Katam - Harimau - Benci - Raga Berakhir - Dadamu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Katam - Harimau - Benci - Raga Berakhir - Dadamu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:02 Rating: 4,5

Katam - Harimau - Benci - Raga Berakhir - Dadamu

Katam

kematian mulialah yang dimaui
karena tak ada yang mampu membantu
dan pasti akan sia-sia
jika memakai perantara

Jika kau memaksa : berenanglah
karena kau tak ingin kemaruk
saat dirimu dipuji

Harimau

di pinggir rumah sepi
belantara terpasung
mulutnya menganga
di kedalaman sunyi
api dan panas tak tampak
jiwa-jiwa liar yang berdiam
mengeja nasib
mendekap cahaya
membuka celah

Benci

selalu sama
telinga dan kecongkaan
memporakporandakan sepi
dari raga yang mendosa
bersedia pada pujian kosong

yang selalu hilang
di muara kebanggaan

sesekali tetap akan tunduk
pada pikiran dan mulut
di saat waktu
tak berada di pihaknya

Raga Berakhir

aku bingung
pada keleluasaan
ragaku selalu bergerak
wajah datar
ada pada raga baru
yang meninggalkan
warna gulita

aku mengumpat
aku tak tersentuh
aku yang bergaya
tersadar
setelah berada di ambang maut

Dadamu

Aku akan kehilangan dadamu dan pergi dari
kotamu.
Aku tak bisa peduli lagi pada kemarau
yang menghabiskan masa mudamu.

Ranting rapuh telah menjadi penanda akan
bentangan
musim sunyi yang rakus.
Pohon-pohon bertanya pada dadamu yang
sebenarnya bisa menjadi
penyubur bagi generasi-gnerasi pembebasan.

Kota adalah dadamu sendiri.
Dada yang selalu tergesa untuk menikmati
kesenangan sepanjang hari.
Dadamu selalu pergi mengelilingi gang
dengan pikiran tumpul.
Grusa-grusu dan suka memaksa diri.
Semua dicela tanpa pandang bulu.

Dapatkah kamu berhenti bergoyang?
Masih adakah kerahiman sehingga hal itu
dapat menjadi bukti
bahwa kesucian akan mendapatkan surga?
Tengoklah dadamu yang selama ini dekat
dengan airmata.

Mata yang tak pernah tidur.
Dadamu yang selalu ingin tegak menantang
kata-kata
terlebih bagi kota yang tak mau tunduk pada
dadamu.

Dadamu menjadi penghias kota-kota.
Kota mabuk dan kota telanjang.
Kota yang selalu bergoyang.
Kota yang tak mau tidur untuk sekedar jadi
penggemar atas dadamu.


Yuditeha aktif di komunitas Sastra Alit Surakarta. Buku puisinya Hujan Menembus Kaca (2011). (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" edisi Minggu 21 Agustus 2016


0 Response to "Katam - Harimau - Benci - Raga Berakhir - Dadamu"