Kain Ihram | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kain Ihram Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:13 Rating: 4,5

Kain Ihram

TIBA-TIBA ia sudah berdiri di hadapan kami. Tersenyum dan mengangsurkan kain ihram yang terlipat kepadaku. Aku, yang duduk paling dekat darinya, bingung dan hanya memandangnya dengan heran. 

Pemuda itu mengatakan sesuatu. Entah apa. Sesaat tampak ia sedang berpikir keras, seakan mencari cara tepat untuk menyampaikan keinginannya. Tak lama kemudian terlihat ia bergerak-gerik lucu. Telapak tangannya diletakkan di bawah dagu, kepala dimiringkan ke kanan. Dengan bahasa isyarat, sepertinya ia ingin mengatakan, ambil kain ihram ini, untuk tidur. Kembali ia menyodorkan kain ihram kepadaku. 

Segera kuterima pemberiannya sambil mengangguk takzim. Pemuda itu tertawa, sebelum pergi, menghilang di tengah lalu lalang ribuan orang yang sore itu memadati halaman Masjidil Haram. 

“Pasti ada yang tersembunyi di balik pemberian kain ihram itu,” kata Pak Rofiq. 

“Pemuda tadi tidak kenal kita lalu niat apa yang disembunyikan?” tanya Mas Nurdin. 

“Maksudku, rahasia yang tersembunyi adalah kehendak Allah. Tentu Allah punya tujuan dengan menggerakkan hati pemuda tadi hingga ia mau memberikan kain ihramnya. Aku bahkan yakin pemuda tadi malaikat.” 

“Kira-kira rahasia apa di balik pemberian itu, Pak?”

“Tak seorang pun tahu rahasia Ilahi. Namun aku percaya kain pemberian malaikat yang malih rupa jadi pemuda itu pertanda baik, siapa yang memilikinya ia dicintai Allah.”

“Soal rahasia Allah, aku percaya. Tapi aku sangsi kalau pemuda tadi jelmaan malaikat.”

“Pak Nurdin mesti ingat, kain itu bukan sembarang kain. Itu kain ihram! Kita harus berprasangka baik pada apa pun pemberian Allah. Apalagi itu diberikan secara misterius di Baitullah ini.”

Pak Rofik dan Mas Nurdin pun berdebat soal kain ihram dan malaikat. Nada suara keduanya kian lama kian tinggi. Suasana tegang. Di tengah situasi seperti itu aku menjadi tidak berdaya. Pengetahuanku soal agama tak ada apa-apanya dibanding mereka berdua. Islamku abangan. Jadi, daripada salah bicara lebih baik diam.

“Pokoknya aku minta sepotong.” Suara Pak Rofiq getas.

“Aku juga!” Mas Nurdin tak mau kalah.

Aku heran, mengapa kedua teman sekamarku itu mendadak jadi berubah begitu; sama-sama tidak mau kalah, lebih memilih berbantah daripada musyawarah. Aku jadi ingat cerita beberapa kenalan, halhal yang tidak ketemu nalar sangat mungkin terjadi di rumah Allah.

Belum sempat kutanggapi permintaan mereka, terdengar azan magrib. Segera kumasukkan kain ihram ke dalam tas cangklong lalu gegas melangkah, masuk Masjidil Haram.

Soal kain ihram terangkat lagi saat kami sudah berada di kamar hotel.

“Pokoknya saya minta sepotong. Kalau tidak boleh, maaf, saya terpaksa memaksa.” Suara Pak Rofiq tercekat.

Aku pura-pura tidak mendengar. Saat itu hanya kami berdua yang berada di kamar. Mas Nurdin sedang mengambil teh di ruang makan. Kulirik jam dinding, pukul 22.30.

“Boleh kan, Pak?”

“Sabar, kita musyawarahkan bersama Mas Nurdin nanti.”

“Kita bagi berdua saja.”

“Lalu Mas Nurdin?”

“Itu bukan urusanku!”

