Layang-layang, Kelompok Burung-burung, dan Pesawat Terbang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Layang-layang, Kelompok Burung-burung, dan Pesawat Terbang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:05 Rating: 4,5

Layang-layang, Kelompok Burung-burung, dan Pesawat Terbang

SORE begitu bersih, dan sesegar aquarium yang baru saja dicuci. Layang-layang terbang melayang di langit yang terbuka. Ada dua, tiga, empat di sebelah utara. Warnanya merah tua, nyaris kehitaman. Dari kejauhan hampir semuanya tampak seperti itu warnanya. Salah satu yang paling dekat dari jarak pandang, berputar-putar beberapa saat lamanya, lalu menanjak, mengejar awan putih  yang berhamburan tipis-tipis di sana-sini. Sesekali juga oleng ke kanan, ke kiri, lantas menukik seperti burung bersayap lebar sedang mematuk mangsanya.

"Kita tunggu saja di sini. Lihat itu, mereka sedang beradu.

"Wah, ini terlalu jauh. Kita pindah ke sana saja."

"Angin cukup kencang. Layang-layang itu akan terbang ke dekat-dekat sini nanti."

Layang-layang itu terbang melayang-layang di langit yang terbuka. Salah satunya, yang paling mungkin dari jarak pandang, lagi-lagi oelng ke kanan, ke kiri, lantas menanjak mengejar mangsanya. Mangsanya adalah layang-layang yang berwarna serupa: merah tua, nyaris kehitaman. Menyadari dirinya sedang terancam, layang-layang merah tua menukik ke sebelah kiri, sedikit mengambil posisi aman. Lalu dengan gerakan yang tak terduga-duga, layang-layang merah tua berbalik menyongsong pemangsanya. Sebuah gesekan kecil yang terjadi tak sampai merobek sekumpulan awan tipis yang melayang dengan kecepatan paling menenangkan. Namun tiba-tiba layang-layang pemangsa menjauh oleh sebuah sentakan, melayang-layang lebih bebas, lebih merendah. Dua anak kecil yang menantikan saat-saat seperti itu sontak bersorak.

"Satu putus!"

"Kejar!"

"Tunggu dulu. Kita harus perhatikan arah angin."

"Sudahlah. Cepat ambil galahmu."

Dua pasang kaki-kaki kecil itu segera bergegas, bersiduluan dengan sekawanan lainnya yang lebih kencang, lebih bernafsu. Selang beberapa saat, tubuh-tubuh mereka semakin mengecil, semakin jauh dengan suara-suara sayup yang tergantikan oleh bising kendaraan yang kian mendekat.

Kini, layang-layang pemenang belenggak-lenggok sendirian di langit yang membentang. Satu-dua layang-layang lain di kejauhan melakukan manuver yang tak jauh beda: lagi-lagi oleng ke kanan, ke kiri, lantas menanjak, mengejar mangsanya. Sekali lagi oleng ke kanan, ke kiri, lantas menukik seperti burung bersayap lebar sedang mematuk mangsanya.

Namun burung-burung yang lebih mudah dihafal namanya, telah mulai membuat kelompok-kelompok. Burung-burung itu datang bergelombang-gelombang dari arah yang berlainan. Mereka membuat gerakan menyisir dalam sebuah putaran. Berulang-ulang, berbaris tiga-tiga, empat-empat, lima-lima, dan seterusnya.

Mereka terus berputar-putar menjaga keutuhan kelompoknya. Sejenak saja, tak ada satupun yang terbang sendiri-sendiri, kecuali burung-burung yang tak dikenali namanya, yang terbang melesat sebagai sebuah kebetulan belaka. Kelompok burung-burung itu tak mengacuhkannya, mereka tetap setia membuat lingkaran, terus datang bergelombang-gelombang dari arah utara dan selatan. Sesekali mereka melebarkan putarannya, terbang sedikit merendah, belok kiri-kanan. Lalu dengan keanggunan yang hanya bisa dilakukan oleh keunggulan jenisnya, burung-burung itu terbang meninggi ke arah selatan, mengejar awan-awan tipis yang terserak di sana-sini.

"Lihat yang di sana itu. Menjadi titik-titik hitam yang menakjubkan."

"Seperti jaring-jaring yang dilemparkan."

"Di sungai-sungai kapas, yang mengalir dari langit?"

"Ya, aku kira seperti itu."

Burung-burung yang datang dari selatan, terbang berkelompok, berputar sebentar ke timur, lalu ke barat, dan meninggi ke utara, sedikit lebih tinggi dari layang-layang merah tua yang sendirian.

