Beef Steak ala Amore | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Beef Steak ala Amore Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:40 Rating: 4,5

Beef Steak ala Amore

KAMU di mana?

Itulah pesan yang pertama kali muncul saat aku mengaktifkan kembali ponsel. Sambil menyeringai, jemariku mengetik: saya baru landing 

Huruf R langsung tertanda pada pesanku tadi. jangan lupa, hari ini D-Day 

saya tidak lupa dan saya tidak takut. Tantangan apa?

Sebuah pesan gambar masuk. Sejenak kucermati sebelum membalas: saya ambil bahan nomor genap, kamu yang ganjil. Selebihnya terserah.

Ok, c u. Don’t be late.

Sebuah Alphard sudah menanti saat aku keluar dari bandara dan sopirnya langsung mengantarku pulang ke Bandung. Kebetulan lalu lintas Jakarta dan situasi jalan tol cukup bersahabat. Karena itu, sepertinya aku tidak usah terburu-buru. Banyak waktu luang untuk berpikir dan bersiap. Sejenak kubuka ulang pesan bergambar beef steak itu. Tepat di bawah gambar, kutilik bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan. Standar. Aku bisa memperoleh semua bahan itu sekaligus dari toko langgananku.

Sejenak saat mata terpejam, kenangan lama melintas. Bram yang tidak berijazah namun mewarisi darah keluarga pemasak andal. Dan aku yang berawal dari sebatas hobi lalu menimba ilmu mati-matian hingga ke Eropa demi mengejar impian sebagai koki terkenal.

Home sweet home. But which is the sweetest part? Setiap keluarga pastilah mempunyai jawaban dan alasan berbeda. Tapi sebagian besar pastilah akan menjawab ruang tengah karena di sanalah tempat seluruh penghuni rumah bertemu dan bercengkerama. Di sanalah hidup dinikmati dan berbagai kenangan hangat dibuat. Dapur hanyalah tempat memasak dan mencuci piring kotor. Hanya sekadar menyokong kebutuhan perut. Tapi tentu itu tidak berlaku bagiku dan Bram, yang sejak kecil sudah akrab dengan katel dan kompor. Karena bagi kami, makanan yang muncul dari dapur tidaklah sekadar sesuatu untuk menyenangkan lidah atau mengenyangkan perut. Ada perasaan tulus terkandung dalam setiap adukan di atas kompor. Suatu harapan untuk kebahagiaan dan kesehatan pada setiap taburan bumbu. Ya, kami sepakat bahwa dapur adalah jantung rumah tangga. Tanpa dapur yang berkobar, apalah artinya sebuah rumah semewah apapun itu. Di sinilah, dua hati yang berbeda akan dimasak dan dilebur menjadi sesuatu yang baru.

Saat tiba di rumah, ternyata Bram sudah menunggu di dapur. Tampaknya ia sudah tidak sabar lagi. Aku tidak akan terprovokasi. Dengan tenang, kukeluarkan bahan belanjaanku satu per satu di atas meja dapur.

“Tumben, kamu sampai rumah lebih cepat,” sapa Bram sambil melemparkan celemek ke arah saya.

“Jalanan kebetulan lancar,” kutangkap celemek itu dan langsung kukenakan. “Tapi tidak perlu basa-basi, berikan catatanmu.”

Ia menyodorkan sehelai kertas yang ditulis semrawut sementara aku balas menyodorkan ponsel pintarku. Sejenak kami saling berdiam diri untuk memahami ide masing-masing yang tertuang dalam kata-kata.

“Untuk apa bumbu rempah ini?” protesnya. “Yang akan kita buat adalah steak sapi panggang dengan saus keju yang bercita rasa lembut dan gurih. Tidak perlu ada rasa pedas-pedasan.”

“Pedas selalu membangkitkan selera dan sensasi,” jawabku singkat. “Kamu juga apa-apaan pula ini? Mengapa daging harus direndam selama ini?”

Kami mulai berdebat sengit. Masing-masing bersikukuh mempertahankan pendapat. Resep petunjuk pembuatan ditulis ulang pada sehelai kertas baru berdasarkan gabungan versi masing-masing yang disepakati.

