Angin yang Bergegas - Dingin Talqin Bulan - Tentang Rumah - Pernah Kucatat di Sini - Nostalgia - Moksa - Ilusi - Detak Arloji - Kwatrin 1 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Angin yang Bergegas - Dingin Talqin Bulan - Tentang Rumah - Pernah Kucatat di Sini - Nostalgia - Moksa - Ilusi - Detak Arloji - Kwatrin 1 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:42 Rating: 4,5

Angin yang Bergegas - Dingin Talqin Bulan - Tentang Rumah - Pernah Kucatat di Sini - Nostalgia - Moksa - Ilusi - Detak Arloji - Kwatrin 1

Angin yang Bergegas

mengapa begitu bergegas menggedor pintu jendela
sedang aku belum sempat kenakan topi dan sepatu
secangkir kopi telanjur jadi basi
sedang angin di beranda tak lagi bisa diajak kompromi

Dingin Talqin Bulan

merayapi dingin dan beku wajah bulan
ada serapah gaib begitu risau
melontar tanya. teka-teki tak pernah terjawab

: siapkah engkau yang setia menyeberangi jalanan malam
menjeritkan talqin teramat panjang?

Siapa yang Tiba Pertama?
siapa akan tiba pertama saat cakrawala mabuk menyenggamai senja

kami pun lantas berbisik saling tuding
: malam telah pulang!

bergegas kami rapatkan jari
detik itu kamboja selipkan baunya di celah genting kamar

: duh, siapa yang harus tiba pertama untuk menyimak gagak bernyanyi?

Tentang Rumah

*) istert
kau selalu ingatkan bahwa mati tak pernah bisa ditunda

bukankah rumah adalah sebuah tanda
tempat rebahkan lelah atau tempat kita menyiapkan
medan pertempuran tanpa tepi.

Pernah Kucatat di Sini

*) Kris

pernah kucatat di sini dan tumbuh jadi prasasti
namamu dan juga kangen itu

ah, ada yang masih tersimpan
: ilusi yang tersisa untuk dongeng esok hari

Nostalgia

di kaca jendela itu masih tertinggal sisa kapak bulan

angin terus saja mendesak ke utara
siulkan melodi begitu ngeri

semuanya telah jadi sekadar kenangan
yang selalu tambah asing: seperti rajah tangan sendiri!

tinggal tersisa kepak bulan di kaca jendela itu
dan secuil kenangan seperti sepotong es krim meleleh dingin

Moksa

debu itu kisahkan lagi saat-saat perjumpaan kita
di sebuah dini hari yang begitu asing nyaris hening
ketika matahari merangkak pelan pantulkan bilah-bilah nur

debu itu pun lantunkan lagi tembang-tembang minjil
kidung rindu persenggamaan kita
seperti ombak berlari merayu pantai
seperti malam kasmaran pada rembulan

ah, debu itu. lebur Kita jadi satu

Tak Bolehkah Aku Sangsi
masihkah aku harus percaya pada penyair
kalau di tiap lorong malam masih tersisa jeritan

bukankah katamu dulu: puisi adalah nurani!

(tapi mengapa kota-kota masih berdarah?)

tak bolehkah aku sangsi jika penyair tak mampu lagi jujur
berpuisi

Ilusi

kemarin, pacarku datang dengan membawa seonggok tangis
merayuku agar sedi memetik matahari

esok harinya, isteriku datang dnegan air mata merengek
memintaku menyodok rembulan

hari ini, anakku perempuan datang
berlari-lari dari ujung lembah
memaksaku emmunguti bintang

kini, lihatlah: bumi jadi rabun. sendiri dengan masa silamnya

Detak Arloji

detak arloji itu tiba-tiba dentamkan bisu
langkahku yang renta dipaksa bergegas
tersuruk dalam puing-puing waktu berdaki

mata gerhana menikam

kaki terluka gemetar tapi tak bisa roboh
menyeret gagasku dalam belukar usia lapar dan sempit

gerhana kembali menyergap
menelanjangi tubuhku lantas tertawa menuding
Sambil kencingi sajak-sajakku

dari onggok sajak itu tercium bau pesing dan anyir
ulat belatung merayap nggerogoti wajahku

Kwatrin 1

ada yang masih harus tegak emnjaga bulan
sebab, malam tak lagi sudi berkawan!

Kwatrin 2

kapan kita snaggup membuat
sepi tak lagi berjarak

Nisan

ini rumah terakhir
tempat dialog bisu
penuh tanda tanya
sekadar senyap dan pilu

hanya jejak tak abadi dikenang
fana yang dicabik belatung


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 21 Agustus 2016




0 Response to "Angin yang Bergegas - Dingin Talqin Bulan - Tentang Rumah - Pernah Kucatat di Sini - Nostalgia - Moksa - Ilusi - Detak Arloji - Kwatrin 1"