Halusinasi Sherry | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Halusinasi Sherry Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:13 Rating: 4,5

Halusinasi Sherry

SAYA Sherry. Seorang ibu dengan dua anak yang masih bocah dan memiliki kehidupan yang sangat bahagia. Ya, kehidupan saya bahagia. Tak memiliki masalah dan semuanya berjalan lancar. Ah, ya, kecuali suami saya. Laki-laki itu agak kurang waras. Saya menduga, ia menunjukan sikap yang demikian hanya untuk menutupi perbuatan serongnya.

Mas Djumadi, suami saya, dulunya adalah orang yang baik, lembut, dan sabar. Tak sekalipun permintaan saya ditolaknya. Selalu dipenuhi dengan alasan kasih sayang.

Kami bertemu laiknya dalam film atau sinetron cinta-cintaan. Ia pulang ke Indonesia dalam keadaan kurang sehat. Baru saja ditugaskan berjaga sebagai tentara perdamaian di Timur Tengah. Suatu waktu kakinya tertembak. Sempat mendapat perawatan di sana meski tak sampai sembuh benar.

Sekembalinya ke negara sendiri, luka bekas tembak itu bengkak. Memerah dan bernanah. Buru-buru ia dibawa ke puskesmas tempat saya bertugas. Saya waktu itu adalah seorang mahasiswa perawat yang sedang menempuh beberapa sks pendidikan dengan magang di puskesmas di daerah sebagai salah satu syarat kelulusan.

Mas Djumadi terkesan dengan cara merawat saya. Tangan dan perhatian saya yang membersihkan luka bernanah itu serasa belaian tangan bidadari surga. Tutulan obat cair pada bekas luka yang membengkak itu seolah tiupan lembut malaikat yang mampu menggetarkan dawai surga. Bebatan perban yang saya rapatkan perlahan dan sangat hati-hati terasa seperti pelukan bunga desa.

“Ah, Mas Djumadi bisa saja.” Saya tersipu, sungguh. Selang beberapa saat saya mengangguk sebagai jawaban “ya” atas pernyataan cintanya. Setelah saya lulus kuliah, kami menikah, dan keluarga kami bahagia. Sangat bahagia.

Kehamilan pertama saya kandas alias saya mengalami keguguran. Mas Djumadi memeluk saya yang menangis gemetaran. Ini salah saya karena tak menjaga kandungan dengan baik. Sebagai seorang perawat seharusnya saya bisa lebih telaten dan menjaga bakal anak kami dengan baik.

“Tenangkan dirimu.” Mas Djumadi memeluk erat tubuh saya. “Bakal anak kita pasti telah bahagia di surga.”
Ya, bakal anak kami telah bahagia di surga.

Kehamilan kedua yang berjarak setahun bernasib sama. Saya mengalami lemah kandungan dan bakal anak kami lolos untuk kedua kalinya. Saya menangis gemetaran.Mas Djumadi kembali menenangkan.

“Ini salah saya, Cinta,” isak saya dalam bekapan dada bidangnya. Keringatnya bau matahari. Maklum, ia seorang tentara. Sebenarnya saya tidak pernah nyaman dengan aroma badan suami saya, tapi saya tahan.

“Tidak, tidak. Ini bukan salah kamu. Ini salahku yang tak memberi perhatian penuh. Juga tak menjagamu dengan baik.” Mas Djumadi terus merapatkan pelukannya di tubuh saya. “Kau tak boleh menyalahkan diri sendiri seperti ini. Kau layak bahagia.”

Benar, saya layak bahagia. Saya tak boleh lama-lama bersedih. Kedua bakal bayi kami pasti juga sedang bahagia di alam sana; di surga.

Saya kemudian mengisi hari-hari dengan kegiatan bermutu; menonton sinetron dan tayangan infotainment di televisi. Oh ya, sejak saya dua kali miskram, suami yang begitu penuh cinta itu melarang saya bekerja. Saya harus menjaga kesehatan dengan tak boleh bersusah payah mencari penghasilan. Biar ia saja yang membanting tulang.

Tentu saja, saya sangat bahagia. Bahagia sekali. Setiap pagi saya mengantar suami hingga pintu depan rumah. Kening saya dikecup dan dibisikkannya kalimat mesra, “I love you.”

Hari-hari berjalan dengan baik dan semestinya. Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Tayangan drama yang penuh nuansa melankolis tak menarik lagi di hati saya. Berita dan gosip selebritis mulai membosankan karena polanya sudah bisa saya tebak; begitu-begitu saja. Mas Djumadi terus tekun bekerja. Akhir-akhir ini sering lembur dan jarang pulang.

Hati saya mulai dilanda kesepian yang amat sangat. Ah, seandainya saya bisa begitu pandai menjaga kandungan. Pasti hari-hari sepi begini tak lagi menyayat hati. Selama berminggu-minggu saya menghabiskan waktu dan hari dengan melamun.

***
Hingga suatu siang, pintu rumah diketuk oleh seseorang. Entah karena suara tamu yang mengucap permisi terlalu lirih atau saya yang melamun terlalu dalam, saya baru sadar agak lama. Saya beranjak membuka pintu.
Dua bocah laki-laki dan perempuan berdiri mendongak dengan tatapan penuh cinta. “Ibu,” panggil mereka.
“Oh, anak-anakku….” Saya berjongkok dan memeluk mereka dengan air mata berderai. Anak-anak saya telah tumbuh sedemikian besar. Begitu tampan dan cantik. Saya memberi mereka nama Peter dan Natalia.
Mereka menemani saya menonton televisi. Saat mengobrol, saya baru menyadari ada tato berupa sayap kecil di tengkuk mereka.

