Di Jalanan Yogya - Gerbang Merdeka untuk Setiap Mata - Apakah Jenis Kelamin Sepi? - Sayap Burung Kecil - Tanah Pacitan - Mimpi - Aku dan Kamu - Di Bawah Deras Hujan - Ku kan Datang - Semua yang Bergegas | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Jalanan Yogya - Gerbang Merdeka untuk Setiap Mata - Apakah Jenis Kelamin Sepi? - Sayap Burung Kecil - Tanah Pacitan - Mimpi - Aku dan Kamu - Di Bawah Deras Hujan - Ku kan Datang - Semua yang Bergegas Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Di Jalanan Yogya - Gerbang Merdeka untuk Setiap Mata - Apakah Jenis Kelamin Sepi? - Sayap Burung Kecil - Tanah Pacitan - Mimpi - Aku dan Kamu - Di Bawah Deras Hujan - Ku kan Datang - Semua yang Bergegas

Di Jalanan Yogya

aku melihat rembulan, separuh dan samar.
ia menatapku tapi aku tak berani terus menatapnya.
karena di bulan ada raksasa sedang melamun
mungkin mengenang cinta pertamanya.
raksasa itu telanjang bulat dan berwarna kabut.

apakah kamu takut dengan kenangan ?
bertemanlah dengan raksasa di bulan,
ia akan mengajarimu cara mengenal kenangan

tak ada lagi rumah, tak ada lagi arah, tak ada lagi lelah
semua akan bergerak menjadi kenangan.
juga aku dan kamu.

mesin perjalanan terus bersuara

2015-2016


Gerbang Merdeka untuk Setiap Mata

buat: Inggit Garnasih

seorang lelaki kecil datang padamu,
ia akan memelukmu dan tidur di sampingmu,
sebab ia ingin mengerami revolusi bersamamu. menyirami
dan menjemur kekuatan. mendengar renungan gunung-gu-
nung dan teriakan ombak lautan. bersamamu.
di sebuah pagi ketika semua manusia masih remaja. ketika
angin dan burung tak pernah berbohong, ia membuat nyala
yang meraungkan kata-kata yang tak lekang sepanjang
masa. terpujilah kepalan tangan-tangan muda. terpujilah lu-
ka-luka dan nama-nama yang membela tanah air.
sebongkah cinta membuat jalan petualangan: dari jeruji besi
hingga ke tanah-tanah seberang lautan. sebungkus nasi dan
segelinding telur darimu, menyusun perjuangan yang tak
pernah layu
dengarlah. keringat, luka dan air mata itu telah membuka
gerbang kemerdekaan. orang-orang yang berbaris sambil
bernyanyi-nyanyi. semuanya berkibar-kibar menatap bulan
dan matahari.
merdeka bertaburan di setiap sudut mata. di setiap detak
dada.

Yogya, Juni-Juli 2016

Apakah Jenis Kelamin Sepi?

Ia begitu perkasa mengoyak perasaan
dan lembut menguras air mata.

2015

Sayap Burung Kecil

gelombang mendatangiku tiada henti. aku tahu ia mengajak-
ku tertawa dan menari-nari. siapa yang tertidur di tengah laut-
an itu? ia seperti ibu waktu berbaring menyusuriku. suara na-
pas ibu adalah debur ombak yang memberiku mimpi-mimpi.
berulangkali rindu bersandar di punggung dan pundakku.
apakah aku sedang berjalan bersama air mata? sulit rasanya
menerjemahkan hati dan hari-hari. tapi sekarang aku tahu,
hati ini tengah tersenyum melihat kenangan, melihat
kesendrian dan melihat kepak sayap burung kecil yang ter-
bang bersamaku. entah ke mana...

Karangasem, Bali 2016

Tanah Pacitan

: Pandu dan Irul

aku mencintai tanah ini, karena
bukit-bukit, laut dan mataharinya berwarna muda
persis dengan kebahagiaan
persis keuletan dan keberanian.

110716

Mimpi

satu-satunya keadaan suci yang masih kumiliki

2003

Aku dan Kamu

jika memang semua relasi di dunia ini hanya karena kepentingan,
kekuasaan, pelarian dan tetek bengek tendensi.
maka kukatakan padamu: aku dan kamu adalah cinta yang
masih tersisa.

2015

Di Bawah Deras Hujan

air tak pernah melupakan tanah
tanah dan air berdialog sepanjang masa
mereka berdua tak mengenal bosan
tak pernah menua.

Sulit sekali melaksanakan cinta seperti mereka berdua.

22 Juni 2016

Ku kan Datang

sejauh mana burung-burung itu terbang
jika semua tempat adalah kenangan
jika perasaan bergelantung di perjalanan
jangan nantikan hujan di mataku
biarkan dingin sebab ku kan datang
membawakanmu setangkai waktu
tuk kau pasang di dadamu.
lupakan hujan
aku kan datang.

2010-2011

Semua yang Bergegas

: Pang
kita menangis dan tertawa untuk diri sendiri
untuk sebuah hidup yang akan datang
untuk manusia, hewan, dan tumbuhan
lalu menatap langit saat gelap dan terang

kita hanyalah pertemuan yang terus berjalan
saling berkejaran tak tentu arah.

pergi datang lalu hilang

Blitar, 2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Andy Sri Wahyudi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu, 7 Agustus 2016

0 Response to "Di Jalanan Yogya - Gerbang Merdeka untuk Setiap Mata - Apakah Jenis Kelamin Sepi? - Sayap Burung Kecil - Tanah Pacitan - Mimpi - Aku dan Kamu - Di Bawah Deras Hujan - Ku kan Datang - Semua yang Bergegas"