Maria Pergi ke Lubang Sumur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Maria Pergi ke Lubang Sumur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:22 Rating: 4,5

Maria Pergi ke Lubang Sumur

1/

Maria tahu saya tidak pernah bercanda. Berani melanggar adalah berani melawan setrika panas dan seperempat gelas sabun cair. Saya tidak pernah hitung ada berapa luka bakar atau seberapa sering ia berkumur di kamar mandi kemudian, usai saya hukum dia dengan dua cara itu.

Awalnya saya tidak menghukum. Saya tahu, saya baik; paling tidak, itulah yang tetangga ketahui. Tapi pembantu seperti Maria harus diberi pelajaran, karena ia salah. Saya bayar, pembantu kerja. Saya beri uang, pembantu beri tenaga.

Simbiosis mutualisme mesti terjaga baik, tanpa kisah sampah yang dapat menyudutkan saya, betapapun saya benar.

Maria mulai dengan seuntai kalung. Istri saya panik suatu pagi. Kalungku, Pa, kalungku! Ia berteriak mirip orang gila. Dapat dibayangkan betapa malu saya sebagai suami, kalau suaranya sampai ke kuping tetangga baru. Orang belum tahu kalau istri saya suka minta macam-macam dan saya harus lebih banyak menuruti, sedang saya tahu uang harus dipakai dengan kepala dingin. Bila orang lain tahu saya pelit, saya tidak siap menjadi omongan. Dan ini gara-gara Maria.

Tentu saja tidak ada maling mengaku. Di mana-mana, tidak ada begitu, karena penjara bisa sesak. Bisa Anda perkirakan berapa ribu hektar lahan yang diperlukan guna membangun penjara di bumi—kalau setiap maling mengaku otomatis. Oh, Tuan, mohon ampun, saya mencuri dan bawa saya ke penjara. Maka, setiap penjara di bumi selalu penuh dan hukuman bagi pencuri tidak selayaknya sebentar; ini belum penjahat lain di luar pencuri. Pembangunan penjara diadakan tiap bulan sehingga dunia ini adalah dunia penjara!

Sayang sekali, itu hanyalah utopia dan Maria serta saya tidak hidup di dunia utopia. Yang paling masuk akal adalah: maling tidak pernah dan tidak mungkin mengaku dan ujung-ujungnya ketagihan.
Tiga minggu kemudian, gantian jam tangan anak saya hilang. Anak itu pendiam. Tidak banyak menuntut walau prestasi cemerlang. Anak cerdas, pemuda penerus bangsa, yang kehilangan jam tangan, membuatnya hancur. Anak yang jarang curhat pada saya, sedang sang mama sibuk mengurus toko bunga, tanpa memperhatikan perkembangan mental anak itu.

Saya bilang, "Anakmu jadi lebih pendiam setelah jam tangannya hilang."

Ya pasti! Jam itu hadiah ulang tahun yang sekaligus sebagai ucapan selamat dari kami karena ia bisa masuk universitas favorit.

Istri saya tahu bagaimana anak semata wayang kami jadi pemurung. Jam tangan hilangnya mengesankan ia tidak bisa bertanggung jawab terhadap pemberian orangtua dan dia menghukum dirinya sendiri. Anak itu terlalu menyayangi kami, sehingga terlalu merasa bersalah, padahal ia korbannya.

Maria tidak merasa bersalah melihat ini: istri saya yang jadi lebih cerewet dan tak terkendali, juga anak saya yang mendadak bagai robot bertenaga batu baterai. Pembantu sial itu menunduk dan bekerja seperti biasa, dan seperti tidak peduli pada kondisi anak istri saya, walau saya yakin dia pencurinya.

Pertama, kalung. Kedua, jam tangan. Lalu? Saya tak bisa membiarkan maling ini hidup enak di rumah kami.

Kepala istri saya tiap malam dipenuhi kurcaci yang minta makan. Ia bermimpi. Ia bilang ia tidak bawa makanan. Apa saja, kata kurcaci. Maka istri saya mencari sesuatu di saku. Tidak ada camilan, tidak ada permen, tidak ada uang. Hanya kalung. Karena para kurcaci memaksa, dengan setengah hati kalung itu ia beri pada mereka dan kaum cebol rakus menggerogoti kalungnya sebagaimana orang kelaparan.

Saya diam mendengar penjelasannya, yang terdengar agak dilebih-lebihkan, meski tentu saya memilih percaya karena kalung emas itu juga berarti bagi istri saya. Sembari mendengar cerita mimpi buruk itu, saya bayangkan wajah Maria. Saya tahu pembantu itu mungkin sedang tertawa di kamarnya. Tertawa diam-diam, karena memperdaya majikan-majikan yang tolol!

Seharusnya tidak ada yang tolol. Kini anak saya linglung dan sering tidak fokus, meski tidak kelaparan. Anak itu saya suruh makan dan dia patuh. Dia makan seperti orang biasa dan habis, tapi tiap saya tanya, misalnya, pertanyaan simpel semacam 'siapa presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat', dia jawab Benjamin Franklin. Anak itu tidak setolol ini. Otak dan tindakan tidak sinkron disebabkan jam tangan yang hilang.

Dua akibat buruk dari dua pencurian oleh Maria. Saya tahu, saya tidak punya bukti, tapi di sini tidak ada orang lain selain dia. Mata nyalang saya tertuju pada Maria sejak itu. Dari hari ke hari, ia tidak berani menatap saya. Ia menghindar tiap saya menumbuk ke kedua bola matanya. Bola mata maling selalu berputar ke sana kemari, menghindari hukuman dan berharap utopia meliputi apa pun di sekeliling.

