Pagi, di Stasiun - Aku tak akan tua - Tamu - Pertanyaan-pertanyaan untuk Don Quixote | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pagi, di Stasiun - Aku tak akan tua - Tamu - Pertanyaan-pertanyaan untuk Don Quixote Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:17 Rating: 4,5

Pagi, di Stasiun - Aku tak akan tua - Tamu - Pertanyaan-pertanyaan untuk Don Quixote

Pagi, di Stasiun

Dari ujung Tugu
rel melengkuas
burung jatuh
loko lelah

Seharusnya ada peluit
Seharusnya seseorang menjerit
Seharusnya pagi tak singgah
dengan kopi cerah

Seharusnya aku enggan
Seharusnya engkau enggan
Dan kita
tak sampai

2016

Aku Tak Akan Tua

Aku tak akan tua
dengan tujuh kwatrin

Mungkin di ujung
ada patah kata lain

Aku tak akan jalan
ke arahmu

Aku mungkin jalan
ke arahmu

Jangan
kautunggu

di utara itu.

2016

Tamu

Dengan raut kusut, dengan kaus apak
dan bibir luka, Don Quixote diminta berdiri
di balkon itu,
menghadap ke arah plaza.

Kota terhenyak.

”Ecce homo!” seru tuan rumah.

Suara tertawa meningkah.

Tapi dari tepi jalan di bawah
orang-orang terus menatapnya.

”Ia tak bermahkota duri, papa,” kata seorang anak.
”Ya, tapi ia tahu apa yang kita tak tahu,” sahut ayahnya.
”Apa yang ia tahu, papa?”
”Seorang ksatria dilahirkan kembali
ketika penghinaan
tak melukainya.”

Satu jam kemudian tuan rumah menyuruh orang ramai
mengarak Don Quixote di panas terik
ke ujung jalan.

Sang majenun tahu, tapi ia hanya diam,
di kota ini tak ada yang pernah bertanya
tentang tamu, waham, kematian.

Tapi ia hanya diam.

2016

Pertanyaan-pertanyaan untuk Don Quixote

Ketika para pembaca bertanya berapa lamakah Don Quixote mencintai Dulcenia, tokoh novel ini (tanpa diketahui sang pencerita) menjawab: bertahun-tahun—sejak ladang-ladang terbentang di La Mancha. Di rumah warisan di sudut dusun itu khayal kadang jadi badai, dan badai menghalau penabur, dan penabur merelakan benih di kantongnya: yang ranum jadi gergasi, yang rapuh jadi cacing, yang gabuk entah. Tapi aku pohon gabus yang menyendiri, kata Don Quixote dengan nada rendah. Kulitku tertoreh. Maka kutatah tubuhku mencari Dulcenia.

Tapi tuan terlampau tua untuk itu, protes para pembaca. Don Quixote mengangguk, pelan: Barangkali. Aku alpa. Aku menyembunyikan diri dalam bahasa Mur. Aku sesekali merangkak ke dalam kitab lusuh, aku tinggal di alcaná, sebagai Yahudi tak berjanggut ketika Taurat dimusnahkan. Aku pernah menyaksikan perumpamaan terhapus dan pelan- pelan aku membuat amsal baru. Bapa-kami di surga, kau matikan kehendakku. Sejak itu aku berhenti tertawa dan Rocinante mengangkutku.

Tuan tak pernah ragu tentang siapa Tuan? tanya seorang pembaca. Don Quixote tak menyahut. Tuan tak pernah meragukan Dulcenia? tanya pembaca yang lain. Don Quixote hanya memandang ke arah jalan.

Mungkin ia teringat malam itu, di bilik kecil, di sebuah kastil tempat ia diperdayakan. Letih, lapar, terpisah, ia kunci pintu. Ia tak lepaskan baju zirahnya. Ruang itu dingin. Dua lilin tak ingin menampakkan semuanya: sepasang sepatu dengan lars berlumut, sepasang kaus kaki yang setengah menghijau, tungkai kiri yang sakit bersentuhan dengan dunia. Ia berjalan ke jendela karena ia seakan mendengar seorang gadis bernyanyi di halaman: aku mengagumimu, ksatria La Mancha.

Ia tahu, semua hanya olok-olok, kecuali kesedihan. Ia tak menginginkan fantasi baru. Di ruang persegi itu, dalam gelap, ia selintas menemukan kembali waswasnya yang lama. Jangan-jangan Dulcenia tak ada, tak pernah ada.

2016


Goenawan Mohamad menulis puisi, esai, dan lakon. Buku puisinya antara lain Don Quixote (2011) dan Gandari dan Sejumlah Sajak (2013).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Goenawan Mohamad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Kompas" edisi Sabtu 13 Agustus 2016

0 Response to "Pagi, di Stasiun - Aku tak akan tua - Tamu - Pertanyaan-pertanyaan untuk Don Quixote"