Lodewick | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lodewick Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:42 Rating: 4,5

Lodewick

MARIA Lodewick tercenung di atas kasur. Tatapannya kosong. Rambutnya yang hitam-cokelat tergerai kusut. Tangannya merogoh bagian bawah bantal. Sebuah buku lusuh penuh tulisan tangan dibuka. Pada halaman pertama sebuah foto melayang jatuh. Tangan kurus Lodewick menengadah cepat menahan. Mungkin ini untuk kali ke sekian ia menatap foto tersebut. Seorang perempuan berayun gembira. Tawanya lebar, Matahari bersinar cerah. Angin menyibak rambutnya ke belakang. 

***
”He, Lodewick!” Ele berseru sambil menghentikan ayunan. Lodewick berhenti mengamati foto dalam genggaman. Ele menggaruk betis menggunakan ujung sepatu. ”Masih ingat tentang laki-laki paruh baya tampan di perpustakaan kota? Yang aku temui saat aku mengembalikan buku pinjamanmu—kau demam karena flu. Dan aku mengaku suka membaca buku filsafat dan sastra tebal.”

”Kamu terlalu berani.” Lodewick menekuk-nekuk jarinya gelisah hingga bersuara kemeletuk. 

“Ia yang mengambil gambarku itu.” Ele menunjuk foto di tangan Lodewick. ”Kami bertemu kemarin sore di sini. Ia laki-laki baik.“

”Bagaimana jika ia mengajakmu diskusi dan kau ketahuan goblok?”

Ele melonjak karena ingat sesuatu. ”Aku janji bertemu dengannya sore ini! Ia minta referensi buku sastra apik—” Jelas-jelas Ele tidak mendengar perkataan Lodewick barusan. Ia turun dari ayunan. ”Ayo, Lodewick! Kita ke perpustakaan! Kau harus berdiri di samping dan membisikiku!“

***
”Lodewick! Laki-laki itu ada di rak buku kesehatan!“ 

Lodewick menoleh. Jantungnya seakan copot. Ia menarik badan sedikit bersembunyi. 

”Namanya Dexter—tanpa nama belakang. Masih rahasia katanya. Aku suka laki-laki misterius seperti itu.“

Laki-laki itu mendongak. Tatapan matanya menyapu judul pada punggung buku. Rambutnya ikal pendek berwarna cokelat dihiasi banyak helai putih. Garis rahangnya tegas—macho. Matanya cokelat kelabu seperti bola mata Lodewick. Air mukanya serius namun saat menyadari Ele melambaikan tangan ia mengangguk dan tersenyum ramah. 

Lodewick sedang berjongkok dan menunduk membetulkan tali sepatu kets.

***
Esok harinya Maria Lodewick mengerem sepeda hingga berdecit. Ia memasukkan roda pada palang parkir. Jantungnya berdetak lebih kencang saat Dexter di dalam ruangan tampak melewati rak di dekat dinding kaca. 

Perlahan Lodewick membuka pintu dan menyelinap di antara rak buku. Keringatnya mengalir di dahi dan punggung. Dexter sedang duduk menunduk membaca koran hari ini. Saat Lodewick membelok menuju lorong rak yang lain, Dexter mendongak. Tatapannya tepat menghujam Lodewick. 

Benar. Ia adalah Dexter yang pernah ia kenal. Lodewick seketika mematung. Tubuhnya bagai diguyur air dingin. 

Dexter tersenyum. 

Lodewick membalik badan. Setengah berlari ia keluar perpustakaan.

Beberapa meter jauhnya dari perpustakaan baru Lodewick mampu merasakan angin berembus segar. Ia tetap tidak berani menoleh. Menurut perasaannya pandangan Dexter terus mengikuti. Kaki Lodewick sempat terpeleset dari pedal karena perasaan ngeri. 

***
Sesuatu yang kecil merayap di kaki. Maria Lodewick menyingkap celana piyama. Tangannya menepuk semut dengan keras. Ia meletakkan buku dan berdiri. Cokelat yang diletakkan di dekat teralis jendela masih ada. Tinggal sedikit dan mulai berbubuk. Tapi, masih ada satu dua semut iseng mampir. 

Lodewick mengetuk jari di dekat bungkus cokelat. Semut-semut membelok kaget. Perempuan itu meraih cuilan tersisa. Ia mengulum. Manis. 

***
Ele menatap heran. ”Kau membuat dan akan memberikan cokelat pada ... siapa? Laki-laki yang kau sukai? Pada hari Selasa?“

”Apa tidak boleh?“ Lodewick menunggu batang cokelat yang sedang dilelehkan menggunakan panci tim. 

