Doa - Usia Merenta - Malam Lebaran - Gelegak Hujan - Pada Mata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Doa - Usia Merenta - Malam Lebaran - Gelegak Hujan - Pada Mata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:00 Rating: 4,5

Doa - Usia Merenta - Malam Lebaran - Gelegak Hujan - Pada Mata

Doa

Kalau pun terang telah menyiapkan siang
Diam-diam awan sembunyi dan butiran udara menepi.
Sungguh, cuaca kian mendekatkanku pada rindu

Pada padang gersang kusisakan satu-dua ilalang
Menunjuk langit menebarkan aroma sangit.
Dan membakar wirid kata yang gemetar

Selangkah menuju subuh
Hilang segala keluh. Pasrah diri sepenuh.
Ruh dan tubuh menyatu utuh

Malam belum jadi suluh.
Rembulan tinggal separuh.
Doa mengucur dari ruh.

Mengaliri sungai nadi
di sekujur tubuh. Di hadapanmu
segala luruh

Berjalan meniti sepi
Dalam lelap. Tanpa buih mimpi.
Luluh tubuh dalam jiwa lesap.

Di sekujur ruang Abadimu

2016 


Usia Merenta

Sebatang anak panah gelisah
Padahal ia sudah berkemas
di busur gagah tengadah

Arah sudah dihitung
sesuai angin lengkung
Hanya dengus berembus

Serangkaian nadi mengirim nada
sunyi. Seperti sungai berteriak nyeri

Seperti waktu tenggelamkan laku.


Malam Lebaran

di ranjang, takbir terus mengalir di luar dinding

Terlalu banyak keluh. Bau ruh
di sepanjang lorong menyisir ruang
Seperti denting jarum jatuh
bergantian menusuk kulit. Hilang sakit

Terlalu banyak harap. Jam singkap
Saat bezuk doa-doa terungkap
Siapa berdiri di kaki ranjang
Berulang meniup namaMu. Riang

Sayapnya lembut bagai sutra
Mengusap dagu hingga beku

Di luar lebaran mengalir tak berakhir.

Gelegak Hujan

Tak ada yang lebih hunjam dari sekian kemarahan
hujan
Langit melempar gelap. Guruh tak segan menggun
cang awan lebat
Hingga air jatuh dari mata para pengawal senja

Tak ada yang lebih suara dari dentum langit murka
Kau tutup muka dan tak kau biarkan barang sekejap
menyebut nama orang-orang kehilangan muka. Mata
dan muka sudah lama tak bersapa

Tak ada yang lebih meluap dari kekecewaan tebing
yang dilongsorkan bah hingga tanah hilang marwah
Menjadi lumpur mengabaikan sumur

hingga tak lagi ada kata yang saling tawur

Tak ada yang lebih sajak dari sebuah gelegak
yang menyer ombak di geladak.

Pada Mata

Pada mata yang tak lagi berkaca-kaca
Bayang mengendap memilah kata

Pada mata yang menandai bijak kata
Makna mengudara meremas tanda

Pada kaca yang tak memindai mata
Harap cuaca sisihkan duka

Pada nada tak bermata
Suara tak lagi bertanya.


*) Slamet Riyadi Sabrawi, meninggal Sabtu (13/8) pukul 22,00. Puisi ini dikirim menjelang Lebaran 2016. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Slamet Riyadi Sabrawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 21 Agustus 2016

0 Response to "Doa - Usia Merenta - Malam Lebaran - Gelegak Hujan - Pada Mata"