Andai Kau Laut - Sebongkah Imaji - Melayari Alun Gelombang - Melayari Alun Gelombang - Kau Menjaga Air Mata - Sepenggal Sisa Mimpi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Andai Kau Laut - Sebongkah Imaji - Melayari Alun Gelombang - Melayari Alun Gelombang - Kau Menjaga Air Mata - Sepenggal Sisa Mimpi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:00 Rating: 4,5

Andai Kau Laut - Sebongkah Imaji - Melayari Alun Gelombang - Melayari Alun Gelombang - Kau Menjaga Air Mata - Sepenggal Sisa Mimpi

Andai Kau Laut 

dalam tubuhmu mengalir darah cintaku
dalam jiwaku bersemayam lentur sajak-imajimu
ya— tapi kita saling berjauhan
saling berjauhan!

dalam matamu aku berenang
begitu riang
dalam hatiku kau berkisah
begitu gelisah

andai kau laut
sedalam apa pun akan kuselami!

Cilacap, 28 Oktober 2015 

Sebongkah Imaji 

akan sampai juga kau di pelabuhan terakhir
chin, sudah sekelat apa kulit tubuhmu
sudah sepekat apa zikirmu
sudah sehebat apa cintamu padanya
tak kau melaut lagi, tak kau berdarah lagi
ke bukit ke lembah langkahmu terarah
kaubangun rumah-cintamu dengan sebungkah
imaji
dengan sebongkah imaji!

Cilacap, 27 Oktober 2015 

Melayari Alun Gelombang 

merasuklah ke dalam darah tubuhku asin laut
aroma laut juga kelepak camar
aku berdiri di dermaga selalu dengan dada debar
perahuku berayun diterpa matahari senja
berlayar aku sepenuh keringat sedamai cinta
di sepanjang lautMu bibir dan batinku bergetar
dan hidup harus selalu bertarung
melayari alun gelombang!

Cilacap, 26 Oktober 2015 


Saat Tak Ada Kabut Senja 

tidak, tidak, aku tidak sedang membencimu! jerit
mu berulang-ulang
matamu menyala-nyala lalu dirimu mendendang
kan suara hatimu
: bila akhirnya kita tidak jadi bertemu, itu mungkin
hanya takdir saja!
lalu kau kulihat melaju dengan kekecewaanmu
menembus kabut senja dan hujan yang menderu
apakah dirimu suatu saat benar akan mene
muiku?
saat tak ada kabut senja— tak ada keraguan di
antara kita?

Cilacap, 26 Oktober 2015 

Kau Menjaga Air Mata 

pertemuan seperti katamu; bisa jadi pil pahit yang
harus ditelan
pertengkaran kecil menjadi besar lalu
saling diam saling menghindar untuk tidak makan, jalan, tidur
- berdua
jadi, kita selalu berjauhan saja, ya? ujarmu
aku tidak mengangguk tidak menggeleng
aku percaya waktu jualah yang akan mengujinya
sekerat mimpi aku timang-timang
kau menjaga airmata agar tidak menjelma genan
gan getir.

Cilacap, 25 Oktober 2015 

Sepenggal Sisa Mimpi 

sepenggal sisa mimpi kuharap tidak ikut terbakar
dan kuharap juga seberkas cahaya tersisa dari
sepenggal sisa mimpi
dari tubuh yang tertidur!

Cilacap, 25 Oktober 2015 

Eddy Pranata PNP, tinggal di Cirebah, Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), dan beberapa lainnya. Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain. (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eddy Pranata PNP

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu, 24 Juli 2016

0 Response to "Andai Kau Laut - Sebongkah Imaji - Melayari Alun Gelombang - Melayari Alun Gelombang - Kau Menjaga Air Mata - Sepenggal Sisa Mimpi "