Tersesat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tersesat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:41 Rating: 4,5

Tersesat

HANYA orang bodoh yang sengaja berlama-lama sampai ke tempat tujuannya. Oleh karena itu, saya selalu tidak terima jika dikatakan bodoh! Saya hanya tidak sengaja tersesat, yang mana membuat saya sering terlambat. Oleh karena itu, maklumi saja. Saya kira, saya sedang marah. Nada bicara agak saya tinggikan kali ini. Memang, kakak saya yang sedang di rumah sakit itu agaknya lebih pantas untuk marah ketimbang saya. Tapi, saya kira, seharusnya dia lebih bersabar. Memang, dia harus lebih lama menjaga ibu yang sedang opname karena penggantinya -saya- sedang tersesat dulu.

AWALNYA, saya yakin akan berhasil sampai di rumah sakit. Tapi, setelah belok ke kiri di ujung gang rummah, lurus sedikit, belok ke kanan, masuk jalan besar, ambil jalur kanan, lurus, belok kiri, kemudian saya tersesat dan kebingungan: Saya sedang di mana?

Kakak saya terus menelefon. Tapi, rasanya percuma saja, saya juga tidak tahu sedang berada di mana. Jadi, bagaimana mau menjelaskan kepadanya saya sedang ada di mana? Bertanya juga percuma. Saya selalu semakin tersesat kalau mengikuti arahan orang.

Sebenarnya, saya juga kesal pada nasib saya yang sering tersesat ini. Wanita jadi jauh rasanya dari saya. Dulu, pernah ada saya baca artikel di internet yang membahas tentang sistem navigasi manusia. Saya lupa detailnya apa. Tapi, secara garis besar, dikatakan bahwa sistem navigasi laki-laki jauh lebih bagus dari wanita. Oleh karena itu, wanita lebih sering tersesat daripada laki-laki. Lantas, bagaimana dengan saya? Dulu, pernah saya tarik kesimpulan: tersesat, keluar jalur, salah jalan, itu tugas wanita. Oleh karena itu, laki-lakilah yang harus jadi pemimpin. Laki-laki harus jadi depan, menunjuk jalan yang benar.

Saya sering jadi obyek kekesalan wanita. Seringnya, karena suka terlambat kalau ada janji --karena lupa tempat bertemu atau lupa arah ke tempat bertemu itu. Saking banyaknya, saya sudah lupa jumlah wanita yang pernah menyumpahi. Saya lebih baik mati saja karena nasib saya yang sering tersesat ini. Pernah waktu itu, ada wanita yang rasa-rasanya akan berhasil jadi pasangan saya. Malah sudah saya niatkan untuk mengajaknya menikah. Tapi, waktu saya meminta dia menunggu di suatu tempat --saya lupa di mana-- untuk membahas masalah nikah itu, saya malah tersesat. Dia jadi marah. Cerita selanjutnya, dia tidak pernah mau bertemu lagi dengan saya. Soalnya, saya terlambat bertemu dengannya sampai satu minggu.

Bukan tidak ada usaha. Saya sudah mencoba beberapa cara untuk mengubah --atau mengobati mungkin-- nasib saya ini. Kadang-kadang, saya kira, nasib saya ini punya penjelasan secara medis yang artinya ini cuma penyakit, yang artinya, bisa diobati.

Pernah saya malu. Sangat malu bahkan. Sampai setiap ada orang yang meminta saya datang ke suatu tempat, saya akan memilih tidak datang. Atau minta antar siapa pun yang mau mengantar -- tapi bagian ini susah juga karena kadang-kadang saya malah lupa alamat tujuan. Ujung-ujungnya tetap saja tersesat.