Suatu malam saya bertanya pada Maria: Apa maumu?

Ia tidak jawab dan menangis sesenggukan.

Saya tanya lagi "Kamu maling, kan?!" Ia menggeleng dan menangis makin keras. Saya tahu ia maling dan memutuskan ia tidak akan dibayar untuk pekerjaan enam bulan ke depan.

Kata saya "masih untung tidak saya bawa ke polisi. Tapi Maria menatap mata saya dan berkata". Ia mohon agar gajinya dibayar. Saya tuanmu, kata saya. Dan kamu maling. Harusnya kamu saya usir dan masuk penjara dan tidak ada dunia utopia dalam kepala tololmu ini. Membawamu ke polisi tidak bakal mengembalikan kalung dan jam tangan!

Demikianlah bagaimana akhirnya saya memeras tenaganya. Enam bulan tidak akan lama kalau Maria patuh. Lagi pula saya masih baik dengan memberinya makan dua kali sehari. Seharusnya tidak ada pantat setrika apalagi seperempat gelas sabun cair yang harus ia rasakan. Saya kira, yang membuat dua hal itu ada, justru Maria sendiri.

2/

Demi Tuhan, aku bukan maling.

Tuan menuduhku maling, tapi aku tidak bisa membuat tuanku menderita. Iya, aku punya rahasia yang sepertinya selalu kusimpan sampai aku mati. Aku tak bisa merusak keharmonisan rumah tangganya, apalagi merusak kebahagiaan Tuan yang selalu bilang betapa keluarganya adalah keluarga paling bahagia.

Tuan mengambilku dari kampung. Sebagai bentuk terima kasih dan hormat, aku kerja dengan sepenuh hati. Waktu ada kabar kalung Nyonya hilang, aku sudah perasaan. Pasti dituduh, pasti dituduh. Tapi aku diam. Aku mencoba tenang. Sayangnya, memang aku yang dituduh.

Demi Tuhan, malingnya bukan aku dan aku tahu siapa maling itu. Tapi aku diam. Suatu hari tuanku bilang istrinya mulai gila. Dirasuki mimpi soal kurcaci yang minta diberi makan kalung. Dasar edan. Sumpah, bukan maksudku kurang ajar, tapi memang keluarga ini agak edan.

Anaknya yang katanya pintar kadang suka meremas dadaku di teras belakang. Aku berontak pada mulanya, tapi dia bungkam bibirku dan dia ancam aku pakai silet. Sejak itu aku diam kalau diraba-raba, dan pernah juga digiring ke kamarnya pada suatu malam yang hujan.

Aku sedih, tetapi aku tidak bisa mengkhianati kebaikan Tuan. Tanpa dia, aku masih nganggur di kampung dan jadi beban bagi Emak. Lebih baik jadi pembantu. Seandainya aku sekolah, punya ijazah. Minimal kerja pabrikan, bukan mbabu di sini dan jadi budak syahwat remaja lemah iman.

Oh, Gusti, apa salahku? Aku mengabdi, manut, tunduk, tidak pernah membantah, sekarang dituduh maling. Satu lagi, aku tidak perawan, padahal dulu waktu berangkat kemari aku masih suci.

Kalau saja tidak ingat betapa dulu tidak dibawa kemari oleh Tuan, dari rumah lama hingga diboyong ke rumahnya yang besar dan sejuk, sehingga keuangan emakku tidak bermasalah, sudah pasti kubongkar siapa malingnya. Akan kubilang kepada Tuan, "Mas Rendi pakai narkoba, Pak. Dia nyuri buat beli."

Tiga tahun di sini, tiga tahun Rendi meraba-rabaku, tentunya aku hafal bagaimana sejak SMA anak ini sudah rusak. Sayang sekali, Tuan terlalu sombong sampai tidak tahu ada belang di rumah.

Akibatnya, tiap hari aku dihukum. Disetrika, dicekoki sabun, sampai badanku rusak. Dari atas sampai bawah rusak total. Bangun tidur, badanku seperti gelas pecah dan aku mengira jangan-jangan aku mati? Aku kadang merasa sepenuhnya gila hingga tidak berani menatap tuanku.

Aku lama-lama tidak tahan. Kerja enam bulan tidak dibayar. Dan Rendi masih juga menggagahiku malam-malam. Aku lama-lama tidak tahan dan berpikir, kalau kuturuti kerja enam bulan nggak dibayar, bisa mampus sia-sia aku. Jadi sebaiknya aku mati saja sekarang, sehingga nanti ada polisi datang dan aku masuk koran dan orang-orang jadi kasihan padaku. Kalau sudah begitu, orang akan memberi uang santunan pada Emak.

Kurasa, ini pikiran terjernih yang bisa kupikirkan sejak Tuan menuduhku maling. Lihat saja, keluarga itu bakal mencariku besok. Tidak ada tempat lain yang lebih baik selain sumur. Dengar-dengar, bunuh diri dengan cara ini paling cepat, paling tidak menyiksa, dan tentu saja paling dramatis. Soal benar tidaknya, aku memang belum tahu. Tapi malam ini akan kucoba. 

Gempol, 27 Juli 2016

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Karyanya terbit di berbagai media lokal dan nasional.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 7 Agustus 2016

0 Response to "Maria Pergi ke Lubang Sumur"