Kekecewaan Purochana - Keranda Sisupala - Agastya - Hujan Risyaringga - Yawakrida | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kekecewaan Purochana - Keranda Sisupala - Agastya - Hujan Risyaringga - Yawakrida Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:12 Rating: 4,5

Kekecewaan Purochana - Keranda Sisupala - Agastya - Hujan Risyaringga - Yawakrida

Kekecewaan Purochana

Di hutan Waranawata telah kubangun istana kematian
dari kayu-kayu yang mudah terbakar. Tetapi atas
perintah Duryudana, selalu kukatakan kepada Pandawa,
itulah surga terindah, tempat peristirahatan termewah
setelah seharian berburu kijang dan satwa-satwa lemah.

Aku juga telah meletakkan kursi goyang Kunti
di dekat dinding ranjang Yudistira di dekat
perapian: itulah neraka yang akan menjadikan mereka
sekedar unggun abu. Tubuh Bima akan meleleh, Arjuna
kehilangan kepala, Nakula dan Sadewa jadi arang,
dan burung-burung serta kelinci hangus tanpa sisa.

Tentu tak kubangun terowongan rahasia atau semacam
gua gelap yang memungkinkan Dewi Kunti
dan para Pandawa meloloskan diri.

Tetapi, siapa yang kini justru membakar lima pengawal
dan pondokku? Siapa yang menghanguskan tubuh
dan rencana-rencanaku?

Bisma atau Widura? Tak bisa kujawab pertanyaan itu
hingga Destarasta dan putra-putranya mengenakan
pakaian berkabung untuk para Pandawa yang mereka
kira terbakar bersama segala unggas
dan lukisan-lukisan sepasang ular
di sendang biru.

Tetapi mengapa Widura tak bersedih? Jangan-jangan
dialah yang menyelamatkan para Pandawa?

Aku tak butuh jawaban atas segala pertanyaanku. Toh
Destarasta tak bisa menyelamatkan aku. Toh
Duryudana hanya akan marah-marah saat tahu Bima
telah membakar aku dan segala keinginan-keinginan
busukku.

Kelak aku tahu tak seorang pun boleh terlalu membenci
kejahatan sebagaimana mereka tak boleh juga terlalu
mencintai kebajikan.

Aku adalah korban kejahatan majikanku sekaligus
kebajikan musuhku

Keranda Sisupala

Aku tak dilahirkan
untuk memuja Kresna
sekalipun ia awatara
sekalipun ia ikan bersirip merah
sekalipun ia kura-kura bercangkang hijau
sekalipun ia babi hutan bertaring kuning
sekalipun ia manusia berkepala singa jingga
sekalipun ia manusia kerdil berambut biru
sekalipun ia Rama bersenjata kapak
sekalipun ia kesatria berjubah resi
sekalipun ia putra Basudewa
sekalipun ia Pangeran Siddharta Gautama
sekalipun ia pemusnah segala.

Aku tak mau
memuja pengecut
sekalipun ia sungai tanpa ujung
sekalipun ia gunung penuh embun
sekalipun ia rimba sedap malam
sekalipun ia pasir putih
sekalipun ia tebing runcing
sekalipun ia angin lembut
sekalipun ia langit jeruk
sekalipun ia kelam salju
sekalipun ia cakra raib

sekalipun ia keranda biru. Penentu kematianku.

Agastya

Kau bertapa dengan kaki
menginjak Tanah basah. Agastya

Bersemedi dengan kaki
mengacung ke langit merah. Kau

mencari gunung tertinggi
di dasar laut. Agastya

memburu kehampaan putih di sayap-sayap api
di pembakaran para dewa

yang tersesat di gua-gua.

Setelah itu, kau tahu, Agastya kawin dengan hiu
hijau. Hiu yang melahirkan kambing-kambing merah
tua bersisik
bunga-bunga kuning.

Pada hari ke-19, makhluk-makhluk hutan
dan laut pun berpesta hanya untuk mendapatkan doa

Agastya. Doa resi yang tak pernah ingin memiliki
apa-apa kecuali istri berwajah merah. Tanpa
kecantikan

tanpa berahi tak berkesudahan. Doa resi
yang menelan kambing dengan lahap

dan tak ingin memuntahkan kembali
ketika hewan bantaian itu berubah kembali

jadi raksasa.

