain petasan bambung, tradisi menyambut Ramadan. Lima orang santri menceritakan pengalamannya yang misterius. Mereka secara bersamaan dalam tempo tiga hari ini bermimpi sorban Kiai Sadeli. 

”Ada apa dengan sorban Mbak Kiai?“ Paiman, santri kesayangan Kiai Sadeli, karena rajin meski kulitnya paling hitam, mengawali pembicaraan.

”Adakah ini firasat yang tidak baik tentang beliau, atau apa kira-kira teman? Aku bermimpi Mbah Kiai sedang kehilangan sorbannya. Dan beliau sangat cemas sekali,“ lanjut Paiman.

”Aku didatangi Mbah Kiai di mimpiku saat menjelang sahur semalam. Beliau juga sama merasakan kecemasan. Tidak hanya tentang kampung kita atau lingkungan pesantren ini, juga bangsa ini teman,“ ujar Sofyan, santri bertubuh ceking itu menimpali.

Dialog sempat terhenti lantaran daun kelapa jatuh tidak jauh dari serambi surau, tempat mereka berkumpul, sembari menyiapkan takjilan sore itu.

”Soal apa Man?“ Sofyan seperti penasaran.

”Ada sesuatu yang misterius tentang sorban Mbah Kiai. Sorban kini konon bisa menjadi penyebab adanya bencana besar bagi kampung kita dan dampaknya juga bagi negeri ini.” Paiman melanjutkan.
Perbincangan semakin menukik. Ada prasangka yang tidak mengenakkan soal sorban Kiai Sadeli. Mimpi bukanlah sesuatu yang bisa dipercayai. 

”Mimpi saya beberapa hari yang lalu menggiring pada sesuatu yang menurutku ada benarnya. Sorban Mbah Kiai punya nilai sakral,” ungkap Sofyan.

”Saya tidak sependapat karena hal ini sudah menyangkut pada persoalan yang sensitif, takhayul. Seolah sorban Mbah Kiai punya nilai magis. Dan kita harus berani menolaknya jika kemudian sorban ini berkembang pada wilayah takhayul,” kata Ngabdul yang sejak awal cenderung diam, menunggu teman-temannya berkomentar.

Sofyan menimpali dengan sedikit tersenyum.

”Bukan itu yang kumaksud Ngabdul. Saya hanya mengatakan apa adanya dari rekam jejak mimpi yang saya alami. Ada satu hal yang mengerikan sekaligus menggelikan di akhir mimpiku ini teman. Konon jika sorban ini tidak segera dilenyapkan, korupsi akan merajalela di negeri ini.“

Suasana yang sebelumnya tegang akhirnya cair ketika Sofyan menyinggung-nyinggung soal korupsi yang disangkutpautkan dengan sorban.

Testimoni kemudian bermunculan.

”Mimpiku soal sorban Mbah Kiai ini agak berbeda teman. Justru aku akan menjadi penasaran. Benarkah kewibawaan Mbah Kiai itu semata-mata ditopang karena daya linuwih sorbannya?“ ujar Hamid, santri Mbak Kiai Sadeli yang bertubuh paling gempal.

”Husss...! Jangan bicara seperti itu. Tak baik,” cegat Sukri, santri yang paling suka melerai jika ada teman-temannya yang berkelahi. 

”Mbah Sadeli bagiku adalah sosok kiai yang sederhana, jujur, berwibawa, bijaksana dan cakap. Tak mungkin itu. Karena hampir sebagian besar hidupnya beliau curahkan untuk mengajar dan mendidik. Bahkan, kalian ingat tidak, Simbah adalah sosok yang tegas ketika menolak bantuan dari pemerintah pusat dan oknum yang ingin berlindung di bawah nama kebesarannya, hanya karena untuk kepentingan politis mereka. Sudah tak terbilang banyaknya tempat ini dikunjungi oleh banyak orang yang ingin meminta restu dari Simbah,” lanjut Sukri.

Sementara itu testimony Hamid lebih pada area integritas Kiai Sadeli.