”Ya ....“ Ele ragu-ragu. ”Biasanya cokelat diberikan pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, valentine. Tapi, hari Selasa ....?“

”Apa polisi akan menangkap dan memasukkanku dalam penjara bila aku memberi cokelat pada hari Selasa?“

”Kecuali kau memberi cokelat dan membunuh seseorang,“ canda Eli. ”Boleh aku tahu siapa laki-laki itu?“

”Tidak.“

***
Esok hari Lodewick mengerem sepeda hingga berdecit. Tiga hari lalu tidak ada Dexter. Hari ini laki-laki itu sudah ada di perpustakaan lagi. Lodewick mengkeret. Tangannya basah keringat. Sambil berpura-pura memilih buku, ia mencari kesempatan baik menyapa Dexter. 

”Mengikutiku?“

Lodewick ingin pingsan. Tapi ia menahan diri. Perempuan itu segera merogoh saku jaket. Bungkusan cokelat itu hampir terpelanting jatuh saat diserahkan. ”Kau suka cokelat, bukan? Ele tidak suka. Ini untukmu. Jauhi sahabatku.“

Dexter melirik sedikit. Dalam gerakan luwes, seperti hendak berbalik, laki-laki itu menampik sodoran cokelat menggunakan buku tebal dalam genggaman. 

”Aku akan melaporkanmu pada polisi,“ ancam Lodewick dengan suara bergetar.

”Aku tidak membunuh siapa-siapa.“

Ingin rasanya Lodewick menjerit dan menangis. Tapi, ia menahan diri. Saat memungut cokelat, Dexter memanggilnya. 

”He, Maria. Katakan pada Ele aku akan menemuinya esok di Taman Cemara Lima. Pukul empat sore. Ia sudah tahu, hanya aku takut lupa.“

Raut Lodewick menegang. 

”Jangan coba-coba menghalangi. Temanmu sudah kadung begitu jatuh cinta padaku.“

Lodewick berlari keluar. Saat mengayuh sepeda, kakinya terasa berat. Napasnya memburu. Ia menelepon Ele di rumah dan seperti kata Dexter gadis itu menolak diperingatkan. 

”Jangan mengada-ada. Dexter pria matang, mapan, dan memesona.“

Perempuan muda seperti Ele cenderung menyukai pria paruh baya kebapakan dan begitu melindungi. Tapi, jangan Dexter!

”Berhenti merepet, Lodewick! Datang ke rumahku sekarang. Bantu aku memilih baju! Apa? Kau tidak mau? Tidak masalah.“

Saat menutup telepon tubuh Lodewick gemetaran. 

***
Taman Cemara Lima terletak di pinggir kota. Sebenarnya itu taman kecil di samping kuburan. Hanya sangat terawat dan kadang menjadi tempat singgah orang-orang yang ingin rehat sejenak dari jogging sore. Tapi, tidak di bulan sembilan atau sepuluh seperti ini. Selain sepi, angin sore bertiup sedikit dingin. 

Lodewick menyandarkan sepeda di salah satu pohon. Ia mengedarkan pandang. Sedang tidak ada banyak orang di sana. Hanya satu orang tua bersyal merah muda tebal berjalan pulang. Dan seorang pengendara sepeda  yang sempat menoleh ke arah bangku di dekat salah satu cemara. 

Lodewick bersembunyi di salah satu pohon. Mengintip. Ia mendengar suara Dexter sedang melontarkan lelucon dan ditimpali tawa. Perempuan itu kemudian berdiri mengibaskan rok sambil menoleh. 

Ele!

Ele duduk dan lagi-lagi tertawa. Dexter merangkulkan lengan, menunduk, mengatakan sebuah lelucon lagi atau menggoda sesuatu karena kemudian Ele mendongak dan tertawa geli. Ia bahkan sempat mendorong kepala laki-laki tersebut menjauh. 

Tangan Lodewick mencengkam permukaan batang pohon yang kasar hingga jari-jemarinya merintih sakit. 

Lodewick seakan kehilangan kesadaran diri saat berjalan ke arah mereka. Ia memungut sebuah batu besar dari atas hamparan rumput. Berjalan lebih dekat lagi. Menghantamkan batu tepat di kepala Dexter. 

***
DAGGG!!

Darah mengucur dari dahi Lodewick. Perlahan tubuhnya bergetar. Semakin lama semakin hebat. Perempuan itu melolong panjang. Kemudian ia menghantamkan kepala ke teralis besi. Lolongan berganti menjadi makian histeris. Memaki Dexter. Memaki Ele.

Pintu kamar Lodewick dibuka cepat. Seorang perawat perempuan bergegas naik tempat tidur. Tegas namun lembut ia menarik bahu Lodewick. ”Oke, Maria. Kalau tahu seperti ini lagi, kami tidak mengijinkanmu meminta secuil cokelat untuk semut peliharaanmu—katamu kau kesepian.”