“Jangan begitu, Pak. Sejak dari tanah air kita sudah janji, senang susah dirasakan bersama.”

Pak Rofiq terdiam. Aku berharap ucapanku mampu menyadarkannya.

“Sudahlah, Pak. Berikan sepotong untukku,” Pak Rofiq mendekatiku.

“Kita tunggu Mas Nurdin. Jangan khawatir, penjenengan pasti dapat. Sepotong untuk penjenengan, sepotong untuk...”

“Tidak bisa begitu. Aku pun juga berhak, Pak Salim. Jika sampean memberikan yang sepotong untuk Pak Rofiq, maka sampean sudah berlaku dholim terhadapku.” Aku kaget. Belum selesai ucapanku Mas Nurdin sudah berdiri di ambang pintu.

“Kita bicarakan lagi besok saja. Ini sudah larut malam,” sahutku. Segera kumatikan lampu yang kebetulan tombol saklarnya dekat tempat tidurku. Tak kupedulikan protes mereka. Aku tak ingin situasinya tambah runcing. Kurebahkan diri di ranjang. Tidur.

Di Masjidil Haram, menunggu azan subuh, kami saling berdiam. Kepalaku terasa berat pagi itu. Maklum, semalam kurang tidur.

“Pagi ini masalah kain ihram harus selesai. Mari keluar,” kataku, serampung menunaikan salat.

“Caranya?” Pak Rofiq memandangku tajam.

“Mengapa harus di luar?” Suara Mas Nurdin getas.

Kuabaikan pertanyaan keduanya, kugandeng tangan mereka lalu menggelandangnya berjalan mengelilingi halaman Masjidil Haram. Rencana yang sudah kuatur semalam pagi ini harus bisa kujalankan.

Sekian meter dari pintu keluar Masjidil Haram, dekat Darul Al Tauqid, aku berhenti. Kulepas tangan Pak Rofiq dan Mas Nurdin. Kubuka tas cangklong, kukeluarkan dua potong kain ihram. Kudekati seorang petugas kebersihan yang berdiri tiga langkah di depanku. Kuangsurkan kain ihram dan beberapa recehan real kepadanya.

Persis sama dengan reaksiku kemarin, petugas kebersihan tersebut terlihat bingung. Aku tersenyum, ingat gerak-gerik pemuda yang memberikan kain ihram itu. Maka sebisanya kuulang gerak-geriknya. Petugas kebersihan itu pun tersenyum lebar. Dengan tergopoh diterimanya pemberianku.

“Jangan gila, Pak! Apa yang penjenengan lakukan?” protes Pak Rofiq seraya berjalan cepat ke arah petugas kebersihan itu berdiri. Kuhadang langkahnya. Kataku,

“Maaf, bukan aku tidak menghormati keinginan penjenengan. Apa yang penjenengan katakan kemarin mungkin benar, kain ihram itu isyarat bahwa yang memilikinya dicintai Allah. Tetapi bagiku, kain itu isyarat, pertanda ibadah kita belum baik. Lewat kain itu Allah minta agar kita memperbaikinya. Dan sengaja kain kuberikan kepada orang lain sebab kehadirannya di tengah kita lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.”

“Omong kosong apa yang penjenengan sampaikan, Pak?”

“Dalam segala hal yang menawarkan dua kemungkinan tafsir; terbaik dan terburuk, aku lebih memilih yang terakhir. Itulah sebabnya aku memaknai bahwa kain ihram itu isyarat, teguran agar aku lebih khusyuk lagi dalam menjalani umrah.”

Pak Rofiq kaget. Ia seolah tak percaya jika kalimat yang baru didengarnya itu keluar dari mulutku. Sedang Mas Nurdin terlihat bengong. Wajahnya keruh. Tanpa menoleh segera kutinggalkan keduanya. Pulang ke hotel. ❑-k 

Kudus, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mukti Sutarman Espe
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 7 Agustus 2016

0 Response to "Kain Ihram "