Memancing Parang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Memancing Parang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:54 Rating: 4,5

Memancing Parang

SANGAT sunyi, hanya alam yang menari memberi  bunyi. Rembulan pun bukan lagi separuh, bahkan hanya sabit yang agak lebar sedikit. Kecuali, suara eloknya gerak ekor-ekor sang ikan, hanyalah jangkrik yang mengerik memberi nada hening di rawa tempat Shobran memancing. Kecuali sinar rembulan yang sedikit dan dibantu cahaya taburan bintang yang tidak seberapa, sebuah lampu neon tua di dinding pabrik pemotongan kayu berusaha membantu penerangan  untuk Shobran meski semua tampak hanya remang-remang.

Lampu sulfur mengapung sendirian, seperti diri Shobran yang akhirnya kembali sendiri lagi sepeninggal Ross, belahan jiwanya. Sesekali, lampu sulfur bergoyang, bukan karena umpan yang dikaitkan pada si kail dilahap oleh moncong sang ikan, melainkan hanya menjadi permainan bagi ikan-ikan di bawah air yang bergembira akan lampu mungil yang tiba menerangi gelapnya air rawa di bawah tempat mereka tinggal.

Dia merenung sambil berjongkok di tepian rawa. Dagunya yang hitam  legam terpaku pada lengan kanan aatsnya yang dibalut kemeja lusuh. Tapi, bukan juga seekor ikan yang dia harap hanya keheningan dan kesunyian yang dia mau untuk malam ini. Dia harus melepaskan semua ingatan  dan eknangan dari kejadian yang bermula di dua tahun yang lalu.

***
Dua tahun yang lalu, waktu hampir memasuki tengah malam. Di tempat yang sama, kala Shobran sedang menunggu seekor ikan memakan umpannya, tiba-tiba, "Ggghooooooppppp!!!"

Seseorang keluar dari dalam air memecah kesunyian. Sosok itu menghirup napas sekuat mungkin untuk membalaskan kekosongan paru-parunya selama bertahan di dalam air. Seluruh kulit wajahnya gembung dan lembek, bibirnya lantas terbuka hingga tampak semua rongga mulutnya yang juga kotor dan berlumpur, kemudian ia mengeluarkan suara parau, "To...long, Bang...!!" tengannya yang gempal mencengkeram lengan Shobran kuat-kuat. Matanya seruncing belati, menghujam mulut Shobran untuk diam, meski ketakutan Shobran sudah sampai setengah mati.

Dia perempuan

Bajunya koyak-koyak dan tubuhnya penuh luka. Kedua bahunya penuh sobek sayatan, apalagi lengannya, penuh goresan menganga ketika menangkis senjata tajam yang disabetkan padanya, entah oleh siapa.

"Tolong, Bang..." pintanya lagi. Kali ini, dia sudah hampir menangis, matanya yang hampir keluar dari sarangnya mulai berair yang bercampur darah, bibirnya gemetar, memohon supayaShobran jangan menjerit, berteriak, atau apa pun.

Ditelannya ludah yanng penuh lumpur, lalu dia bicara lagi setelah menarik Shobran lebih dekat kepadanya, mendekati mulutnya yang penuh liur. "Tolong Bang, tengokkanlah, Bang...." Matanya jelalatan, takut-takut kalau ada orang lain selain Shobran di rawa itu, lalu dia meneruskan ucapannya, "Di simpang jalan masihkan ada lelaki membawa parang, dia mau membunuh saya."

Perlahan-lahan, ketakutan yang menancap di jantung Shobran lepas sudah. Yang ada di hadapannya bukanlah sesosok hantu atau jin perempuan penunggu rawa, melainkan seorang perempuan lemah yang sedang bersembunyi untuk bisa terus hidup dari seorang pembunuh.

Perempuan itu kembali menarik baju Shobran lebih kuat untuk  mendekatkan telinga Shobran yang cekung kepada mulutnya, "Di simpang, Bang.... simpang jalan di depan dekat pint masuk pabrik kayu..."