Lodewick dengan lemah dan dahi berdarah jatuh dalam pelukan. ”Dexter dan Ele mengkhianatiku.“

”Ya. Kau bersedia menceritakannya padaku, bukan? Selain itu aku harus membersihkan lukamu.“

Petugas pria membantu si perawat perempuan menurunkan Lodewick. Mereka berdua kemudian memapah pasien yang tidak berontak. Hanya berjalan dengan langkah terseret dan menggumam lirih. 

***
Dokter Charter sedang berdiri di meja informasi saat Lodewick lewat di depannya. ”Gadis pucat yang cantik. Kenapa dahinya berdarah?”

”Ia pasti menyiksa dirinya lagi. Ini kali ketiga. Kami sudah harus mengganti teralis besi dengan … entahlah … jendela plastik bening atau apalah. Sebelum ini ia suka menumbukkan badan ke tembok. Keesokan hari saat mandi, seorang perawat menemukan hampir seluruh bagian tubuhnya memar biru.”

”Ceritakan padaku.”

”Apa Anda belum tahu, Dokter?” tanya suster bagian informasi heran. Sejurus kemudian ia tersadar dan mengubah sikap. ”Maaf. Anda dokter baru. Lebih baik saya ceritakan sedikit saat kejadian pentingnya.“

***
Dexter dan Ele terkulai mati. Kepala mereka semacam penyok di berbagai sisi. Darah bergumpal-gumpal mengalir dari setiap celah terbuka. Lodewick tidak berniat membunuh Ele tadinya. Tapi, sahabatnya itu menjerit histeris dan memaki Lodewick dengan kalimat kurang ajar.

”Kau membunuh ayahmu! Padahal ibumu yang bangsat!“

Ele sudah tahu nama belakang Dexter. 

Satu hantaman keras mendarat di kepala Ele. 

Lodewick menyeret mayat Ele dan menegakkannya di balik pohon tempat ia tadi bersembunyi. Dari balik pohon mayat Eli seperti sedang mengintai. 

Lodewick membetulkan letak sweater yang kotor oleh noda darah. Dengan pasti ia melangkah ke arah Dexter. Ia berdiri di hadapan mayat laki-laki yang mata bagian kiri tidak terlihat lagi karena hancur.

”Halo, Pak Dexter Lodewick. Maaf, aku harus melakukan ini.“ Maria Lodewick mengibaskan rok dan duduk di samping Dexter. ”Ibu menitipkan ini untuk Anda, Pak. Cokelat. Ingat? Anda selalu meminta maaf pada Ibu dengan menyogok cokelat batangan. Padahal Anda telah menyiksanya habis-habisan.“

***
Suster jaga memutar pulpen di tangannya. ”Ibu Maria Lodewick mengalami gangguan mental karena terlalu sering mengalami kekerasan rumah tangga. Puncaknya saat Dexter Lodewick menyekapnya di gudang selama sebulan. Saat tengah malam, Dexter menyusup masuk. Menangis sambil memeluk istrinya, meminta maaf, dan memberi berbatang-batang cokelat yang harus dihabiskan. Saat terbangun pagi, melihat wajah istrinya cemong cokelat, laki-laki itu mengamuk dan berderap pergi. Agak siang setelah menyorongkan roti kecil dan air putih, pintu dikunci kembali.”

”Polisi tidak memenjarakan Dexter?”

”Saat Maria menemukan ibunya disekap, perempuan itu berontak dan menjerit histeris saat dipegang. Ia hanya tenang saat diberi cokelat. Ia bilang Dexter Lodewick orang baik. Bukti lain ‘mengatakan’ tubuhnya gemuk. Tidak ada siksaan fisik. Maria ingin memasukkan ibunya ke rumah sakit untuk dirawat. Perempuan itu menolak. ‘Aku baik-baik saja.’ Setahun tinggal bersama Maria di kota lain, tiap malam selalu menangis berjam-jam, ia juga sering menjerit histeris saat merasa Dexter Lodewick seperti sedang berdiri di seberang rumah dan terus mengamatinya, perempuan itu meninggal dunia.”

”Bagaimana cerita tentang Maria Lodewick kemudian?”

”Maria terus berbicara dengan mayat Dexter sampai seorang polisi patroli lewat. Pemeriksaan menunjukkan jiwanya kurang stabil sehingga ia dimasukkan ke sini.”

Dokter Charter mengembus napas yang seakan mengimpit dada. Maria Lodewick berjalan semakin jauh. Menggumam dan merintih: memaki Dexter Lodewick dan Ele. 

Leikha Ha (Leikha Haryanto) berdomisili di Yogyakarta. Novelnya berjudul ”Rahasia Batik Berdarah“ diterbitkan oleh Gramedia, 2016.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Leikha Ha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Solopos" edisi Minggu 14 Agustus 2016

0 Response to "Lodewick"