Stasiun Gadobangkong - Putri Sirkus - Jogja Suatu Ketika - Waktu Menghadap Jendela Malam Hari - Di Pelabuhan Kecil - Tentang Perjalanan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Stasiun Gadobangkong - Putri Sirkus - Jogja Suatu Ketika - Waktu Menghadap Jendela Malam Hari - Di Pelabuhan Kecil - Tentang Perjalanan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Stasiun Gadobangkong - Putri Sirkus - Jogja Suatu Ketika - Waktu Menghadap Jendela Malam Hari - Di Pelabuhan Kecil - Tentang Perjalanan

Stasiun Gadobangkong

kau melihat senja lain mendarat
di Stasiun Gadobangkong
ketika sebuah tiket pulang selesai dipesan
beberapa menit sebelum seorang penjaga
berkata: kereta akan sedikit terlambat
kemudian sebuah kalimat meluncur dari bibirmu
tak ada yang tepat waktu di dunia
selain lonceng yang dibunyikan nun di jauh sana

kau meninggalkan kursi tunggu
duduk pada batu di peron itu
di seberang rel kereta yang penuh rahasia
dan dengan mata kamera kau mencari-cari
tawa anak-anak yang lepas
ketika sayap layang-layang berhasil diterbangkan
tapi yang kau temukan melulu sajak-sajakmu
berkeliaran nakal di keluasan matamu

kau lemparkan dirimu ke dalam sebuah parit
di mana jari-jari tangan seorang perempuan terekam jelas
menyisir rambut anak perempuannya
kau tersenyum bagai masa kecilmu kembali hadir
sementara senja hampir penuh dan kenangan semakin rekah

kau telah berangkat dan tiba di banyak tempat
tapi kau selalu kembali pada kesendirian yang nyata

2016


Putri Sirkus

           : Panina Manina

ia berjalan di sepanjang tali yang getir
di bola-bola masa remaja yang pecah
sebab nasib diri, menerima segala
terenggut dari dirinya yang malang

           trampolin kecil
           singa laut
           hula hop
           pistol air
           karavan merah muda

ia bersedih untuk yang tidak lagi bisa ia ingat
ia hanya tahu hidupnya
setangkai gula-gula kapas
terulur
dari tangan seorang badut

kemudian berakhir
di antara tepukan paling meriah

2016


Jogja Suatu Ketika

catatlah jalan-jalan ini
suatu hari mungkin akan kita saling cari
wajah masa lalu di sini

sebuah lagu
pernah terulur
dari rambutmu
yang lebat

sebuah ciuman
pernah lekat
di pipi kita
yang basah

tapi sebuah persimpangan
tak sedikit saja pernah ingin kita jumpa

catatlah jalan-jalan ini
sebab aku tak akan selamanya menjadi peta
bagi kakimu yang ragu
aku hanya akan menjadi yang selamanya mencintaimu

2013


Sabtu Malam di Dataran Merdeka

                 : Heri Maja Kelana

kita berjalan ke arah mana menuju apa?

Malaysia malam hari adalah keasingan lain
seperti perjalanan jauh yang telah ditempuh
tapi masa lalu, masihkah ia menguntit
di belakang pundakku?

kau yang selalu merapatkan lenganmu
ke lenganku, apakah juga kau pikirkan yang sama?
tentang seorang perempuan yang di telapak tangannya
pernah kau titipkan doa dan masa depanmu
bisakah kau mencintaiku tanpa membayangkan
wajahnya di wajahku?

Dataran Merdeka pada angka keduapuluhempat

kita tak sempat saling tatap
kau khusyuk membaca jalan
dan cahaya yang pendar
di sebuah alun-alun kota

aku sibuk menyimpan wajah dan tubuhmu
pada sebuah kamera yang nyaris mati
orang-orang di sekeliling kita menatap panjang
mungkinkan kita sepasang kekasih yang bahagia,
atau yang sedang pura-pura bahagia?

kita tak selalu harus bingung dalam tanda tanya, bukan?

2016


Waktu Menghadap Jendela Malam Hari

masih adakah tempat bagi kita
yang aman dan hangat bagai pelukan?
televisi, radio serta koran-koran terus saja mencipta
dan memutar cerita: ranjang, darah dan kuburan

sementara di belahan sana kembang belum kering
sungai masih meluap pada mata dan dada seorang ibu
masih juga hujan kata-kata berjatuhan
pada lantai kamar seorang perempuan
yang cintanya dikhianati

angka-angka tanggal dari almanak
jam terus menari di dinding kelam
masih kucari segala yang layak
bagi anak-anakku kelak

2016


Di Pelabuhan Kecil

bagaimana bila tubuhmu muncul di muka pelabuhan ini
kemudian kau biarkan sajak-sajak melompat dan bere-
nang ke arahmu
mungkin ada yang ingin kau sampaikan
atau kau tuliskan lagi, semisal nasib diri yang lain

atau kau biarkan saja kelepak elang
tetap mencatat segala sepi yang rapi
ibarat angin yang hanya mendengar suaranya sendiri

tapi bagaimana bila tak pernah seseorang menemukan apa-apa
selain sajak-sajakmu menjelma kaki-kaki bayi
di sepanjang pelabuhan ini

2016


Tentang Perjalanan

"kamu duduk di barat tapi menghadap timur"
katamu, di KL Sentral, ketika orang-orang sibuk
menjemput dan mengantar masa depan
sementara seorang tua berjalan di hadapan kita
bolak-balik dengan punggung yang bungkuk
adakah itu potretku di hari nanti?

aku telah berjalan jauh tapi tak bisa lepas
dari sebuah alamat yang lekat dalam kepalaku
sedang kau yang asing ini masih saja tabah
mengusap yang berembun pada kaca mataku

di KL Sentral, ketika orang-orang sibuk
menjemput dan mengantar masa depan
aku belajar lagi mengeja nama
dengan hati-hati

2016


Anisa Isti, lahir di Bandung, 15 Oktober 1992. Senang kopi dan dicintai. Bergiat di mana saja. Penulis dapat dihubuni di e-mail: anisaistiyuslimah@yahoo.co.id

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anisa Isti
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu, 24 Juli 2016

0 Response to "Stasiun Gadobangkong - Putri Sirkus - Jogja Suatu Ketika - Waktu Menghadap Jendela Malam Hari - Di Pelabuhan Kecil - Tentang Perjalanan"