Masih Kuingat - Pulang ke Kota Kelahiran - Menuju Sebuah Alamat - Kutuk Pertemuan - Sajak Sebelas Tahun Pernikahan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Masih Kuingat - Pulang ke Kota Kelahiran - Menuju Sebuah Alamat - Kutuk Pertemuan - Sajak Sebelas Tahun Pernikahan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:20 Rating: 4,5

Masih Kuingat - Pulang ke Kota Kelahiran - Menuju Sebuah Alamat - Kutuk Pertemuan - Sajak Sebelas Tahun Pernikahan

Masih Kuingat

masih kuingat di kota kelahiran
suara roda andong, kayuhan becak,
dan deru kendaraan angkutan lama
membaur dalam nyanyian panjang
meski bukan seremoni bagiku
yang berangkat perlahan
menyusup ke belantara mimpi
masa mudah di kejauhan getar

tak ada kesiur angin
kabel listrik dan telepon saling berdiam
toko-toko meredupkan mata
trotoar meringis membuang sisa terik
sungai menyimpan rapat kisahnya
menyatu dalam arus senja yang senyap
jalan pun mengelam dalam kegaiban
membeku dalam pelukan bayang jarak

masih kuingat di peta renungan
setapak jalan pulang dalam kenang
sambil menandai gaung lagu, juga
tembang yang makin membiru
meski selalu saja ada nada tak tertangkap
juga ruang-ruang yang terlewat
hanya tangan doa yang tekun melambai
dalam temaram cuaca usia
menggapai-gapai sisa percakapan sederhana
di lubuk silam yang cahaya
Bekasi, 2016

Pulang ke Kota Kelahiran

karena bentang yang memisah pandang, aku si
sini menabung risau dalam rang belakang
rumah rantau. dalam remasan memang sayu, tak
tumpas juga percik bayangmu. engkau tetap
menyihirku dengan ebraneka alamat dan pesan,
hingga waktu pun tak kuasa memajalkan ingatan.
hingga aku tergiring menekuni napas menyisir
hari dengan sansai, menyasar luas ilusi tak usai usai.

aku tak hendak bertemu denganmu, namun hanya
ingin bertemu dengan kenangan yang telah
bertahun tersimpan di tubuhku, lama bertahan
dalam lembam temaram. aku hanya perlu sedikit
pendar matahari dari sorot matamu, untuk
membuat senja yang hangat bagi sisa cerita kita
dahulu. biarlah udara mengapungkan lagi
sekelumit rahasia, dan detak kita menerjemahkan
isyarat cuaca yang kembali belia.
Jakarta, 2016

Menuju Sebuah Alamat

sebuah nama alamat lahir dari rahim sepi. memburu
seperti sekawanan lebah terbang, menaburkan bayang
dan menebarkan ngiang. gemanya menggigil rindu
untuk bangkit, dan menawarkan pencarian sendiri, ke
dalam pusaran gua tersembunyi.

ricik air di kali kecil, kersik daun daun didesak tangan
angin, menjadi bagian dari lanskap penempuhan.
remang memayung, matahari masih tersekap oleh
mending. ruang menjadi serupa rimba yang menyimpan
rekat rahasia, dan mengarsir gamang tafsir di bukit dada.

adalah penyebutan nama berkali, seperti kerja sunyi
membuat jembatan untuk mendekatkan pada wajah
yang menjanjikan peluk dan ciuman, meluruhkan
mendung menjadi hujan, emmadamkan tafsir keraguan
lalu menjelma alamat yang menawarkan kemabukan
secawan demi secawan
Jakarta, 2016

Kutuk Pertemuan

tak kutampik kutuk siang itu
asing merambah pori-pori
menjejakkan lebam biru

lalu sebuah sore
dan pohon mahoni
aku lewat sendiri
lalu ingat, ada pahit yang tersembunyi
tergigit sepi

malam tajam mendarat
seperti menurunkan musim dingin
tapi gagal mengirim gigil
karena liang poriku
tersumbat masygul membatu

koloni uban di kepalaku
rajin mencatat waktu yang menua
terasa telah sangat lama
dan bukan lagi tentang angka angka

aku mengetuk pintu
pertemuan penghabisan
dari dalam ada yang membukakan
entah siapa, kemudian
mendorong tubuhku perlahan
ke belakang, sekilan demi sekilan

:punah percakapan
2015

Sajak Sebelas Tahun Pernikahan

aku datang dari lorong pencarian
engkau berjalan di kolong penantian
mempertemukan kata-kata
yang menyerbu dalam dada dan kepala
untuk bersama menandai
sebuah Februari

tak pernah mudah mendedah
apa-apa yang memuat arah
dalam kelindan pertarungan cuaca
dalam sengkarut pertaruhan bahasa
namun tetap bergerak sebagai tarian usia
mengalir mencari alamat makna

dan di tubir malam
kita terus merajam rambang
menikam gamam
sambil nyanyikan tembang
hingga bulan menguntai bulan
kita harus berbagi kesepian.
Bekasi, 2015


Budhi Setyawan: kelahiran Purworejo Jawa Tengah, 9 Agustus 1969. Menyukai musik rock dan puisi. Saat ini mengelola Komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB). Tinggal di Bekasi Jawa Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Setyawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 14 Agustus 2016




0 Response to "Masih Kuingat - Pulang ke Kota Kelahiran - Menuju Sebuah Alamat - Kutuk Pertemuan - Sajak Sebelas Tahun Pernikahan"