Dulu, sempat saya putus ada. Semua cara saya coba. Saya ingat, dulu saya pernah pergi ke dukun. Waktu itu, saya kira, saya kena guna-guna orang. Dukun itu bilang, saya sering tersesat karena pernah ada dosa di kehidupan saya yang sebelumnya, yang belum dibayar. Katanya, di kehidupan sebelumnya, saya itu kodok. Terkenal yang paling ahli memanggil hujan dibandingkan dengan kodok-kodok yang lain. Katanya, saking hebatnya saya --saat masih jadi kodok-- memanggil hujan, saya jadi sombong. Sangat sombong malah. Saya jadi suka pamer pada teman-teman kodok yang lain.

Karena kesombongan saya itu, hujan jadi tidak keruan datangnya. Saya memanggil hujan kapan pun saya mau. Walaupun air sudah berlimpah, saya tetap memanggil hujan. Akhirnya, pada suatu waktu, air jadi sangat berlimpah, sampai-sampai jadi banjir besar-besaran. Manusia mati, hewan mati, kecuali kodok karena lihai berenang. Walaupun tidak mengerti apa hubungannya saya --sebagai kodok di kehidupan sebelumnya-- yang menyebabkan musibah banjir dengan saya yang suka tersesat sekarang, saya percaya saja perkataan dukun itu. Toh saya sedang sangat putus asa. Lagi pula, bayar jasanya murah, hanya sepuluh ribu rupiah. Jadi, tidak ada masalah.

Selain memberikan alasan kenapa saya jadi laki-laki yang sering tersesat, dukun itu juga memberi selembar kertas yang ada beberapa baris doa di atasnya. Doanya memang agak sedikit aneh. Ada bahasa Arab, campur bahasa Indonesia, campur bahasa daerah, campur bahasa entah apa lagi. Waktu itu, saya tidak peduli. Malahan saya kira akan berhasil. Saya kira saya akan sembuh. Cukup dengan uang sepuluh ribu rupiah.

Tentu saja sekarang saya tahu itu bodoh. Sekarang saya yajin, doa yang dicampur-campur begitu tentu saja tidak manjur. Jadi sekarang saya putuskan, saya sudah rugi sebanyak sepuluh ribu rupiah.

**
"BELUM sampai juga kau!" bentak kakak saya di dalam telefon. Binatang benar! Saya tahu dia kesal. Tapi, saya harus bagaimana lagi? Toh percuma saja dia teriak-teriak. Saya tetap tidak tahu, saya sedang di mana.

"Sabar. Sabar. Mau bagaimana lagi?" Saya jawab saja begitu. Ini jawaban andalan saya. Biasanya jika sudah saya jawab begini, orang-orang akan diam. Entah mereka masih marah atau tidak. Yang jelas mereka diam.

Saya sudah sangat malas berpikir ke mana lagi harus mengarahkan motor saya ini. Tohjalan kali ini hanya lurus dari tadi. Saya kira cukup ikuti jalan ini karena, kenyataannya saya juga lupa siapa yang mengarahkan saya ke jalan ini tadi.  Tentu saja, saya juga tidak tahu di mana saya sebenarnya. Dari jauh, saya lihat  ada lampu merah. Sedang sepi keadaannya. Hanya ada seseorang yang diam menunggu lampu merah itu di atas motornya. Dia tidak menerobos. Entah kenapa.

Saya berhenti juga. Jadilah saya ebrdua di tempat ini bersama orang yang saya lihat tadi. Saya sempat punya niat bertanya kalau ingin ke rumah sakit lewat jalan mana. Tapi, sebelum saya mewujudkan niat saya itu, dia lebih dulu menyapa saya.

Setan alas di kerak bumi nomer tujuh!

"Pak dukun?" tanya saya. Agak sedikit ragu karena saya kira saya lupa wajahnya. Hanya, saya merasa mengenal baunya.

"Mas yang sering lupa jalan itu ya?" tanyanya kemudian. Ada sedikit senyum yang sangat tidak pas dengan wajahnya.

"Iya, Pak. Ini lupa lagi."

"Lho? Doa saya tidak manjur?"

