Kabar Hujan - Cerita Kapal - Menunggu Kemarau - Distikon Malam - Stasiun Tugu - Sketsa 1 - Perjalanan Sejarah - Sebait Sajak Terserak di Gondomanan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kabar Hujan - Cerita Kapal - Menunggu Kemarau - Distikon Malam - Stasiun Tugu - Sketsa 1 - Perjalanan Sejarah - Sebait Sajak Terserak di Gondomanan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Kabar Hujan - Cerita Kapal - Menunggu Kemarau - Distikon Malam - Stasiun Tugu - Sketsa 1 - Perjalanan Sejarah - Sebait Sajak Terserak di Gondomanan

Kabar Hujan

Adakah kabar  yang kau sampaikan bersama
hujan?
bukan sampah plastik berserak
atau lumpur sisa penggusuran tadi malam
apalagi tentang air mata yang
masih menggenang

Kabar apa yang kau bawa bersama hujan?
bukan komedi kopi pahit
ketika sawah dilalap hutan beton
tikus-tikus asyik bermain orkestra

Kabarkan pada hujan
dongeng masa lalu
yang telah lama terselip
bernama kitab suci

Jogja, 2015

Cerita Kapal

Nenek moyangku para pelaut
kau mencibir sambil tanganmu
tak berkecipak
di tengah air kecoklatan
sembari bernyanyi
bukan lautan hanya kolam susu

Tapi kau bilang
lautan itu hanya lukisan anak-anak
kapal-kapal kertas meluncur dari tangan
mungil
sambil cerita nun di samudera
ada kapal dibakar dan ditenggelamkan
tentu bukan kapal nabi nuh
karena perahu nuh telah sampai di daratan
dan menjelma menjadi bukit karang

Nenek moyangku para pelaut
kau kini malah bersenandung malu-malu
kapal-kapal kertas terus meluncur
sambil menjaga mimpi
tentang negeri berkolam susu
Lagi-lagi kau bersiul
dan kemudian bertanya
tentang lagu apa yang kau dendangkan

Jogja, 2015

Menunggu Kemarau

Menunggu kemarau ditemani gerimis
katak-katak bernyanyi
sembari melompat memainkan kecipak
di kolam dangkal bekas hujan lebat kemarin

Kemarau masih lama akan datang
karena matahari masih lelap
setelah malamnya bersenggama bersam aangin

Ceritakan saja tenang garengpung
yang hanya membawa isyarat
kemudian nyenyak tertidur
setelah dibuai dongeng bunda

Kemarau akan datang
dan mengajak kita main ciluba
dor kamu kena!

Jogja, Maret 2015

Distikon Malam

Bulan di pucuk cemara
tadi malam mimpi
bertemu Hud Hud
klangenan Kanjeng Nabi Sulaiman

Si Hud Hud cerita
tentang pergelaran komedi tragedi
dari negeri gemah ripah lohjinawi
Kau hanya ketawa
menganggap lelucon belaka
dan ketika kau menagih lanjutan cerita
Si Hud hud telanjur pergi
kembali dalam kanvas

Dan bulan telah lari dari pucuk cemara

Jogja, 2016

Stasiun Tugu

Kau catatkan tentang perjalanan dalam kertas
kecoklatan
kemudian kau gosokkan di rel memanjang
saat peluit menjerit
derak kereta api mulai terdengar

Jogja dan Surabaya apa bedanya
sama-sama sumpek
sama-sama pengap
tapi hidup mesti berjalan

Hidup ibarat kertas putih
kemudian tertiup angin
dan terlempar dalam got
dengan air kecoklatan
Kau ambil kertas dalam got
kemudian kau gosok sepatu usangmu
sambil bersenandung riang
menyambut matahari terbenam

Kau ingin doa?
pejamkan matamu dan lupakan.

Jogja, 2014

Sketsa 1

Tubuh-tubuh tanpa kepala bergerak menuju
kota
mereka berjalan, berjejal di setiap sudut
seusai intruksi dari pengeras suara
yang terpasang di tembok-tembok.
Tubuh-tubuh tanpa kepala itu
terus bergerak mengelilingi kota
arak-arakan yang mereka buat membikin
telinga pekak
pemimpin mereka berteriak hijau!
tubuh tanpa kepala mengibarkan bendera
hijau
pemimpi mereka berteriak merah!
tubuh tanpa kepala mengibarkan bendera
merah
kuning! Kata pemimpin meeka
bendera berkibar berganti kuning

Mereka terus bergerak, saling babat
para pemimpin mereka ketawa-ketawa
sambil memanjangkan hidung kebongan.

Jogja, 2016

Perjalanan Sejarah

Masih kuingat kata-katamu dulu
kalau sejarah itu ditorehkan di meja
disangga tumpukan mayat yang kalah
sambil menanti pesta perjamuan usai.

Tak ada malaikat mematahkan sayap
sebagai lambang duka cita atas kematian
pecundang
air mata telah habis untuk ditukar dengan
sepiring nasi
maka untuk mengenangnya, sebaiknya kita
berdoa dalam hati
sembari berharap bertemu Tuhan dalam
mimpi.

Jogja, 2016


Sebait Sajak Terserak di Gondomanan

            : Sunardian Wiradono
Sebait sajak terserak di Gondomanan
kata demi kata mengelupas
dengan huruf-huruf terus meloncat-loncat
menari-nari dalam angan, menyapa dalam
mimpi.

Masih kuingat betapa susahnya dulu
menyeret huruf demi huruf
jadi sebait puisi nan sakti
tapi huruf itu lebih liar dari binatang paling
jalang
yang satu bisa diseret yang lain kembali liar
di padang sabana.

Sebait sajak terserak di Gondomanan
huruf demi huruf menari-nari
kemudian terinjak sol sepatu
sepi!.

Jogja, 2016-08-24


Hamid Nuri, lahir di Jogjakarta, 8 Desember 1964. Karyanya antara lain terdapat di antologi puisi Di Bawah Lampu Mercuri dan Dari Qaimuddin Menjadi Kauman.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hamid Nuri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu 21 Agustus 2016

0 Response to "Kabar Hujan - Cerita Kapal - Menunggu Kemarau - Distikon Malam - Stasiun Tugu - Sketsa 1 - Perjalanan Sejarah - Sebait Sajak Terserak di Gondomanan"