”Ya aku percaya seribu persen. Bahkan simbah sering menolak bantuan uang untuk pengembangan pondok ini, karena ada udang di balik batu,” ucap Hamid. 

Tanpa disadari lima orang itu, Mbah Kiai Sadeli tiba-tiba sudah berada di tempat itu pula. Sambil rengeng-rengeng melafalkan tembang Ilir-Ilir yang digubah dengans syair lain. Kiai Sadeli ikut nimbrung dengan anak-anak muda itu. Tentu saja para santri ini kaget bukan kepalang.

”Ada apa… dari jauh aku lihat kalian kok kelihatan serius, sedang membicarakan sesuatu yang?” ucap Kiai Sadeli.

Suasana tiba-tiba sunyi. Para santri ini seperti terpaku di tempat, mulut mereka seolah tergembok rapat.

”Lho... kok pada diam. Ah... aku jadi curiga. Ayo Sofyan apa yang kalian bicarakan tadi, aku pengin tahu?“

”Mmmmm... tapi sebelumnya kami mohon maaf ya Mbah. Begini, kami berlima secara kebetulan beberapa hari ini bermimpi tentang Simbah,“ urai Sofyan. 

”Tentang aku?“ desak Kiai Sadeli. 

”Apa mimpi kalian?“

”Tentang sorban Simbah?“ jawab Sofyan sedikit takut.

”Sorban? Ada apa dengan sorban ini?“ Sambil melepas sorban yang dipakai di kepalanya, Kiai Sadeli melihatkan kepada para santrinya.

”Sekali lagi kami minta maaf. Dari berbagai versi mimpi kami berlima, ada yang mengatakan sorban inipunya daya linuwih tapi juga bisa menjadi penyebab bencana,“ jawab Sofyan.

”Hahaha... Ada-ada saja kalian ini. Saya beri tahu, jangan sekali-kali menuhankan sorban ini. Nggak baik. Bisa kuwalat. Gusti Allah bisa duka. Tentu saja ini dilarang agama. Takhayul. Bisa-bisa malah menjurus ke musyrik. Kalian tahu itu kan?“ Kiai Sadeli meluruskan pikiran para santrinya.

Tiba-tiba ada suara angin kencang dari arah utara, mendera, mengosak-asik lingkungan pondok. Saking kencangnya tiupan angin itu, pohon-pohon di linkungan pondok roboh. Pohon melinjo yang berada di dekat surau itu ikut roboh. Batangnya sempal, menjatuhi genteng tempat wudu, lalu menimpa belandar atap tempat wudu. Prakk. Tiba-tiba suara jerit dari beberapa santri tak tertahankan. Ngabdul yang berada di tempat itu mengerang kesakitan. Rupanya tangannya tertimpa batang pohon melinjo.

”Ayo kita tolong Ngabdul,“ ajak Kiai Sadeli.

Darah mengucur di bahu dan tangan Ngabdul. Kiai Sadeli kemudian melepas sorbannya.

”Paiman, tolong sorban ini diikatkan di tangan Ngabdul, untuk mengurangi pendarahan, terus panggil sopir, kita bawa ke Puskesmas dia.” Kiai Sadeli menyuruh para santrinya. Beberapa saat kemudian, setelah Ngabdul dibawa ke Puskesmas. Kiai Sadeli kembali mengumpulkan para santrinya.

”Kalian semua lihat langsung kan, sorban yang kalian jadikan bahan pembicaraan danbagian dari mimpi kalian, telah aku pakai untuk memperban tangan Ngabdul yang berdarah. Ngabdul akan mendapatkan pertolongan dari dokter di Puskesmas. Dan bukan gara-gara sorban itu. Kalian paham kan. Sorban ini tak ada nilai magisnya.“ Panjang lebar Kiai Sadeli menjelaskan.

Sorban itu menurut cerita Kiai Sadeli pemberian seorang syeikh ketika ia menjalankan ibadah haji. Dan sering ia pakai di mana-mana, termasuk saat tangan Ngabdul butuh perban. [] (k)

Concat Sleman, 2013-2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Wiryawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 3 Juli 2016

0 Response to "Sorban Kiai Sadeli"