Setan alas! Bagaimana dia bisa tertawa setelah membuat rugi saya sebesar sepuluh ribu rupiah?

Saya kira, orang ini adalah orang paling jahanam yang pernah saya tahu. Saya kesal rasanya. Dengan culas saya jawab: Iya, tidak mempan Pak Dukun.

"Mungkin adik salah cara bacanya."

"Mungkin," jawabku seladarnya. Salah matamu! Saya menyumpah dalam hati. Bagaimana mungkin ada yang mengerti doa yang dicampur-campur begitu. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saya mengira ini adalah sebuah takdir. Bagaimana tiba-tiba saya bertemu dengan orang ini lagi,  di sini. Untuk itu, saya kira tidak ada masalahnya jika saya sedikit berbasa-basi meminta saran.

"Pak dukun tahu jalan ke rumah sakit?" tanya saya.

"Rumah sakit? Siapa yang sakit?"

"Ibu saya. Saya terlambat satu hari karena lupa jalan."

"Haha... adik benar parah pikunnya."

"Jadi. Bisa bantu saya tidak, Pak?" jawab saya sambil agak kesal. Bagaimana bisa dia menertawakan saya? Padahal, doa yang dia berikan tempo hari lebih pantas untuk ditertawakan karena tidak ada gunanya.

"Jadi begini, Adik lurus saja. Jangan pikirkan mau ke mana. Tapi nanti, kalau ada bau aneh yang adik cium, beloklah ke arah bau itu. Saya tidak perlu menjelaskan seperti apa baunya. Nanti, jika sudah tercium, adik akan tahu sendiri bau yang saya maksud."

"Benar?"

"Benar. Yakin berhasil. Kalau gagal, adik kan tahu tempat saya."

"Baiklah, Pak..."

"Dik..."

"Kenapa, pak?"

"Ada uang sepuluh ribu tidak? Bapak kehabisan bensin makanya diam di sini dari tadi." Sambil menyungging senyum yang lebih-lebih tidak pantas ada di wajahnya, dia mengulurkan tangan ke arah saya. Saya kira, orang ini benar-benar orang paling  jahanam yang saya tahu. Tapi, saya hanya menggerutu dalam hati. Selebihnya, tetap saja saya berikan dia uang sepuluh ribu rupiah.

Saya percaya saja sarannya. Setelah lampu hijau. Kami berpisah. Dia belok ke arah kanan, dengan menuntun motornya, entah ke daerah mana itu nantinya. Yang jelas saya mengambil jalan lurus, terus lurus. Saya agak sedikit ngebut kali ini. Terus mengebut.

Tiba-tiba, saya mencium bau aneh dari arah kiri. Saya kira itu bau yang dimaksud dukun itu. Tidak perlu pikir panjang, langsung saja saya arahkan stang motor ke arah kiri. Saya terus maju, lurus. Motor saya masuk got, saya terus maju. Saya menabrak pohon, terus maju. Saya jatuh, terus maju. Kemudian ada mobil yang datang menjemput saya. Akhirnya saya sampai juga di rumah sakit.

Saya langsung diantar ke kamar ibu. Baik sekali orang-orang di rummah sakit ini, pikir saya. Tapi, kamar ibu ternyata sudah kosong. Entah kenapa orang-orang di rumah sakit malah menyuruh saya yang tidur di tempat tidur ibu. Saya kira, saya mengantuk, jadi menurut saja. Saya tidur. Tapi, ternyata, saya tersesat lagi di dunia aneh yang penuh dengan wanita dan kodok yang suka marah-marah. Ada api dengan lidahnya yang menjilat ke sana sini. Saya kepanasan. Rupanya saya tersesat lagi. Dan saya mengutuk dukun itu karena sudah rugi sepuluh ribu rupiah lagi.***

Muhajirin, 2015


Bayu Pratama, lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Mataram. Kini belajar penulisan kreatif di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon.


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Bayu Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 10 Juli 2016





0 Response to "Tersesat"