Terapung | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Terapung Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:42 Rating: 4,5

Terapung

ADA sebuah perahu yang sudah pasrah terhadap ombak. perahu itu sudah tak memiliki keinginan. Ia sudah menyerah terhadap kehendak lautan setelah sadar dengan kondisinya. Meski separuh hatinya tak kan mau kau sebut dia sudah menyerah, lantaran betapa tak baiknya efek dari kata itu saat terdengar telinga. Sebab, niat awal kepergiannya jelas bukan untuk menyerah dan terapung-apung sia-sia.

"Doakan anakmu, Mak." Izin emak adalah bekal awal yang ai bawa. Selain segala bekal untuk melaut, tentu saja. Emaknya janda bersahaja yang telah berhasil membesarkan tiga anak lelaki dengan berjualan ikan.

Sebenarnya ada satu bekal lagi yang tak terlihat. Bekal itu justru semakin bertambah saat  ia gunakan. Saat perahunya sudah mulai menyerahkan diri ke lidah lautan. tekad.

Betapa dadanya dipenuhi bekal itu saat perahunya diantarkan angin darat menuju tengah lautan. Saat menebar jala, masa depan berpendar terang dalam benaknya. Ada wajah seorang gadis yang memenuhi langit samudera. Sorang gadis yang telah bersedia ia ikat dengan selarik janji.

"Akan kita bangun istana kebahagiaan dengan hiasan anak-anak yang senang berbakti kepada kita," ujarnya kepada sang gadis, di hadapan laut.

"Tak usah bermuluk-muluk angan, Kang." mencubit paha pemuda di sampingnya.

"Tentu saja itu tidak bermuluk-muluk." Tak mengelak

"Meskipun hanya tinggal di sebuah gubuk, aku rela. Tak usah memaksakan diri." Menunduk malu-malu. Angin pantai membelai anak rambut di telinganya.

Sebuah kecupan langsung mendarat di kening. Dan si gadis tiada menolak.

Hingga kemudian pelayaran ini pun melaju dengan penuh semangat membara.

***
SEMUA berubah tatkala pelayaran itu tak juga bertemu pagi. Entah kenapa langit tak juga menampakkan cahaya dari ufuk timur. Hanya ada gumpalan mendung yang berarak-arak datang mengabaran kedatangan hawa dingin dan angin yang semakin lama semakin kencang.

Ia tak pernah menduga kalau ternyata telah salah perhitungan. Musim peralihan, cuaca tak pernah menampakkan tanda-tanda yang [asti. Malam cerah, tahu-tahu pagi hujan meruah. Sore terang, tiba-tiba malam bintang-bintang menghilang.

Ia sempat mendengar bunyi gelegar aneh di kejauhan. Lalu laut speerti turut berguncang, dan ombak berbukit-bukit datang menghadang.

Ia tidak menyesal ketika baru setengah perjalanan tapi akhirnya harus ambil keputusan pulang. Seember ikan yang didapat tentu saja masih jauh dari harapan. Tapi, jangankah kelegaan hati, untuk memutar haluan saja ia tak juga berhasil. Ombak tiba-tiba membukit dari belakang. Terus mendorongnya ke tengah dan ke tengah, menjauh dari arah pulang.

***
SEJAK bunyi gelegar yang diikuti hujan badai abu itu, ia menghitung, sudah tiga kali matahari tenggelam dan kemudian terbit lagi. Dan perahunya sudah kehilangan kemampuan untuk pulang. Mesin dieselnya ngadat saat berkali-kali tersiram asin laut. Sauh cadangan yang seharusnya bisa ia gunakan untuk melawan ombak juga sudah hilang ditelan laut. Hanya sisa perahu yang masih mengapung, membawa hidupnya yang juga terapung-apung.

Teriakan minta tolong sepertinya juga sudah tiada manfaat lagi. Mengayuh perahu dengan tangan hanya membuat setengah gila. Kepastian justru ada pada ketidakpastian nasibnya itu sendiri. Saat dalam keadaan terapung begitu, banyak pikiran datang menghampirinya.

Andai kemarin ia menuruti keinginan gadisnya. Menyematkan cincin tanda pengikat cinta, meski hanya dengan sebuah cincin emas sederhana.

"Keluargamu pasti akan emmnadangku sebelah mata. Mengikat dirimu hanya dengan sebuah cincin?" kilahnya, demi melindungi harga dirinya sendiri. "Jadi aku pinta bersabarlah. Tunggu kabar bahagia dariku, sebentar lagi," tambahnya, dengan perasaan bangga.

Namun bangga itu kini telah dilumat penyesalan. Ia bahkan tak yakin akan bisa kembali pulang. Jika ia berhasil pulang (selalu itu doa yang ia apungkan), sungguh, akan ia ralat ucapan kemarin. Ia takut andai kesempatan itu benar-benar hilang. Betapa alur kehidupan ini tak bisa diterka.

