Hujan Kontemporer | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hujan Kontemporer Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:30 Rating: 4,5

Hujan Kontemporer

ADA hujan di dada Lastari. Sepulang dari rumah sakit seakan hujan itu turun. Setiap hari Lastari selalu merasakan ada yang berguguran di tubuhnya. Sembilu yang menghadirkan cahaya mendung dengan arak-arak awan kelabu. Kemudian disusul oleh gericik air yang mengalun pelan; menyelinap di antara kesunyian yang lindap. Entah apa itu. Lastari tidak tahu tepatnya. Sangat sulit dijelaskan. Akan tetapi pada setiap detik yang merangkak, hela napas, rasa sepi yang datang dan membelenggu; Lastari acap merasakan dingin dari tampias air hujan di dalam dadanya. Hujan dengan rinai-rinai kecil dan lembut membasahi sela-sela rongga dadanya.

Siang itu demikian. Di serambi rumah—ketika Lastari duduk berdua dengan suminya menikmati teh dan senja yang cerah—kembali ia merasakan hujan di dalam dadanya berguguran. Ia merasakan ada getaran dari amukan badai; kilat yang mengerjab-ngerjab. Amukan hujan yang mematahkan ranting-ranting pohon; membuat jalanan berkubang; senyap menenggelamkan diri dalam kefanaan. Tubuh Lastari mendadak meremang. Gigil menyentak sarafnya. Hingga kemudian wajahnya yang semula cerah menjadi pucat. Dan suminya yang menyadari hal itu memadang penuh tanya. Pria itu merasa janggal.  

“Mengapa tubuhmu bergetaran seperti itu, sayang?” tanya suaminya.

“Aku merasa ada hujan,” jawab Lastari apa adanya.

Setelah mendengar kata hujan suaminya membuang sepasang matanya ke langit. Tidak puas dengan apa yang dilihatnya, pria itu bangkit dan langsung menengadah. Suminya kemudian meneliti dengan cermat gundukan awan. Tidak ada awan mendung di sana. Langit cerah dengan lanskap merah senja. Pria itu kembali menatap Lastari. Keriput di kening pria itu bertambah banyak.

“Tidak ada tanda-tanda hujan di luar,” dengus suaminya.

“Bukan di sana. Tapi hujan yang aku rasakan ada di sini, sayang,” jari Lastari melompat ke arah dadanya. “Hujan itu ada di dadaku. Dengan petir dan pohon-pohon tumbang.”

Suminya benar-benar tidak mengerti. “Maksudmu?”

Lastari—sedikit bosan—kembali menjelaskan. “Ada hujan di dalam dadaku.”

“Kau pasti bercanda,” suminya tergelak. “Gila! Tidak ada hujan di dalam dada.”

Pada saat berdebat Lastari merasakan hujan di dalam dadanya semakin deras. Hujan itu turun bersama ribut angin dan petir. Tubuh Lastari yang tak kuasa menahan luapan air hujan, membuat wajahnya pucat. Bahkan—mungkin—Lastari sudah menyurupai mayat hidup. Sedangkan suaminya terus mengawasi tingkah ganjilnya. Pria itu mengamati perubahan fisik yang terjadi pada Lastari. Pria itu terlihat gamang, dan tidak tahu harus berbuat apa. Hanya sesekali ia menyeka keringat yang mengucur dari kening Lastari.

“Sepertinya kau sakit,” kata suaminya. “Kau terserang demam.”

“Tidak. Aku tidak sakit. Aku hanya kedinginan karena hujan.”

Suaminya terdiam. Barangkali benar kalau pria itu tidak dapat merasakan sesuatu yang terdapat dalam dirinya, pikir Lastari. Hanya dirinya yang dapat mengerti tentang hujan lebat yang sedang turun itu. Orang lain tidak dapat mendengar petir yang mengerjab, tampias air, dan kersak patahan ranting dari amukan badai. Lastari mencoba berdiri. Kemudian melangkah beberapa meter dengan payah. Terhuyung-huyung. Langkah Lastari sempat goyah. Terjengkang.

