Alzheimer | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Alzheimer Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:43 Rating: 4,5

Alzheimer

TAK ada orangtua yang membenci anaknya. Sekalipun anak itu sudah melukai hatinya. Harimau yang ganas dan buas tetap menyayangi dan melindungi anak-anaknya.

Beda 180 derajat dengan Reno saat ini. Jika ia terus mengingat yang selalu diperlakukan mamanya, air matanya tak akan pernah habis mengumbang di kelopak matanya. Tapi Rino tidak akan pernah membenci mamanya walau seringkali menerima umpatan dan makian, bahkan sampai dianggap orang asing sekalipun. Walaupun ia masih menerima ucapan seperti itu yang selalu menusuk hatinya dari mulut mamanya.

Sebagai anak Rino harus belajar menerima apapun yang terjadi. Ia harus tetap sabar menghadapi. Karena ia sangat mencintai mamanya. Apalagi ia anak bungsu lima bersaudara. Dan ia lebih banyak berada di rumah. Kakak-kakak kandungnya sudah memiliki keluarga. Hanya ia yang masih berstatus pelajar.

"Kamu menangis lagi ya?" Tiba-tiba terdengar suara renyah menyapa. Suara seorang cewek yang sangat Rino kenal.

Saat Rino menolehkan kepalanya, berdiri cewek berseragam sekolah dengan lesung pipit yang sangat jelas saat tersenyum.

"Ah, nggak kok. Aku nggak menangis, hanya kelilipan saja." Rino kikuk menjawab ucapan Kiara. Cewek yang sangat peduli Rino akhir-akhir ini.

"Kamu kalau mau membohongiku belajar dulu biar sukses. Orang yang tidak pernah berbohong itu sangat jelas terlihat saat dia mengucapkan kata-katanya. Tetapi matanya tidak berani menatap lawan bicaranya seperti kamu ini. Iya, kan?" Kiara melirik Rino.

Rino langsung menyeka air matanya sambil tersenyum ke arah Kiara.

Rino memang tidak sanggup menatap seraut wajah yang sejak tadi terus memandnag ke arahnya.

"Ih, apa-apaan sih kamu, Ra. Kepo ah," ujar Rino yang langsung wajahnya berubah semu. Ia malu.

"Tuh kan benar. Kamu itu nggak pandai berbohong sama aku. Aku tahu jika kamu ada masalah dengan mamamu pasti kamu selalu ke taman ini kan?"

Rino tak mampu menjawab. Ia seperti sebuah biduk catur yang sudah diskakmat. Tidak bisa ke mana-mana. Apa yang dikatakan Kiara semua benar. Rino tidak bisa berbohong dengan cewek berlesung pipit di pipinya, teman sekelasnya itu.

Rino memang sedang meratap di taman belakang sekolah itu.

"Kamu dapat ucapan yang tidak menyenangkan lagi dari Mamamu itu ya? Ya sudah nggak usah dimasukkan hati atau jadi pikiran seperti itu. Namanya juga orang sakit kita sebagai orang yang sehat harus memaklumi." Kiara kembali memberikan dorongan lagi pada Rino.

"Tapi aku takut jika terus begini nanti malah sebaliknya. Aku nanti akan membenci Mama. Pertahanan kesabaranku jebol. Walau aku tahu Mama mengatakan seperti itu dalam keadaan sakit."

"Ya sudah besok ke tempat praktek Ayahku saja ya? Siapa tahu ia bisa membantu mengenai sakit yang diderita Mamamu. Bagaimana besok kamu ada waktu?" tawar Kiara.

Rino terdiam sejenak.

"Ya, sudah kalau begitu kuharap besok kamu mau ikut denganku." Kiara kembali memastikan Rino. Kiara berharap Rino bisa mengiyakan ucapannya itu.

Sesaat taman di belakang sekolah tiba-tiba sunyi. Hanya ada suara angin berhembus berkesiur. Rino tidak bersedih lagi. Sebab Kiara ada di sampingnya sekaligus menghibur.