Ia membetukan posisi duduk kemudian. Dengan tangan yang sedikit gemetar (lantaran tenaga yang belum pulih benar sehabis pertarungan dengan badai) ia meraih isi ember yang berada tak jauh dari posisinya. Hanya sisa sedikit, sebab ikan-ikan itu berjatuhan ke laut saat perahu miring. Bau ikan-ikan itu sudah berubah meski ia telah memasukkan air laut ke dalam ember. Sedikit mual, ia paksa perutnya menerima makanan itu. Seandainya ada orang kaya yang pernah menyakiti perasaan orang miskin dan kemudian mengalami kejadian ini, apakah kesombongan mereka masih bisa melangit?

Tiba-tiba ia teringat dengan kenangan menyakitkan itu. Ketika ayah sang gadis menantangnya dengan kalimat sinis yang menusuk dan bernada menghina. Apa pemuda seperti dirinya mampu membahagiakan anaknya dengan kecukupan materi? Sungguh, rasanya ia tak ingin mati sekarang. Meski sekarang ia mulai sadar bahwa hidup mati bukanlah miliknya.

Perasaannya sedikit lega setelah menyelesaikan ritual yang sedikit memaksa itu. Ia tak peduli lagi pada kemungkinan besok akan mati atau hidup, toh kewajibannya terhadap perut sudah ia tunaikan. Ia mulai berpikir bahwa hidup sebenarnya amat sederhana; sudah isi perut atau belum. Selain itu, semuanya hanya soal main-main, atau senda gurau yang kadang amat tak penting.

Termasuk rasa cintanya dengan sang gadis. Tentu saja ia rela andai sekarang gadis itu melabuhkan perasaannya ke lain dermaga. Konyol betul andai dia terus menunggu dan menunggu, bahkan jika dirinya pulang sudah dalam keadaan mayat. Meski kerelaan itu terkadang masih harus berperang melawan ketidakrelaan yang absurd, seolah dirinya sudah memiliki hak penuh atas si gadis.

Menit-menit slenjutnya, tak ada yang bisa dilakukannya selain hanya memandangi langit, berganti-ganti dengan hamparan samudera. Sesuatu yang kadang memancing genangan air mata atau bahkan ledakan tawa. Tawa yang hampa, tentu saja. Haraoannya timbul tenggelam terombang-ambing ombak. Keinginannya terang meredup  seperti siang dengan segala cahayanya yang kemudian ditelan malam dengan segala kegelapannya.

***
IA selalu merasa bahwa kini ia hanyalah tinggal sekeping harapan. Jika beberapa saat lalu harapan itu mampu membuatnya sibuk melakukan ini itu, sekarang sekeping harapan itu terkapar, menghindar dari terik saat cahaya menguasai langit, atau membebaskan lamun saat gemintang bermunculan meramaikan malam.

Kondisi perahunya masih sama, sudah menyerah dengan ombak samudra. Sisi lengan bagian kanan perahu sempat ia congkel-congkel untuk dijadikan sauh. Tapi usaha itu sudah menyerah. Ia juga pernah mempergunakan kedua tangannya, secara berganti-ganti. Tapi usaha ini malah membuatnya setengah gila.

Keputusasaan itu memang kerap membuatnya setengah gila. Pernah suatu ketika kedua matanya dikuasai oleh gambar-gambar televisi, sementara teinganya dipenuhi suara radio. Serasa berada di rumah, saat ia tengah menikmati waktu senggang. Langit dipenuhi penyanyi-penyanyi cantik yang berjoget dangdut, sementara udara dipenuhi suara-suara dhalang manggung. Alangkah terntram. Seolah hidup tak butuh apa-apa lagi.

Bahkan ketika channel berubah menayangkan kasus-kasus kriminal, sementara gelombang radio berganti suara penyiar yang menjelaskan detail kronologi tentang perbuatan seorang koruptor, ia bisa dengan ringan bergumam, "Alangkah bodohnya kalian. Hidup yang mudah justru kalian sulit-sulitkan."

Ia memang tak lagi mempersulit keadaannya sendiri. Ia tak lagi berteriak-teriak minta tolong. Ia juga tak lagi mencoba mengayuh perahu. Ia biarkan gelombang samudra memiliki diirinya sepenuhnya. Toh ia merasa gelombang yang tiada henti itu tengah mengantarkannya pulang.

Ya, ia yakin, bahwa sekarang tengah dalam perjalanan pulang. Meski ia tak lagi tahu arah. (k)

Banyuputih Kalinyamatan, 2015

Adi Zam-zam (Nur Hadi) tinggal di Desa Banyuputih RT 11 RW 03 No 79 Gg Masjid Baitush Shamad Kalinyamatan Jepara Jawa Tengah 59468

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zam-zam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 24 Juli 2016



0 Response to "Terapung"