Kepala Shobran yang kurus mengangguk lalu perlahan dilepaskannya cengkeraman tangan si perempuan  pada lengannya. Dia meminta izin untuk diberi jalan agar bisa menengok ke simpang jalan.

Ya!!

Ada seorang ellaki membawa parang yang tengah gelisah di simpang jalan.

Lelaki itu mengenakan kemeja lusuh tak berkancing, celana kain berwarna cokelat keki yang sudah koyak dan penuh tanah, napas lelaki itu terdengar kasar, seperti barusan mengejar buruan babi hutan yang lepas dari ikatan.

Shobran mengendap-endap, ia sembunyi di balik tembok pabrik kayu yang sudah kosong sejak petang tadi. Sedang apa lelaki itu di tengah malam seperti ini, jalan bolak-balikseperti menjaga pencuri dengan parang di tangannya, wajahnya beringas siap membunuh, tampak pula taring keluar dari bibirnya, aih, benar-benar pembunuh. Apa yang dia inginkan dari perempuan di rawa tadi?

***
Shobran membalikkan tubuhnya, ditahannya napas yang akan keluar masuk dari hidungnya yang melengkung dengan gerakan kakudan mengendap-endap, lalu ia segera meninggalkan simpang jalan, kembali mencari perempuan dari dlaam rawa tadi.

Lelaki di simpang itu adlaah suaminya yang henndak membunuhnya. Begitu jelas si perempuan yang mengaku bernama Ross. Karena judi dan minuman keras, otak suaminya berubah sudah, bahkan Ross sudah mulai curiga kalau suaminya telah bersekongkol dengan sebangsa ganja untuk menyedot segala harta yang tersisa dari kehisupan mereka yang sudah miskin.

Di mata suaminya, ia bukan lagi seoranng istri, tapi budak yang selalu kena siksa dan derita dan semakin tidak berguna kala tidak seorang anak pun  ia bisa kandung di rahimnya. Air mata terus menerus mengalir pada kedua pipi Ross yang hitam legam. Dan, begitu Ross berbisik penuh harap pada Shobran dengan mata yang bersimborok dengan mata Shobran yang cekung, "Sembunyikan aku, Bang...."

Lantas, melayang hati Shobran dibuatnya, setinggi-tingginga kalbu itu melambung, ringan dan lantas berbunga-bunga akal serta pikirannya. Betapa berharga dirinya kini setelah semas ahidupnya hanyalah emnjadi tempat tumpahnya segala serapah, kini ia bisa begitu berguna dan emlindungi seorang wanita!!

Maka Shobran menganggukkan kepalanya, lalu bersedia untuk menyembunyikannya.

***
Ross adalah pelita di gubuk Shobran. Tangan Ross yang gempal hitam cekatan mengurus tumpukan pakaian kotor.  Badannya yang gemuk menunjukkan betapa tinggi citarasa perempuan itu kala memasak dan seolah-olah tubuhnya yang padat dan berkulit legam menunjukkan bahwasanya ia adalah seorang pekerja keras yang rajin, sehingga dalam masa seketika saja gubuk Shobran yang bobrok jadi sedap dipandang.

Kemudian, sehari-hari Shobran lantas tampak bersih dan harum, apalagi tampak sekali belakangan bobot tubuhnya bertambah. Dia tidak lagi tampak terlalu kurus, wajahnya kini memancarkan kebahagiaan. Orang-orang berpikir, mungkin sebentar lagi Shobran akan kawin, dan wanita mana yang harus mengalami nasib sial dengan memilih lelaki macam Shobran sebagai pendamping hidupnya?!

Dan, kemajuan dalam mengais rezeki lebih Shobran lakukan. Sejak Subuh, sudah dibuatnya bakso-bakso rebus dengan cekatan dibantu Ross. Akar-akar cinta mulai tumbuh di batin mereka.