“Kau sakit, sayang?” Tegas suaminya lagi. “Aku antar ke dokter ya?”

“Aku tidak sakit,” Lastari mencoba kuat. “Aku hanya merasakan ada hujan di...”

“Tidak ada hujan di sini atau di mana pun. Pasti kau mengigau karena demam,” suaminya mendekat. “Kita perlu pergi ke dokter.”

Suminya termangu. Sepasang matanya yang penuh tanya menelisik ke arah Lastari. Air muka suaminya berubah. Kini tidak hanya penuh lipatan, tetapi penuh perasangka. Karena tidak ada respon dari suminya, Lastari bangkit. Gontai. Lemas. Namun hujan yang turun di dadanya semakin gaduh. Segalanya menjadi bertambah berantakan. Air hujan membuncah ke mana-mana. Pria itu masih termenung-menung tak mengerti. Pria itu hanya melirik langit senja yang kini terlihat merah dan sendu. Memperhatikan kenyataan tak ada mendung atau badai di langit.

***
Hujan di dada Lastari memang tidak ada yang dapat mengerti. Hujan itu—mungkin—tidak ada yang dapat mendengarnya selain dirinya sendiri. Begitu juga dengan suaminya yang telah hidup bersama beberapa tahun terakhir. Hujan itu hanya ada di dada Lastari. Dan di sanalah hujan itu turun dengan sendu dan abadi. Secara harfiah hujan itu mulai turun sejak Lastari dinyatakan mandul oleh dokter. Ia merasa setiap waktu selalu ada hujan. Hujan dengan desing halilintar yang nyaring. Desir angin yang merontokkan apapun. Hujan yang tidak memberikan sedikit jeda untuk harapan menelisik di antara remang sinar mendung.

Dunia seakan tidak memberikan tempat untuk harapan-harapannya. Tidak juga kesempatan untuk Lastari membuat bahagia suaminya. Karena Lastari paham kalau dirinya: tidak bisa memberikan keturunan untuk suminya. Namun Lastari mencoba tabah menerima kenyataan. Ia mencoba hidup dalam ruang kosong di dalam tubuhnya: rahim yang dinyatakan mandul. Walau kemudian—setelah mencoba tabah—yang Lastari rasakan tetap saja perasaan dingin dari hujan yang turun di dalam dadanya. Rongga kosong itu akhirnya hanya dipenuhi  oleh kesedihan dari kucuran hujan mengguyur setiap waktu.

Namun Lastari bersyukur memiliki seorang suami yang tabah dan baik merawat kesedihannya. Perhatian suaminya tidak pernah kurang: “Setiap hari kau tampak semakin pucat, sayang.”

Jawab Lastari jujur. “Hujan itu kembali turun, sayang.”

“Kau ngawur! Tak ada hujan di mana pun.”

Lasari tersenyum kecut. Lupa. Suaminya tidak pernah dapat mendengar tampias air hujan di dalam dadanya. Lastari mengangguk. Dan meminta maaf. Dengan langkah berat—akibat ditimbuni air hujan—mendekati suaminya. Menatapnya. “Ahh, memang tidak ada hujan. Maafkan aku melantur lagi.”

“Kau sakit?” Tanya suaminya datar. “Kita ke rumah sakit ya. Wajahmu semakin pucat.”

Lastari hanya diam. Wanita itu mencoba menghentikan hujan di dalam dadanya, tetapi hujan itu tidak mau berhenti. Hujan itu malah semakin deras. Sejenak ia termenung dan berpikir: Apakah diriku sudah gila? Namun hempas tampias, gelegar petir, dan suara-suara katak yang menyambut hujan itu terasa nyata. Tiba-tiba hujan di dadanya bertambah deras. Disusul dengan gelegar petir menyambar-nyambar dan merusak segalanya. Lastari akhirnya menahan segala rasa pedih di dadanya dari suaminya.

