Djenema Dilarang Mencintai Kupu-Kupu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Djenema Dilarang Mencintai Kupu-Kupu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Djenema Dilarang Mencintai Kupu-Kupu

DJENEMA, gadis kecil itu membisu di bawah kolong meja. Kakinya menghitam dipenuhi lumpur karena habis lari-larian di hamparan semak-belukar belakang rumah. Ujung jemari tangannya berwarna merah akibat memetik puluhan kembang mawar yang tengah mekar. Matanya mengerjap-erjap bagai mata anak kucing. Ibunya belum berhenti mengomel. Djenema tampak makin ketakutan.
"SUDAH ratusan kali ibu bilang, jangan menangkap kupu-kupu." Djenema ingin sekali bertanya pada ibunya. Apakah kupu-kupu binatang penyebar virus, atau binatang yang suka menggigit, sehingga sang ibu selalu melarangnya untuk menangkap kupu-kupu? Namun gadis kecil itu tidak punya keberanian untuk bertanya. Mata ibunya akan melotot tajam setiap kali Djenema bercerita tentang kupu-kupu, sama seperti kejadian pagi ini.

"Jangan menambah beban ibu dengan pertanyaan kupu-kupumu itu. Bagi ibu, semua kupu-kupu berjenis kelamin jantan. Makanya ibu membencinya."

Ujar ibunya ketika mereka tiba di depan gedung tempat Djenema sekolah.

"Tapi ibu guru bilang, semua makhluk hidup mempunyai pasangan. Ada laki-laki dan ada perempuan. Kupu-kupu juga."

"Bisakah kamu tidak bertanya tentang kupu-kupu? Ibu lebih senang bila kamu bertanya tentang pelajaran matematika."

Ibunya menekankan suaranya ketika menyebutkan kupu-kupu. Djenema mengerti. Akhirnya dia memilih diam, lalu berlari masuk kelas tanpa mencium tangan ibunya. Djenema jengkel.


Ibunya mengembuskan napas dengan kasar. Sampai kapan dia melarang anaknya untuk tidak mencintai kupu-kupu. Anaknya telah kelas satu sekolah dasar. Dia semakin pintar bertanya banyak hal, terutama tentang kupu-kupu.

Di samping pagar sekolah tumbuh serumpun bunga dahlia berwarna kuning. Di atasnya menari-nari seekor kupu-kupu bersayap indah. Tanpa sadar, ditatapnya kupu-kupu itu cukup lama. Ah, sudah tujuh tahun, Lundra, ibunya Djenema, membenci kupu-kupu. Lundra membencinya sejak sebuah janin bersarang di rahimnya.

Lundra kelagapan ketika menyadari kehamilannya itu. Bagaimana dengan kuliahnya yang masih tingkat dua. Ayahnya juga akan sangat marah bila tahu dia hamil. Lundra ketakutan.

"David, aku hamil. Tolong nikahi aku."

Lundra nekat menjumpai David di tempat kerjanya. Mata kekasihnya terbelalak, namun detik berikutny tersenyum, walau senyum yang sedikit dipaksakan. David merengkuh tubuh Lunndra dalam dekapanny.

"Kita akan menikah. Lagi pula, aku sudah mapan dna cukup umur, sudah layak untuk berumahtangga. Besok aku akan pulang ke Bandung untuk memberitahukan ini pada keluargaku. Jangan cemas, aku akan segera melamarmu."

David mencium mesra kening Lundra. Sedikit beban Lundra terangkat. Perkataan David mampu menenangkan perasaannya. Ketika Lundra bersandar di dada bidang lelaki  itu, merasakan bulu dada bersentuhan dengan pipinya. Lundra akan terlelap dalam mimpi-mipi. Hatinya menjadi damai.

Glasswing butterfly, dalam bahasa Spanyol disebut Espejitos, artinya cermin. Ada jenis kupu-kupu dinamai demikian karena sayapnya transparan. Sangat indanh bak hamparan es sehingga bisa bercermin di atasnya. Bagi Lundra, David adalah glasswing glasswing butterfly. Tubuhnya tinggi tegap, memiliki sorot mata tajam dan rahang kokoh. Yang membuat David semakin mirip dengan glasswing butterfly, pipinya mulus bak poselen. Kulitnya putih hingga urat-urat lehernya terlihat samar. Lundra memanggil David dengan sebutan Lelaki Kupu-Kupu.