“Apakah suatu saat kau ingin membunuh hiu
yang akan menelanmu, Agastya?”
“Sejak dulu aku telah ditelan hiu

dan kini perempuan cantik itu
tak ingin memuntahkan aku, semesta yang sangat
dicintainya,”

Tak lama kemudian Agastya tidur
di kisah-kisah tiruan

yang kelak kauanggap sebagai kitab utama. Kitab
para celeng yang berkerumun di sumur tua.

Adapun kau, para lelaki haus darah, tergesa-gesa
bergegas ke Kurusetra.

Hujan Risyaringga

Hujan adalah cinta rahasia dari hutan. Cinta yang membuat
daun-daun terkutuk basah menunggu berubah menjadi
kupu-kupu penuh warna. Hujan adalah danau rahasia dari
hutan. Danau penuh ikan-ikan hijau. Ikan-ikan yang mengingau,
“Di mana surgaku, di mana surgaku sebelum debu
disaput angin kemarau?” Hujan adalah gua rahasia dari
hutan. Gua berselimut kisah pelukan-pelukan liar pertapa
dengan perempuan penggoda yang merindukan sungai
tumpah dari langit dan laut melimpas dari doa.

“Tetapi aku hanya hujan, keajaiban yang kausangka hanya
terbaca di kitab-kitab berlumut. Aku hanya hujan dan harus
bergegas kembali ke hutan,” kata Risyaringga.

Lalu Risyaringga, resi ranum itu, kembali ke hutan. Kerajaan,
perempuan, dan anak-anak terbakar. Tanah tandus. Tanpa
humus.

Yawakrida

Aku lapar dan menggigil di gua yang pengap itu.
Aku mati raga mengharap belas kasih-Mu
“Kau sebenarnya tidak melakukan kebajikan apa
pun, Yawakrida. Kau hanya membaca gelap di dalam
gelap. Kau hanya menafsir api di dalam api.”
Aku bertapa hingga nyaris mati di bukit paling
runcing. Aku hidup di dalam terik neraka seribu
matahari. Aku mengharap Kau memberikanku pengetahuan
Weda sejati.
“Tak sepatah ayat pun yang bisa Kutiupkan ke
telingamu. Kau harus mempelajari arah angin. Kau
harus mempelajari kercik sungai menjelang banjir.”
Tetapi Kau Batara Indra. Apa pun bisa Kaulakukan
untukku. Beri aku kitab-Mu. Beri aku keajaiban kata.
Beri aku Om. Beri aku kebajikan pohon Nirwana-Mu.
“Aku tak bisa memberimu apa-apa, kecuali cinta.”
Aku tak butuh cinta. Aku butuh seluruh penge
tahuan-Mu.
“Belajarlah, Yawakrida. Belajar memahami
mengapa para dewa tak hanya tinggal di delapan pen
juru angin. Mengapa angin tak bertapa untuk menjadi
batu? Mengapa batu tak berguling ke sungai untuk
menjadi ikan? Mengapa ikan tak melompat ke jurang
untuk menjadi sunyi?”
Aku tak ingin menjadi sunyi. Aku ingin menjadi riuh.
Beri aku ruh-Mu. Beri aku kematian-Mu.
“Aku tak bisa mati hanya untuk memberimu hayat.”
Kalau begitu akulah yang akan mati untuk-Mu.
Akan kupotong-poton tubuhku untuk-Mu. Kau me
nyukai sesaji semacam ini bukan?
“Pergilah ke sungai Gangga. Pergilah ke kuburmu.”
Kau ingin membunuhku?
“Aku ingin mempertemukan kau
dengan kesombonganmu.”
Tak ada kesombongan di hutan. Tak ada kicau
teduh burung-burung biru. Tetapi ada desah perempuan
dan kecemasan. Ada merah syahwat dan isak tangis.
“Itulah isyarat kematianmu, Yawakrida. Itulah isyarat kematianmu.”
Dan api itu?
“Dan api itu adalah cinta yang membakar mayatmu.”
di mana ayahku?
“Ia baru saja membakar mayatmu. Ia lalu terjun
ke dalam api yang terus menyala membakar pertapaanmu.”
Ia..
“Ia mati untukmu.”



Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964. Ia menulis buku puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo (2015) dan Selir Musim Panas (2016). Puisi-puisi ini diambil dari Magabathanga yang akan segera terbit.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 6 Agustus 2016


0 Response to "Kekecewaan Purochana - Keranda Sisupala - Agastya - Hujan Risyaringga - Yawakrida"