***
Siang itu karena merasa iba dengan kondisi Lastari yang terus memucat, suaminya membawa ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa Lastari tidak menemukan penyakit apapun. Dokter itu bingung. Kemudian Lastari menjelaskan kepada dokter apa yang membuat kedinginan dan pucat. Ia menceritkan: Ada sebuah hujan di dalam dadanya. Karena dokter itu ingin menjelaskan secara ilmiah dan membuktikan tidak ada hujan di dalam dada Lastari, ia dengan sabar—tanpa sepengetahuan suaminya—melakukan rontgen. Benar tidak ada hujan di dalam dada Lastari. Namun entah mengapa perasaan dingin itu terus menghujani Lastari. Hujan itu nyata.

“Kau mungkin hanya kelelahan,” kata dokter. “Kau terlalu banyak pikiran.”

Begitulah. Lastari dan suaminya pulang dengan tangan hampa. Akan tetapi, sepanjang jalan—dan sejauh Lastari menyangkal tidak ada hujan di dadanya—Lastari merasakan ada air hujan yang mulai menetes. Lastari kembali mendengar kerisut angin yang menggetarkan. Kemudian usik badai yang menghempas garang. Tak lama kemudian segerombolan awan mendung mengiring dan mengepal seluruh dadanya. Hujan turun. Namun Lastari bungkam. Ia membiarkan hujan itu turun. Ia tidak mencoba memberatkan suaminya dengan rengekan.

Dan berbulan-bulan kemudian, hujan di dalam dada Lastari tak pernah hilang. Bahkan tak ada pergantian musim di dalamnya. Hujan itu selalu turun. Hujan itu semakin parah menghempas karena kerenggangan hubungan antara Lastari dan suaminya. Lastari tahu semua ini pasti akan terjadi. Selama beberapa bulan mertuanya terus menuntut agar mereka lekas memiliki momongan. Akan tetapi karena rahim Lastari yang sudah tidak berfungsi, ia tidak dapat mengabulkan. Mereka akhirnya mengatakan segalanya: Lastari mandul. Mertuanya cukup terkejut dengan hal itu.

Awalnya mereka memaklumi. Namun seiring waktu—keluarga suaminya yang ingin memiliki seorang keturunan—membuat Lastari dan suaminya sering bertengkar. Suaminya menjadi uring-uringan. Sepulang dari kantor, suaminya tidak langsung pulang seperti biasa. Entah pergi ke mana. Sikap suaminya yang lembut berubah. Hingga kemudian—di suatu malam—dengan wajah lusuh suaminya mengajukan surat cerai. Pria itu merasa perlu memberikan keturuanan kepada keluarganya. Suaminya tidak ingin garis keturunan keluarganya terputus karena Lastari tidak bisa memberikan anak. Lastari hanya mengiyakan.

“Kau memiliki hak bahagia yang sama seperti setiap orang, sayang,” kata Lastari.

“Maafkan aku, sayang,” jawab suaminya bersalah.

Beberapa bulan kemudian mereka bercerai. Dengan cara yang baik-baik. Ini mungkin pilihan terakhir bagi mereka. Dan sehari setelah perceraian, Lastari lebih banyak mengahabiskan waktu termangu di serambi rumah menikmati hujan di dalam dadanya yang bermingu-minggu tak reda.

“Adakah seorang yang bisa merasakan atau mendengar hujan yang turun di dalam dadaku ini?”

Hujan itu terus turun. Lastari mendengar kecipak air, desir angin, dan nyayian hewan-hewan hujan di dalamnya. Lastari memejam mata. Hingga tiba-tiba ia terpelanting masuk ke dalam dadanya sendiri. Dan ia memang menemukan hujan di dadanya. Lastari lantas berlari-lari di antara kubangan yang diciptakan oleh hujan. Kemudian menangis menyembunyikan kesedihannya. Lastari tahu: hujan itu adalah kesedihannya, dan ia pun mendadak ingin tinggal bersama seluruh kesedihan yang berjatuhan di dalam dadanya itu. (*)

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013) dll. Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpennya telah tersiar di berbagai media. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi Minggu 31 Juli 2016

0 Response to "Hujan Kontemporer"