Lily | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lily Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:54 Rating: 4,5

Lily

LILY, kamu besok sudah bisa mengikuti upacara bendera tujuh belasan,” kata Bu Indah, mencegat anak itu yang hendak bergegas keluar dari kelas. Sementara anak-anak yang lain sudah berhamburan keluar, pulang ke rumah masing-masing.

Dengan girang, Lily menjawab: “Ya, Bu,” katanya singkat.

Lalu, Lily cepat pulangd ari sekolah menuju rumahnya. Matahari terik di atas kepalanya tak ia rasakan, saking gembiranya. Sepedanya ia kayuh agak cepat sambil melenggak-lenggokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

Tralala, trilili..! Nananana…” Lily bernyanyi kecil, bahagia.

Biasanya, Lily akan sampai ke rumahnya, lima kilometer, seolah sekejap mata bagi Lily setelah ia diperbolehkan oleh Bu Indah, kepala sekolah itu, untuk mengikuti upacara bendera 17 Agustus.

Sudah dua tahun lebih Lily menunggu kesempatan itu. Kata Bu Indah dulu, ia masih terlalu kecil untuk berdiri lama di halaman, apalagi saat momen 17 Agustus musim selalu kemarau. Dan setelah sekarang Lily kelas tiga SD, baru ia diperbolehkan ikut oleh Ibu Kepala Sekolah itu.

“Mak, besok Lily akan ikut upacara tujuh belasan di sekolah,” ucap Lily sesampainya di halaman rumah, berteriak gembira. Ia parkirkan sepeda mininya yang sudah karatan itu di bawah pohon mangga di halaman.
Selanjutnya masuk ke kamar, meletakkan buku. Dan tanpa ganti baju, Lily berlari menuju dapur menemui emaknya.

***
Pagi-pagi benar Lily bangun dan cepat pula ia basuh muka, berwudhu.

Sepagi itu, sehabis shalat Subuh berjamaah bersama bapak dan emaknya, ia akan menghabiskan waktunya di dapur sebelum akhirnya ia berangkat ke sekolah. Selalu Lily bergairah membantu emaknya: memasak nasi, menggoreng ikan, atau kadang kala Lilly juga mencoba menghangatkan air untuk dituangkan ke cangkir, membuat kopi. Bapaknya, seperti biasa, duduk di teras rumah sambil menunggu Lily mengantar secangkir kopi.

“Lily, tolong mintakan emak kubis dan wortel ke warung Mbok Ruwaidah, ya. Biar nanti emak sendiri yang bayar,” kata emaknya menyuruh Lily.

“Baik, Mak!” kata Lily menambah gairah semangatnya. Cepat ia bergegas menuju warung tetangga yang menjual sayur-sayuran itu sambil sekilas melihat wajah emaknya yang merah merona karena kobaran api tungku. Kapan ya aku sebesar emak, gumannya tanpa mengeluarkan suara.

Dan, sempurnalah sudah tugas Lily di dapur. Setelah ia selesai bergelut dengan air hangat, beli sayur, mengantar kopi ke bapaknya, membantu menyiapakan sarapan yang akan dibawa sang bapak mencangkul, ia akan segera menyiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah.

Jam berketiktak di dinding teras rumah. Kira-kira pukul 06:15 WIB Lily menghentikan aktivitas dapurnya –membantu emaknya- dan segera ia mandi ke belakang.

Sementara emaknya masih tetap di dapur menyelesaikan sesuatu yang sekiranya belum selesai. Di antaranya setelah selesai menyiapkan sarapan suaminya – bapaknya Lily- untuk dibawa ke tempat mencangkul, adalah menyiapkan sarapan yang akan dibawa Lily ke sekolah. Karena tidak dijatah uang jajan untuk Lily- tepat-nya tidak ada uang- sehingga harus selalu membawa sarapan ke sekolah.

Di kamar mandi, Lily bernyanyi-nyanyi kecil: tralala, trilili…. 


Nanana… holala..! Lily tak sabar ingin segera sampai ke sekolah. Ia ingin meluapkan mimpinya untuk ikut upacara bendera tujuh belasan seperti yang ia nanti-nantikan, dan baru tahun ini, semenjak ia kelas tiga SD baru ia diperbolehkan oleh Bu Indah benar adanya.

Kata Bu Indah, Lily masih kecil dan kalau lama-lama berjemur di halaman takut sakit. Jika sakit kasihan Lily, dan kasihan emak yang akan merawat Lily, demikian kata Bu Indah.

Dan Lily manut-manut saja terhadap apa yang dikatakan Bu Indah, karena memang betul, kalau dirinya sakit kantidak enak juga. Namun, kadang Lily kesal juga. Sebab ia telah hafal lagu Indonesia Raya (dan lagu Mengheningkan Cipta). Sudah sejak ia baru masuk SD ia hafal lagu kebangsaan itu. bahkan, saat ia baru belajar membaca pada emaknya ia diajarkan untuk menghafal itu. 