“Ini tanda bahwa kami turun dari surga, Ibu,” jelas Pete.

“Kami diutus turun supaya Ibu tak lagi bermuram dan bersedih.” Nat turut menjelaskan sembari memeluk tubuh saya erat.

Air mata saya berderai karena haru yang teramat sangat.

***
Kami tinggal bersama. Suami saya seolah tak peduli dan tak pernah menyapa anak-anak kami. Saya memahaminya sebagai sikap ia terlalu letih bekerja. Tapi anak-anak kami tidak. Suatu hari di sebuah siang yang penuh kantuk, tiba-tiba Nat turun dari pangkuan saya dan bertanya, “Menurut Ibu, apakah ayah tidak sedang berselingkuh?”

Saya terbangun kaget. Bagaimana bisa seorang bocah di bawah usia lima tahun sudah mengenal kata selingkuh?

“Betul, Ibu,” Pete turut menambahi. “Ayah jarang pulang. Selalu beralasan lembur. Kadang ditugaskan di luar kota dan daerah. Bagaimana kalau sebenarnya ayah hanya mengada-ada?”

Pikiran saya segera saja dipenuhi oleh rekaman-rekaman tayangan perselingkuhan artis-selebritis di tayangan infotainment. Seketika itu hati saya cemas bukan main. Anak-anak saya bukannya menenangkan tapi perkataan mereka semakin menambah khawatir.

Begitu suami saya pulang bertugas dari luar daerah, saya segera semprot dengan kata-kata dan makian keras. Saya sebutkan bahwa perempuan berdada besar seperti Julia Perez atau Dewi Perssik-lah yang membuatnya tega berbuat serong. Suami saya melongo tak mengerti. Saya menganggap tindakan tersebut sebagai sikap pura-pura. Kejadian ini berlangsung tak hanya sekali.

Setiap kali suami saya lembur atau mendapat tugas kerja di luar kota, Pete dan Nat membombardir pikiran saya dengan praduga-praduga buruk. Begitu suami saya tiba di rumah, tuduhan busuk itu saya semburkan tepat di mukanya tanpa tedeng aling-aling.

“Kau sudah tak memedulikan saya!”

“Aku peduli padamu!” sanggah suami saya dengan suara yang juga tak kalah tinggi.

“Setidaknya, ingatlah kedua anakmu saat kau melakukan perbuatan menyeleweng itu!” Saya mulai mengurai air mata. “Saya boleh kau abaikan, tapi anak kita jangan.”

“Anak-anak yang mana!?”

Hati saya hancur mendengar perkataan suami saya. Bahkan ia tak sudi mengakui buah hatinya sendiri. Mas Djumadi cintaku dan sayangku, sudah sedemikian berubah.

Rumah tangga kami berantakan. Setiap kali suami saya memberi kabar bahwa ia tak akan pulang selama beberapa hari ke depan, saya uring-uringan. Hingga suatu saat Pete dan Nat membujuk supaya saya menyusul ke tempat kerja. Mereka punya firasat bahwa ayah mereka kini sedang duduk berpangkuan dengan seorang wanita menor nan bahenol.

Saya gelap pikiran. Menuruti permintaan kedua buah hati saya yang tercinta, saya pergi ke menyusul. Setiba di sana, saya berteriak keras memanggil nama suami saya.

Keributan ini mengundang banyak perhatian. Suami saya keluar dengan raut muka terperanjat. Ia mencoba menenangkan saya tak juga kunjung tenang. Saya berhasil dibawa pulang.

Di rumah mas Djumadi menanyai saya macam-macam. Saya coba jelaskan bahwa anak kami yang membujuk saya untuk menyusulnya di kantor.

“Anak yang mana!?” Suara Mas Djumadi begitu meninggi. Ia menuding bahwa saya hanya berhalusinasi. Kedua anak kami sudah meninggal dunia bahkan sebelum sempurna menjadi jabang bayi.

Halusinasi? Ulang saya bergetar dalam hati. Betapa tega laki-laki itu menyebut kedua buah hati kami sebagai khayalan semata. Saya mengamuk sejadi-jadinya. Barang-barang di dalam rumah saya lempar ke arahnya, ke dinding, keluar rumah.

Saya tak mengerti betul ke mana akal sehat dan kewarasan saya waktu itu. Saya hanya merasakan sakit yang teramat sangat. Mas Djumadi sedikit kesulitan meringkus, namun akhirnya tubuh lemah saya takluk dalam dekapannya.

***
Sherry mendongak. Sunggingan senyumnya terlihat begitu ganjil.

“Mas Djumadi masih kerap mengunjungi saya di sini. Ia prihatin karena saya tetap bersikeras menganggap kedua anak kami, Pete dan Nat, benar-benar ada. Menurutnya, dua bocah yang hadir dalam kehidupan saya sekarang ini hanyalah bayangan semu yang lahir karena saya kesepian dan menderita batin. Tayangan sinetron dan infotainment itu membikin saya menjadi kurang waras. Padahal, jelas-jelas Pete dan Nat masih setia menemani saya. Tuh, mereka berdiri di luar menunggu saya selesai terapi.“

Senyum Sherry Fuschianotes masih ganjil. Ia melambai ke arah pintu. Tak nampak siapapun di sana. Seorang suster dalam pakaian seragam, menggamit lengan perempuan berambut tergerai berantakan sebahu itu kembali ke kamar. Sesi terapi kejiwaan Sherry untuk hari ini telah usai.

Tak ada satu pun dari cerita Sherry yang bisa dipercaya. ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dayita Manahapsari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Solo Pos" edisi Minggu 31 Juli 2016

0 Response to "Halusinasi Sherry"