Kristik - Pegadaian - Setundun Bawang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kristik - Pegadaian - Setundun Bawang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:30 Rating: 4,5

Kristik - Pegadaian - Setundun Bawang

Kristik

kita bangun kota dari benang-benang wol, kota kreol
dengan kesibukan pelabuhan, pabrik dan kedatangan para
pedagang, merah untuk tanah, biru untuk batu-batu
di tepi laut kita imbuhkan putih pasi, putih bulu kelinci.

jingga warna panen, agar tampak riang seluruh kawasan
di sudut kita patutkan sedikit kabut, sinar yang lembut
terpias dari gudang beras. para buruh kerja lepas, kerja keras,
di situ kita biarkan hitam beradu dengan sendu para abu

jalan ke pusat kota, rumah-rumah dengan jendela terbuka
senantiasa ada yang berdiri di depan pintu, seperti menunggu
siapa saja yang mau bertamu, barangkali pemain barongsai,
penjual minyak wangi dan kurma, atau seorang alim dari Pasai

akan kita gantung kota kita, kota kreol, kota dari benang wol
sebelah bersebelah dengan potret leluhur di dinding rumah
supaya tak usah melihat ke luar apabila ingin mengenang
lantaran di luar tak ada lagi benang yang menghubungkan.

(2016)

Pegadaian

kita letakkan di atas meja, apa-apa yang kita lekatkan di kepala
ingatan pada ingatan yang sia-sia dipanggil pulang, tanda dan gema
percakapan tak lengkap yang terus-terusan disusun ulang.

di atas meja kita menambal, menyulam, kemudian bersalaman.
seakan-akan persoalan jadi jinak bagi binatang ternak.
tapi kita mengerti, yang paling tak kita mengerti adalah ini:

bahwa kita telanjur membiarkan dan membiarkan yang telanjur hilang
seperti hilang dari camar yang tak mendapat tiang, lantas menjauh dari pelabuhan
dan bertahun kemudian hinggap di tingkap puisi yang ditulis orang

suatu kali akan kita letakkan puisi itu di atas meja yang sama, penuh tanda dan gema.
seperti percakapan perihal ingatan pada ingatan yang sia-sia, terus-terusan disusun ulang.
sebelum kita bersalaman. jadi jinak bagai binatang ternak, terus-terusan dipanggil pulang.

(2016)

Setundun Bawang

setundun bawang tergantung jauh dari ladang
aku pandang bawang, merah seumuran radang,

akar bawang kering dan kisut, seperti rumbai kasut
baju bawang tipis dan ringan, bagai bayang dalam impian

masa kanakku, mata benakku, telah dilepaskan
ke dalam hutan, bersama ruh paman yang tak bisa pulang

aku pandang bawang, tergantung jauh dari ladang
bila terkupas sampai dalam ia melingkar bagai jalan

jalan ke arah ladang tempat paman pertama menanam
jalan ke arah hutam tempat segalanya dikembalikan

(2015)

Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Kumpulan puisinya, Penangkar Bekisar (2015). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi akhir pekan 13 - 14 Agustus 2016

0 Response to "Kristik - Pegadaian - Setundun Bawang "