Bakso rebus keliling yang Shobran jajakan dengan sepeda tuanya telah berubah rasa sebab ada campur tangan Ross di sana. Dagangannya cepat laris dengan jumlah lebih banyak dari biasa. Shobran bahagia bukan kepalang. Kini, segala caci dengki dan hujatan berlalu sudah. Dia sudah membuka lembaran baru bersama Ross.

Dihirupnya udara sore dalam-dalam kala sepedanya melaju melewati rawa dekat pabrik kayu. Sudah lama dia tidak memancing di sana. Dulu, dia harus melakukannya untuk mendapatkan lauk bekal makan. Angannya melayang, dia tersenyum sendirian seraya mengambil napas dalam-dalam yang bercampur bau amis akan rawa, bayangan ikan-ikan menari indah di pikirannya. Dia ingin segera pulang, menemui kekasihnya.

Namun, "Bhugggg!!!"

Tiba-tiba sebuah benda menghajar wajahnya.

Shobran langsiung terhempas dari sepeda tuanya.

Darah melumer dari kedua lubang hidungnya, panci bakso berantakan, bahkan dia tidak berdaya untuk bangkit sebab pukulan kedua lantas dijatuhi tepat di atas telinga kanannya. Bughhh!!

Darah mengucur ke pelipis. Dalam rabun, matanya sempat melihat  orang yang menghajarnya. Ia adalah lelaki berparang di ujung jalan kala itu. Wajahnya beringas penuh amarah. Lantas, bising-bising terdengar. Rupanya, sudah banyak polisi mengelilinginya, tapi seketika Shobran sudah tidak sadar tentang apa yang tengah terjadi di sekitarnya.

***
Garis kuning berkeliling menutup jalan bagi siapa pun yang ingin tahu tentang apa yang terjadi di gubug Shobran. Gubuk rongsokan yang lokasinya memang agak jauh dari perkampungan itu kini menjadi bukti kuat untuk penyelidikan berikutnya atas kasus pembunuhan Ross, perempuan yang telah hampir satu tahun menghilang dan telah ditemukan jasadnya di rawa belakang pemotongan pabrik kayu. Jasadnya sudah hancur terburai, tetapi hasil forensik menyatakan Ross meninggal sebagai korban pembunuhan atas luka tusukan yang lebih dari sepuluh kali.

Shobran diperiksa sebagai saksi, meski bukti kuat, yaitu baju terakhir yang dipakai korban ditemukan di gubuknya. Interogasi berlangsung alot, pengakuan Shobran atas sosok Ross tidak dibuat-buat, tidak ada kebohongan dari setiap ucapan Shobran, bahkan lelaki itu tampak seperti mulai sakit jiwa. Hatinya sakit luar biasa, dia kebingungan mencari kekasihnya yang sirna begitu saja setelah hampir satu tahun merajut kebahagiaan di gubuknya.

Tikaman demi tikaman yang dihujani pada tubuh Ross terasa menghunus dalam ke dadanya, sebagai sang belahan jiwa, bahkan sakit yang dirasa Ross bisa ia rasakan sekarang. Tiba-tiba, dia menjerit-jerit dan mengaum bagai serigala yanng tertembak sang pemburu sambil menangis mencari-cari ke mana kekasihnya kini. Dia merintih pilu atas darah yang mengucur dari segala luka jiwanya. Semua aparat di kantor polisi itu kebingungan dibuatnya.

Seorang wartawan dari sebuah televisi swasta diberikan kesempatan bertanya langsung kepada sang lelaki pembawa parang tentang masalah apa yang telah membuatnya tega emmbunuh istrinya sendiri dan kemudian membuang jasadnya ke rawa, setahun yang lalu.

"Ya itu, Mbak," jawabnya. "Dia selingkuh sama si Shobrun, tukang bakso itu!" 


Yeanny Suryadi. Pegiat dan penikmat sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yeanny Suryadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 7 Agustus 2016

0 Response to "Memancing Parang"