November di Bruges - Kerudung Merah Padam - Tentang Katedral - Di Tepi Pelabuhan - Peta Buta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
November di Bruges - Kerudung Merah Padam - Tentang Katedral - Di Tepi Pelabuhan - Peta Buta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

November di Bruges - Kerudung Merah Padam - Tentang Katedral - Di Tepi Pelabuhan - Peta Buta

November di Bruges

lewat jendela itu ladang-ladang seperti terbang
tak meninggalkan bayang. dipandanginya gerimis menjatuhi
tepian kaca kereta –derunya sayup. siang redup
ketika dia hidupkan kembali ingatan masa kanak
tentang seorang ibu mengajari anaknya yang bisu bernyanyi
di sudut stasiun tua yang sepi dan mengering
tergunting angin dan matahari. ”Aku pun merindumu
sayang, sungguh, kelak aku pulang. Namun izinkan kulukis
sejenak salju tipis kepergianku dalam
puisi yang gugup berjanji.“

Bruges, 2015


Kerudung Merah Padam

:untuk Zizi

karena diam-diam mataku merekam merah
padam kerudungmu, berdosakah aku?
ah, kau. di dalam ruang remang,
adakah yang lebih mudah dari menduga arah
       di mana terang terentang?
maka menolehlah barang sejenak, dan bersiulah.
jika bulan tipis dalam mendung berangsur lebur,
gerimis itu juga yang kelak melukis jatuhnya sendiri.

Surabaya-Leiden, 2015


Tentang Katedral

dari liukan kanal dan dinding tebal
katredal, masa lalu terekam dalam lolong
biduan jalanan. Telah lama termaktub dalam risalah
sejarah abad-abad gelap saat manusia lelap
dalam doa-doa. ”Eli, eli, lama sabakhtani”

antara terang dan gelap selalu terhampar kabut
lagu tentang surga dan segala yang tak surut

dinding beku. angin diam. seperti kenangan,
angsa-angsa putih itu pun mencari hangat
di sisi jembatan yang teriris tipis
segaris matahari.

Bruges, 2015

Di Tepi Pelabuhan

I
meski daun tak berembun angin
tak berayun masih ia pergi menyusun pagi
sebab ia tahu sebelum matahari tinggi
seekor kumbang jantan akan duduk di pelupuk
dahan, menagihnya bercerita tentang lautan
dengan sepasang gelombang mawar

mekar di pasangnya. ia pun tergesa
mengenakan topi, pergi mendayung sampan
di teluk arus lamban. lengang. Hanya bangku-bangku
dari kayu menyapanya, berkata ia mesti menanti
sebentar lagi. kumbang itu akan datang tapi tak sendiri
sebab sendiri adalah ngeri, matahari lebam di langit
kiri

II
pagi itu, ia lihat sepasang kumbang beradu
membelah perdu menyisir debu sambil berlalu
terbang tersipu malu. kumbang sayap pirang itulah yang
ia tunggu,
”tetapi kini ia lupa padaku,“ sendu lelaki tua
pada sendiri, ”ia alpa pada rupa, dan sengaja.“

lelaki itu diam tertanduk kelu. pilu
rapuh. hati yang menanti adalah sebilah belati
tajam mengancam. hati yang terkenang adalah pedang
yang bimbang namun lantang menantang

III
sehelai kembang luruh di atas bangku
bangku yang jarang tersentuh. kumbang-kumbang
jauh meninggi. lelaki itu meneguk kopi, melepas topi.
tiba-tiba ia teringat sesuatu
: datanglah sebagai pendar merah menyala
bawakan segulung mantra bunyi berhala

sepi. janji adalah jala tertebar lebar
harap dan perangkap. bangku-bangku tahu lelaki itu pasti
berkeras duduk dan menanti. ia tak ingin mengeluh
pada angin, pada teluk mati suri. ia hanya diam, tenang
memandang kapal-kapal gegas ke seberang
menatap layar menjemput pasang

”Tuhanku, ombakku, kini aku tahu sayapmu
Terentang seluas lautan.“

Rotterdam, 2015

Peta Buta

dan kau terduduk dengan mantel bulu warna perunggu
setelah lelah menyusur lorong-lorong yang nihil
di peta ingatanmu. adakah yang kau tunggu?

kau amati burung-burung pos kelabu
meliuki sungai yang seakan tak pernah selesai
mengalir. mereka tak lagi membawa kabar
atau kelakar tentang pelaut yang gentar
pada badai salju hari pertama.

kau amati langkah-langkah gontai
berpadu mesra aroma marijuana
sejak tibamu di pantai. adakah yang kau cari?

gerimis tiba. selalu tanpa aba-aba.
kau beranjak lagi menyusuri lorong
lorong asing di peta buta kenanganmu.

Amsterdam, 2015


De Vink

   :untuk freek colombijn

entah siapa menabur madu
di kotan itu:  ia lihat sepasang kupu beradu
membelah perdu menyisir salju sambil berlalu
terbang tersipu malu. dari jauh dilihatnya
gadis kecil berpitar merah muda
membawa segulung kembang gula
berbentuk gondola. ia tersenyum
sendiri. diseduhnya lagi segelas kopi
hitam legit. perjalanan dan kesendirian adalah puisi
tentang negeri empat musim
yang kini ditafsirinya berulangkali.

lelaki itu bergegas pergi
mengambil langkah ke utara tepi

Leiden, 2015

K.Y. Karnanta, dosen FIB Universitar Airlangga yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Belanda. Selain menulis puisi, juga mengarang cerita dan membuat esai.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya K.Y. Karnanta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu, 24 Juli 2016

0 Response to "November di Bruges - Kerudung Merah Padam - Tentang Katedral - Di Tepi Pelabuhan - Peta Buta"