David sering memberi Lundra barang-barang yang ada aksesori kupu-kupunya. Ketika Lundra ulang tahun yang kedua puluh, David menghadiahi Lundra sepasang high heels warna hitam bergambar kupu-kupu. Lundra luar biasa senang. Dia memeluk David erat sekali. Tanpa sadar, membalas setiap pagutan David yang menghujani biir basahnya. Udara langsung terasa panas. Mereka pindah tempat, menggeliat di bawah sleimut, lalu melempar pakaian ke lantai karena tubuh mereka seketika berkeringat. Kejadian di hari ulang tahun itu membuat Lundra hamil.

Setelah Lundra memberitahu perihal kehamilannya, David langsung berangkat ke Bandung keesokan harinya. Di stasiun kerte, Lundra melepas David dengan linangan air mata. David menjadi tidak tega untuk berangkat. Dia menghapus air mata Lundra dnegan sapu tangan miliknya bergambar kupu-kupu.

"Jangan menangis. Aku akan segera kembali untuk melamarmu."

David melangkah masuk ke dalam kereta. Siapa sangka, hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu. Satu jam setelah kereta melaju, nomor handphone David mendadak tidak aktif. Dan lelaki itu tidak pernah kembali lagi. Lundra tertipu. Semua perkataan manisnya tidak lebih manis dari sayap glasswing butterfly. Setiap malam, Lundra menangisi perutnya yang semakin memnuncit. Sejak itu, dia bersumpah akan membenci kupu-kupu.

**
DJENEMA sangat mencintai kupu-kupu. Sayapnya yang tipis sangat cantik memancarkan beaneka ragam warna. Djenema ingin sekali menjadi kupu-kupu, terbang bebas di udara lalu hinggap mengecupi bunga-bunga. Diam-diam, Djenema menggambar kupu-kupu di balik pintu kamarnya. Kupu-kupu bersayap transparan.

Tiba-tiba terdengar suara derap langkah menuju kamarnya. Djenema buru-buru menyembunyikan pensil gambar ke balik baju. Pintu terbuka. Tampak wajah Lundra menatap penuh selidik. Dari bola mata Djenema, Lundra tahu bila anaknya menyimpan sebuah rahasia. Refleks, dengan ujung jemari kakinya, Lundra mengaitkan pintu kamar. Di balik pintu tampak gambar seekor kupu-kupu. Lundra marah. Buru-buru tangannya bergerak hendak menghapus gambar itu.

"Ibu jangan menghapus gambar kupu-kupu itu. Nanti sayapnya hancur dan dia akan mati. Bila dia mati, Djenema juga akan ikut mati."

Djenema menangis. Tubuhnya terguncang, membuat pensil gambar berjatuhan dari balik bajunya. Lundra batal menghapus gambar kupu-kupu dari balik pintu. Dia menjadi iba melihat wajah anaknya bersimbah air mata. Air mata itu mengingatkan dia akan peristiwa tujuh tahun lalu, ketika dia ditinggal-pergi saat perutnya semakin membuncit.

Lundra meninggalkan Djenema. Dia berlari menuju kamarnya. Di sana dia menangis hingga sesenggukan. Dari bawah meja rias, dia mengangkat sebuah kotak berukuran besar lalu membantingkannya ke lantai. Dari dalam kotak berhamburan beraneka ragam barang yang semuanya ada gambar kupu-kupunya. Ketika melihat sepasang high heels warna hitam bergambar kupu-kupu, tangis Lundra meledak sembari menepuk-nepuk dadanya.

Dari lubang kunci pintu, Djenma mengintip. Djenema tidak tahu apa yang terjadi. Baru kali ini melihat ibunya sedih luar biasa. Mungkinkah semua itu karena gambar kupu-kupu? entahlah, Djenema belum mengerti.

**
DJENEMA telah tumbuh menjadi gadis yang cantik bagai seekor kupu-kupu yang baru mentas dari kepompong. Dia tidak pernah lagi membicarakan kupu-kupu di hadapan ibunya. Tapi bukan berarti berhenti mencintai makhluk bersayap indah itu. Dia tidak ingin melihat ibunya menangis, lalu membantingkan kotak berisi barang-barang bermotif kupu-kupu ke lantai seperti bebeapa tahun silam.

Di kampus, Djenema mengenal seorang pemuda tampan bernama Amzar. Sehabis jam kuliah, pemuda itu sering membawa Djenma ke sebuah taman yang dipenuhi kupu-kupu. Djenema seakan kembali ke masa lalu, berlarian di hamparan semak belukar di belakang rumahnya smebari memetik kembang mawar dan menangkap kupu-kupu.