Di atas meja persegi panjang itu, kami mengerahkan segenap kemampuan. Pisau mengiris. Sendok mengaduk. Panci berdentang. Air mendidih. Tapi terutama lidah bersilat.

“Saya menonton acara kamu minggu lalu,” ucap Bram. “Blus kamu ketat dan terbuka sekali. Saya tidak suka saat lelaki muda bajingan itu selalu mencuri-curi lirik ke arah belahan dada kamu. Rasanya ingin saya colok dua mata sapinya.”

“Ngomong apaan sih kamu? Itu kan hanya akal-akalan untuk mendongkrak rating,” sergahku. “Saya juga tidak suka dengan kasir baru restoran kamu yang centil dan sok cantik itu.”

“Sudah kupecat. Kerjanya tidak beres,” tukasnya. “Ada kesibukan apalagi kamu minggu ini? Harus ke Singapura lagi?”

“Ya, restoran baru itu baru berjalan sebulan dan belum stabil. Lagipula kontrak dengan pihak studio masih berlangsung hingga tiga bulan ke depan. Jadi selain sebagai konsultan, saya juga bertindak sebagai promotor. Ini adalah proyek sangat besar dan batu loncatan penting. Saya tidak boleh menyia-nyiakannya.”

“Kapan sih selesainya kesibukan kamu itu? Mimpi apalagi yang kamu kejar?”

Aku tidak menjawab.

Perlahan ia mengiris daging sapi itu. Kematangannya pas. Teksturnya bagus. Bram mengerjakan tugasnya dengan sangat baik. Sejenak mulutnya mengunyah lalu menggeleng-geleng. “Silakan kamu juga coba sendiri,” ucapnya masam.

Kuiris daging itu tipis saja lalu kusapukan pada saus sebelum kulahap. Dagingnya terasa empuk dan lembut tapi tidak menyatu dengan rasa sausnya.

“Ada yang aneh kan dengan sausnya?” cetus Bram.

“Tidak, sepertinya tidak ada yang salah,” aku mengelak.

“Jujur saja, tadi kamu banyak melamun,” tukas Bram kesal.

“Enak saja kamu ngomong,” spontan aku memekik mempertahankan diri.

Bram merutuk tidak jelas. “Kamu masih punya waktu dan tenaga?”

Aku tersentak. “Apa maksud kamu?”

“Kita akan membuatnya ulang.”

“Tapi bahan-bahan yang saya beli tidak cukup.”

“Belilah lagi, apa susahnya? Atau perlu saya yang membelikan untukmu?”

Sorot matanya penuh emosi. Nyaris saja aku terpancing meladeni. Untunglah kepalaku masih tetap dingin. Kusambar kunci mobil dan langsung pergi berbelanja. Kukira ada bagusnya juga agar ia bisa mendinginkan emosi sementara aku meredakan kepenatan kepala.

Pernikahan kami sudah menginjak tahun kelima. Banyak hal yang terjadi. Karierku melesat pesat bahkan jauh melebihi kesuksesan restoran Bram. Tapi penghasilan tidak pernah menjadi masalah. Aku selalu mencintai Bram begitu pula sebaliknya. Dalam diri Bram, kuperoleh segala yang kuinginkan dari suatu hubungan: pengertian dan dukungan. Hal pertama yang menyulut pertengkaran adalah tatap muka. Tentu saja, karena berbagai kesibukanku di luar yang memang sangat menyita waktu. Dalam sebulan, entah berapa kali aku bekerja di luar kota atau di luar negeri. Dan imbas berikutnya adalah kehadiran anak. Memang sudah sejak lama Bram menginginkan hal itu, tapi aku tidak pernah siap. Bukan karena aku tidak ingin menjadi seorang ibu. Tapi ada suatu hal yang sangat kutakutkan yang tidak diketahui siapapun, termasuk Bram, yaitu: perubahan. Ya, akan berubah menjadi seperti apakah hidupku setelah menjadi ibu nanti? Mimpi apa saja yang harus kukorbankan karenanya?

Bram tidak beranjak dari posisinya. Semua bahan maupun perlengkapan sudah dibersihkan dan disiapkan. Emosinya juga tampak sudah tenang. Sebelum memulai babak kedua, sejenak kami saling mendiskusikan berbagai kekurangan.