"Layang-layang itu menang."

"Sejauh ini belum ada penantang yang datang ya?

"Apa yang membuatmu menyukai burung-burung terbang?"

"Tidak semuanya, sih. Aku suka yang terbang berkelompok-kelompok."

"Mereka membicarakan awan-awan."

"Dan layang-layang."

"Tentu, jika musimnya tiba."

"Ngomong-omong apa yang membuatmu menyukai burung-burung?"

"Hemm, tidka semua, sih!"

Burung-burung yang datang dari utara, terbang berkelompok, lurus sebentar ke selatan, lalu ke timur, dan merendah ke selatan, namun jauh lebih tinggi dari layang-layang merah tua yang sendirian.

"Layang-layang itu baru bangun."

"Kita lihat saja, apa yang satu ini akan menjadi penantang berikutnya?"

Sekelompok burung-burung yang menjadi titik-titik hitam, semakin jelas wujudnya. Mereka terbang sedikit merendah, berputar-putar pendek, merendah lagi, berputar-putar pendek, merendah lagi, berputar-putar pendek, lalu berputar-putar dalam lingkaran yang kian melebar.

"Kamu harus menjaga barisannya. Tepat sebelum mereka berbelok, kuharap hitunganmu sudah selesai."

"Dua puluh, Terpaut dua dengan hitunganmu, ya?"

"Bagus. Kamu banyak kemajuan sore ini. Coba yang sebelah sana, sayang?"

"Tidak, ah. Tunggu mereka lebih dekat."

"Lihat layang-layang itu. Putus lagi, ya?"

"Kamu suka layang-layang?"

Layang-layang merah tua yang baru bangun, mengalahkan layang-layang merah tua pemenang. Layang-layang merah tua pemenang kini melayang-layang bebas di langit yang terbuka; tanpa kendali, tanpa peduli.

***
LANGIT senja cerah dan sesegar hangat wedang jahe di beranda rumah. Sebuah layang-layang masih terbang melayang-layang di langit yang terbuka. Warnanya merah tua, nyaris kehitaman. Dua anka kecil yang tak mendapatkan buruannya, tampak kurang suka menatap layang-layang itu. Layang-layang itu perlahan-lahan merendah, lalu hilang di balik kubah masjid. Anak kecil yang memakai jersey Bayern Munchen, masih antusias memeriksa segala penjuru langit. Kelompok burung-burung yang datang dari selatan sudah lama berputar-putar merendah. Di atas atap kantor pos besar, burung-burung itu membuat sebuah gerakan menukik yang serempak, lalu menghilang dari pandangan.

"Aku malas pulang."

"Kita harus mengaji."

"Aku mau main PS."

"Kita harus pulang."

"Hei, coba kamu lihat itu!"

Anak kecil yang emmakai baju koko dan mengikatkan sarung di pinggang mengacungkan tangannya ke langit. Sebuah pesawat terbang melintas dengan lampu yang menyala di sayap dan ekornya. Cahayanya sedikit mematangkan warna kumpulan awan tipis yang terpelihara putih sepanjang hari tadi. Dua anak kecil itu bersorak kegirangan.

"Hooeeee! Turun, turun."

"Jemput aku di sini!"

"Turun, turun!"

Teriakan itu mengagetkan laki-laki tua yang sedang melintas di depan kantor pos. Ia tidak marah. Namun dengan berat hati, ia menegadah ke langit. Pesawat terbang itu perlahan menjauh, semakin tinggi, tak terkejar hingga hanya menjadi titik dengan cahaya yang samar dalam pandangan matanya.

Lalu senja runtuh. Dua anak kecil yang gagal mengejar layang-layang pulang dengan langkah paling malas. Sepasang kekasih yang baru saja pulang dari menghitung burung-burung merpati di taman, berpisah dengan kemuraman tak terucapkan di ujung gang. Dan laki-laki tua itu merapatkan jaketnya, menatap sekali lagi ke langit senja. Senja kali ini, segala ingatan dikirim bersama angin yang dingin.

Mataram, 24 Maret 2014

Tjak S Parlan, lahir di Banyuwangi 10 November 1975. Sehari-hari bekerja sebagai layouter dan editor di sejumlah media  non komersil di Mataram Nusa Tenggara Barat. Tinggal di Pagesangan Mataram Nusa Tenggara Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjak S Parlan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 14 Agustus 2016


0 Response to "Layang-layang, Kelompok Burung-burung, dan Pesawat Terbang"