Musim Semi - Ran - Mawar Hitam - Baitullah - Bom Madinah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Musim Semi - Ran - Mawar Hitam - Baitullah - Bom Madinah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:16 Rating: 4,5

Musim Semi - Ran - Mawar Hitam - Baitullah - Bom Madinah

Musim Semi 

Dia bilang "aku cinta kepadamu!"
tapi aku tak ingin mendengarnya dari dia
selain darimu yang bisa memisah gelap
dari terang

Segalanya adalah sunyi semata,
kecuali cahaya matamu, seperti musim semi
yang menumbuhkan segala bebungaan
di hatiku, yang menderaskan kembali air sungai

ke hilir. Begitulah jam berdentang
mimpi bertilam mimpi datang dan pergi;
dirimu di luar semua itu - di luar segala

yang dibayangkan manusia. Begitulah kau
tulis adaku - dalam sebuah kitab yang kekal
sebelum kelahiran. Sebelum kelahiran

2016

Ran

Jalan ini, berbelok di ujung;
tapi tidak ke rumahku. Cahaya bulan
di antara kilau samurai yang bersiutan
terasa magis. Seseorang harus tersungkur
di padang terbuka. Harus gugur.

Cinta yang membar, yang membakar
tubuhnya hingga ke liang nyawa;
adalah kau semata yang dituju. Tegukan sake,
tak membuatnya mabuk, selain sinar matamu
yang bercahaya di gelap malam.

kau dengar ringik kuda dini hari
dan sepasukan orang kalah, yang lelah
dan berdarah? Semua itu serupa tanda,
jejak, apa pun namanyabagi keheningan
yang mengendap di dada. Dadamu
dan ia lenyap di ujung tatapan

2016

Mawar Hitam

Ini mawar hitam untukmu,
basah oleh sisa hujan semalam. Tidak merah,
tidak putih, ataupun ungu. Bila aku memberi
sekuntum mawar hitam kepadamu:
adakah kau akan menolaknya? Ran, di padang terbuka;
dua samurai saling menghunus pedang.

Bila aku roboh sebelum menjangkaumu, isaplah
wewangian yang diemban mawar hitam. Saat itu bulan
naik sepenggalah – dan seekor gagak hitam berkoak
di ketinggian langit sana. Gagak mistik yang terbang
dari kuburan Mishima. Adakah kau akan menangis
karenanya? Jangan. Jangan menangis;

sebab rohku tak suka dengan itu. Saat itu
ribuan ayat suci dilantunkan para pelayat, juga dirimu.
Dan aku terbaring tenang di kedalaman tanah,
dengan samurai patah berdarah. Derap kuda yang menjauh
mewarnai subuh yang lekas usai, yang lekas selesai.
Dan sisa hujan semalam membasahi kuntum
mawar hitam. mawar keabadian
di tanganmu

2016

Baitullah

Hampir subuh saat itu,
saat airmataku jatuh
di Baitullah.

Lingkaran tawaf kian padat merayap.
Ayat-ayat suci melantun
dari mulut para peziarah. Dan aku tenggelam
dalam nikmat tak terduga.

Tak ada adaku saat itu, yang nyata
Hanya keagungan-Nya semata.

Dan langit begitu biru jernih
seperti kilau kaca yang memancarkan
warna biru tua, warna yang sesungguhnya
tak sanggup aku tuliskan dalam larik-larik
puisi ini.

Ya, bagai utaan laron
malam itu, orang-orang tawaf
membakar diri dalam api ampunanNya.

“Ya Allah, hamba datang
Menghadap-Mu, hamba datang memenuhi
panggilan-Mu,” bisik hatiku.

Jiwaku melayang, meruang mewaktu
dalam dunia-Mu semata

2016

Bom Madinah

Bagaimana bisa bom meledak di kota suci?
Tentu saja bisa, sebab rasa hormat kepada Sang Nabi
sudah tak ada. Bukan, bukan hanya itu. Ada hal lainnya
yang menyala di hati si zalim. Ingin mencemarkan
Islam, ajaran mulia Nabi Muhammad saw.

Bagaimana bisa bunuh diri dibilang jihad?
Jihad atas nama apa? Sungguh semua itu palsu belaka,
tak sesuai dengan ajaran Sang Nabi; bahwa bunuh diri
adalah perbuatan terkutuk, haram dari sorga Allah.
Lalu kenapa masih juga kau lakukan semua itu?

Sungguh, di bulan suci-Nya ini – aku termenung
mendengar bom bunuh diri meledak di Kota Suci Madinah,
Kota tempat Nabi Muhammad saw hidup dan meninggal dunia.
Kota yang megah dengan Masjid Nabawi. Kota  tempat
turunnya sejumlah ayat suci Alquran. Kota yang kini
bagaimana bisa semua itu terjadi?

2016

Soni Farid Maulana, lahir di Tasikmalaya pada 19 Februari 1962. Lewat Arus Pagi (2015) meraih Anugerah Buku Utama Puisi Indonesia dari Yayasan Puisi Indonesia (2015). Saat ini dikenal sebagai penggagas sekaligus pelopor puisi sonian yang sudah menyebar ke Singapura, Malaysia, India, dan Paris. Tinggal di Bandung. Kumpulan puisinya terbaru Belum Jam Tiga (KKK, 2016) dan Jazza Dini Hari (Sehimpun Sonian, KKK, 2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Soni Farid Maulana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 31 Juli 2016


0 Response to "Musim Semi - Ran - Mawar Hitam - Baitullah - Bom Madinah"