“Saya minta maaf jika hari ini banyak berkata kasar padamu,” ucap Bram ketika diskusi itu berakhir.
Aku tersentak lalu menggeleng sambil tersenyum tipis. “Tidak apa. Tadi saya juga memang melamun.”

Setelah itu, aku dan Bram kembali sibuk dengan tugas masing-masing. Sesekali Bram masih menyindir tapi aku tahu sebenarnya ia sedang diam-diam memperhatikan. Entah karena suasana yang lebih kondusif atau memang sudah terbiasa karena pernah gagal, babak kedua ini berlangsung lebih cepat. Steak sapi panggang bersaus kental keemasan meletup-letup itu tersaji begitu menggoda tepat di depan wajah. Sejenak kami saling bertatapan seolah bertanya siapa yang mau mencicipi lebih dulu. Tapi seperti biasa, Bram selalu lebih berinisiatif. Diirisnya steak itu dan dilahapnya. Sama sekali tidak ada perubahan pada air mukanya. Aku mulai cemas. Apakah aku mengacau lagi? Tapi saat berusaha meraih pisau, Bram langsung mencegah. Ia mengiris lagi steak itu, menusuk, lalu disuapkan padaku. Seketika itu pula aku serasa melayang ringan. Rasanya benar-benar luar biasa! Daging dan saus itu terasa begitu menyatu dan meleleh lembut di rongga mulut. Tingkat kematangannya juga tepat sekali steak itu terus diiris bergantian dan tahu-tahu saja ludes total. Bram bahkan sampai menggunakan jarinya untuk menyeka setiap tetes saus yang masih menempel di piring. 

“Ini benar-benar luar biasa,” cetusku. “Kita harus memberinya nama.”

Bram mengangguk setuju. “Beef Steak ala Amore.”

“Nama kamu banget, picisan,” aku terkekeh mengejek. “Tapi saya suka.”

Kami berdua saling bertatapan sejenak lalu spontan terbahak lepas. Terapi dapur ini terbukti sukses lagi. Kami memang sosok yang berbeda dalam banyak hal. Bram yang terus terang dan lebih suka beraksi. Sementara aku yang pemikir dan hati-hati. Tapi di dapur ini, kami saling melengkapi satu sama lain. Untuk satu kecocokan yang luar biasa inilah, kami seharusnya mengesampingkan segala perbedaan dan tetap bersama.

Sejenak kuamati wajahnya yang dekil dan berpeluh. Ada senyum dan binar puas yang menghias ceria. Ah, wajah itulah yang selalu kucintai. Wajah yang menyempurnakan hidupku. Betapa aku telah membuat wajah satu itu menderita karena terus menunggu selama ini. Aku memang pengecut yang keras kepala. Padahal selama ini, ia selalu mendukung dan menerimaku apa adanya. Tapi yang terus kupikirkan hanyalah ketakutan yang tidak-tidak. Sebenarnya bisa saja karena terus ngotot tidak mau berubah, aku justru malah akan kehilangan dia yang begitu berharga. Dan jikalau belahan jiwaku itu sampai hilang, rasanya lebih baik mati saja.

Sepertinya sudah waktunya sekarang aku yang mengalah dan menyesuaikan diri. Lagipula perubahan tidak selalu bermakna buruk kan? Aku harus berani. Toh jikalau aku sampai jatuh, Bram pasti akan muncul menolongku. Ya, di atas meja dapur ini segala masalah sesulit apa pun pasti bisa terselesaikan.

“Kamu masih punya waktu dan tenaga?” aku bertanya perlahan.

“Apa? Lagi?” Bram menatapku dengan ekspresi bingung tapi entah kenapa terlihat begitu menggairahkan. “Kamu tidak ....”

Kata-kata itu terhenti begitu saja saat aku melempar senyum menggoda dan menanggalkan celemek sambil meliuk sensual.

“Mari kita lanjut babak ketiga. Siapa tahu, saya bisa langsung memberikan apa yang kamu mau,” aku melepas perlahan kancing blus satu demi satu sambil bertanya retoris, “Di kamar atau langsung di sini?”

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jingga Bumi Han
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1458/XXVIII 1 - 7 Februari 2016

0 Response to "Beef Steak ala Amore"