"Aku ingin sekali menikah muda, agar aku sempat melihat anak-anakku tumbuh dewasa sebelum aku tua renta. Kelak, anak-anakku bisa menemaniku berburu babi hutan dan menangkap kupu-kupu. Kupu-kupu itu akan kami berikan untukmu."

Ujar Amzar setahun lalu ketika mereka duduk di bangku taman di suatu sore. Djenema menatap Amzar sesaat mencari keseriusan di bola matanya.

"Kita masih semester dua. Terlalu cepat memikirkan tentang pernikahan."

"Aku anak semata wayang. Tidak masalah kalau kita mneikah muda. Kekayaan orangtuaku tidak akan habis tujuh turunan."

"Kamu terlalu sombong."

Amzar terkekeh menanggapi perkataan Djenema.

Djenema tersadar dari lamunan. Kini dia mendapati dirinya tengah berdiri di depan pintu kamar ibunya. Apakah berdosa jika memasuki kamar ibunya secara diam-diam? Tangannya bergerak memutar handle pintu. Dia masuk dan berjalan menuju meja rias, lalu menarik sebuah kotak dari bawah meja rias itu. Djenema membukanya dan mengeluarkan sepasang high heels warna hitam bergambar kupu-kupu. Dia mencoba sepatu itu dan berpose di depan kaca.

"Mengapa membuka kotak itu. Apa belum bisa melupakan kupu-kupu?"

Djenema terperanjat begitu melihat ibunya berdiri di mulut pintu.

"Maafkan Djenema, Bu. Dari kecil, aku sudah melihat sepatu ini. Aku menyukainya. Ingin memakai sepatu ini di hari pernikahanku nanti."

Djenema menunduk.

"Kamu terlalu cepat memikirkan pernikahan. Selesaikan dulu kuliahmu. Dan jangan menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan kupu-kupu pada ibu. Itu sama saja akan memperpendek umur ibu."

"Tapi sebentar lagi aku akan menikah, Bu. Minggu depan keluarga Amzar, calon suami Djenema akan datang melamar. Sekali lagi, Djenma minta maaf tidak pernah menceritakan ini sebelumnya pada ibu."

Djenema membuka dompet, lalu mengeluarkan sebuah foto dari dalam.

"Dia calon suami Djenema, Bu."

Ibunya menatap foto itu. Lelaki dalam foto memiliki sorot mata tajam, rambut hitam ikal, rahang kokoh dan kulit putih bersih bercahaya.

"Ibu tidak menyukai lelaki ini. Wajahnya mengingatkan ibu pada seekor kupu-kupu."

"Bagaimana mungkin wajahnya mengingatkan ibu pada seekor kupu-kupu. Sedikitpun dia tidak mirip dengan kupu-kupu. Ibu sudah gila."

Djenema marah

"Ibu serius, nak. Dia mirip dengan kupu-kupu."

"Ibu mengada-ada. Pokoknya, Djenema akan menikah dengan dia."

Djenema buang muka. Tidak peduli dengan wajah ibunya yang seketika berubah mendung.

**
KELUARGA Amzar yang akan melamar Djenema telah datang. Begitu Lundra membuka pintu, seraut wajah yang dia lihat kemarin dalam foto, kini berada di hadapannya. Wajahnya sungguh mirip dengan glasswing buterfly. Di belakang lelaki calon suami puterinya, Lundra melihat sosok lelaki yang cukup membuatnya ingin mati seketika. Sampai kapan pun Lundra tidak akan melupakan wajah itu. Dialah lelaki kupu-kupu yang meninggalkan Lundra di stasiun kereta puluhan tahun silam. Lelaki itu juga tidak kalah kaget, bahkan kakinya tampak gemetaran.

"Dia itu siapa."

Lundra menunjuk lelaki kupu-kupu itu.

"Dia calon mertua Djenema, Bu."

Djenema menyahut.

"Lamaran ini dibatalkan."

Lundra berteriak histeris.

"Sejak dulu, ibu sudah bilang, jangan mencintai kupu-kupu. Inilah akibatnya."

Air mata Lundra bercucuran.

"Semoga hubunganmu dengan pemuda itu belum terlalu jauh."

Lanjut Lundra sembari memeluk tubuh Djenema erat. Sejak puluhan tahun silam hingga sekarang, Lundra akan selalu membenci kupu-kupu, terlebih jenis glasswing butterfly. Djenema bingung melihat sikap ibunya. Bagaimana mungkin, pernikahannya dnegan Amzar akan dibatalkan. Janin di dalam perutnya butuh seorang ayah.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dody Wardy Manalu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 14 Agustus 2016

0 Response to "Djenema Dilarang Mencintai Kupu-Kupu"