“Tralala, trilili...” Lily masih melanjutkan nyanyi-nyanyi kecilnya di kamar sambil memasang baju seragam sekolah. Meski Lily menyadari bahwa seragamnya hanya itu satu-satunya yang ia punya dan sering kali ketika kena keringat menyebabkan baunya tak sedap, tapi Lily tak banyak mengeluh soal itu.

Karena Lily ingin seperti emaknya, yang jarang sekali Lily melihat sang emak memakai pakaian baru atau berganti-ganti setiap hari, namun tetap cantik di mata Lily. Juga mungkin di mata bapaknya. Sebab tak pernah sekali waktu pun bapak dan emaknya melakukan semacam pertengkaran. Mungkin salah satunya karena emak cantik, begitu Lily menduga.

“Mak, Lily berangkat dulu, ya,” kata Lily. Tak lupa ia meraih tangan emaknya itu, menciumnya. Juga pada bapaknya yang sebentar lagi juga akan berangkat mencangkul.

”Berangkat dulu, Pak!“ kata Lily pada bapaknya yang sudah siap-siap akan berangkat dengan cangkul di pundak.

”Ya, hati-hati, Nak,“ kata bapaknya singkat. Tetapi, sesaat kemudian, sebelum Lily mengucapkan salam, Lily berteriak.

”Maaaak..! Bapaaak..! Sepeda Lily manaaaa...?! Siapa yang ngambil sepeda Lily?“ kata Lily gusar melihat sepedanya tidak ada. ”Apa enggak dikunci, ya?“

Biasanya sepeda Lily ada di bawah pohon mangga di samping rumah itu.

Tapi, entah mengapa pagi ketika Lily akan berangkat ke sekolah untuk upacara 17 Agustus ternyata sepedanya lenyap. Siapa yang mencurinya?

Padahal, kemarin-kemarin aman-aman saja diletakkan di situ. Emaknya cepat menghampiri Lily yang mukanya mulai memerah. Begitu juga bapaknya, sang bapak cepat mendatangi Lily ke halaman, tepat di bawah pohon mangga. Sesaat emak dan bapaknya terpaku: beradu pandang lalu sama-sama menggelengkan kepala. Sementara Lily semakin gusar.

”Ya sudah, Mak, Pak, Lily jalan kaki saja ke sekolah,“ ucap Lily lirih dan cepat bergegas meninggalkan emak dan bapaknya. Sementara, kedua orang tua Lily itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat Lily berlari mengikuti jalan membelok menuju jalan raya dengan aspal rusak yang menuju ke sekolah.

Gadis kecil itu terus berlari mengikut jalan raya. Nafasnya sengal-sengal. Kadang bila capai, Lily memperlambat langkahnya. Gerah.

Matahari di musim kemarau seperti ini memang pagi-pagi sudah menyengat kulit. Dan anak gadis yang masih berumur sepuluh tahun dan berkaki pengkor itu mulai berkeringat. Baju putihnya yang sudah mulai berubah kecokelatan itu sedikit demi sedikit dirembesi keringat. Dan rok merahnya juga kena keringat-keringat kecil. Nafasnya sengal-sengal. Sekali dua kali sepeda motor melintas.

Tiba-tiba Lily tersentak kaget. Mendadak ada sapi di depannya menghadang. Sapi siapa itu? Ah, menganggu saja! Lily cepat menyingkir dan bersembunyi di balik sebatang pohon kelapa yang ada di pinggir jalan, menjauh dari sapi itu. Ah, lama sekali sapi itu. Kok belum menyingkir juga dari jalan, gumam Lily dengan kesal. Karena ia tak punya jam tangan, maka dilihatnya matahari, sudah mulai meninggi.

Beberapa saat kemudian, akhirnya sapi itu menyingkir juga. Dan Lily cepat mengambil langkah, berlari sekuat tenaga dengan terseok-seok untuk mengejar waktu supaya cepat sampai ke sekolah yang kata Bu Indah upacara 17 Agustus akan dimulai Jam 07:00. Dan setengah letih, jalannya tertatih-tatih, sampai juga Lily ke sekolah. Ternyata upacara telah dimulai. Ah, pintu gerbang sekolah ditutup lagi!

Di luar pintu gerbang sekolah, dengan baju seragam setengah basah karena keringat, Lily angkat tangan kanan menghormat pada bendera merah putih yang berkibar-kibar, sambil di mulutnya dengan lirih, nafas sengal-sengal, mengeluarkan suara mengikuti pada yang dinyanyikan para peserta upacara:

   Indonesia Raya merdeka-merdeka_
   Tanahku negeriku yang kucinta
   Indonesia Raya merdeka-merdeka
   Hiduplah Indonesia Raya

Yogyakarta, 2010

Rachem Siyaeza, lahir di Sumenep, pada 2 September 1988. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan cerita pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (Temu Sastrawan Indonesia II-Bangka Belitung 2009), Tiga Peluru (kumpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010), dan Riwayat Langgar. Juga dimuat di beberapa media massa lokal dan nasional. Bermukin di Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 31 Juli 2016

0 Response to "Lily"