Entah sampai kapan Rino harus menghadapi mamanya yang sudah seperti orang asing baginya. Atau mamanya yang menganggap ia sebagai orang asing di hadapannya sekaligus di rumahnya sendiri?

Rino berharap wanita berumur 45 tahun yang telah melahirkannya itu, bisa sembuh dan kembali bisa bercengkerama dengannya seperti sebelumnya. Ia sangat rindu pelukan mama dan ingin berbagi cerita tentang kegiatan sekolah, dan soal cewek yang selama ini begitu perhatian padanya di sekolah. Tapi itu hanya khayalan saja. Karena ia tahu tidak mungkin.

***
 "DARI penjelasan kalian, saya rasa Ibu ini telah terkena penyakit alzheimer," ujar Dokter Fadli, pria berkacamata minus ayah Kiara.

Rino dan ayahnya, juga Flo yang mendengar mengernyit bingung.

"Ehm, alzheimer itu penyakit apa Dok, sebenarnya?" tanay Rino.

"Alzheimer penyakit yang melemahkan daya ingat, hingga gangguan otak dalam melakukan pencernaan, penalaran, persepsi dan berbahasa. Gejalanya seperti lupa percakapan yang baru saja dibicarakan, hingga terparah dapat mengubah perilakunya menjadi agresif, penuntun, juga mudah curiga terhadap seseorang. Biasanya, penyakit ini lebih dominan menyerang wanita. Bisa dari umur 80 tahun, 65 tahun, bahkan ada juga yang umur 40 tahun meski hanya lima persen saja. Namun tidak menutup kemungkinan, pria pun bisa terserang juga," terang Dokter Fadli panjang.

"Ayah menatap istrinya dengan iba. "Lalu, apa solusinya agar sitri saya dapat kembali sembuh?"

"Penyakit ini belum ditemukan obatnya, tapi ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mempertahankan kesehatan dan fungsi otaknya. Bisa dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, rajin berolahraga, dan rutin periksa ke dokter seiring pertambahan usia." tambah dokter Fadli.

"Terima kasih dok penjelasannya."

"Sama-sama, Pak."

"Semoga Mamamu cepat sembuh ya," ucap Kiara yang di samping ayahnya.

Rino hanya mengangguk.

***
WAKTU menunjukkan pukul 01.00. Mama tersentak bangun dari tidurnya. Ia menatap suaminya sesaat dan langsung beranjak menuju toilet buang air kecil.

Sebelum menuju toilet mama melewati dpaur terlebih dahulu. Namun, langkahnya terhenti. Dalam gelap lekat-lekat mama menatap seseorang di sana yang tengah melakukan sesuatu. Ia mengira itu maling dan mencoba mencari-cari pisau. Ia perlahan mendekat kemudian menghujam pisau tersebut tepat di jantung orang tersebut.

Seseorang yang ternyata Bik Sum itu berteriak histeris. Ayah dan rino refleks terbangun dan memisahkan mama yang agresif. Rino segera menelpon ambulans dan mendiamkan Bik Sum yang mulai susah bernapas.

Seminggu kemudian....

"Tidak, aku belum gila! Yang kubunuh malam itu maling. Aku yakin itu! Jangan masukkan aku ke tempat ini. Tidak! Tolong!" Mama meronta-ronta dibawa ke salah satu ruangan, kemudian disuntik bius hingga tak sadarkan diri.

Rino meneteskan air mata tak henti-henti, tak tega melihat mamanya. Ayah berusaha tegar. Ini pilihannya, memasukkan mama ke rumah sakit jiwa agar tidak ada lagi yang dilukai.

Seraya menangis Rino bergumam dalam hati, "meski Mama tak lagi selalu berada di sampingku, aku akan selalu menyayangimu, selamanya...." 

Fiyan. Bergiat di Relawan Literasi Jakarta. Domisili di Jalan Ulujami Raya  No 14 Gg Langgar RT 012/04 Ulujami Pesanggrahan Jakarta Selatan 12250

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fiyan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 31 Juli 2016



0 Response to "Alzheimer"