Pembunuh Sri Wulan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pembunuh Sri Wulan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:57 Rating: 4,5

Pembunuh Sri Wulan

SELALU saja ada yang bertanya siapa pembunuh Sri Wulan, kakak Brandal Lokajaya atau nama lain dari Raden Sahid itu. Sehari sebelum mati memang ia sudah menyiapkan kain kafannya sendiri. Tetapi di tubuhnya tak ada tanda-tanda bunuh diri. Setelah diperiksa, di perutnya mengendap racun sianida. Dan tentu saja, tidak mungkin ada orang pelosok dusun Soko yang menjual racun itu sehingga mustahil Sri Wulan membeli lantas meminumnya bersama kopi. Pasti ada yang telah membunuhnya. Entah siapa.
WILWATIKA, bupati otoriter yang kebetulan menjadi bapaknya Sri Wulan, marah besar. Bagaimana tida, setelah empat hari tiga malam ia bersama abdi dalem mencari anaknya yang melarikan diri itu, kini hanya menemukan mayat pucat. Mayat yang tak bisa beraksi apa-apa tentang kematiannya.

"Sri, apa yang telah terjadi?" katanya sambil menangis.

Tentu saja Sri Wulan tak menjawab. Tak bisa menjawab.

Pada gurat wajah pucatnya, Sri Wulan seperti menceritakan suatu hal yang perlu diketahui. Ia tak akan pernah mau dijodohkan dengan lelaki putera mahkota yang ditunjuk ayahnya. Sebab diam-diam ia jatuh cinta pada lelaki imajiner, begitu ia menyebutnya. Karena lelaki itu bisa menghilang atau bisa hidup di alam makhluk halus. Namanya Ilusi.

Pada suatu hari yang biasa ketika Sri Wulan pergi ke pantai utara, di dermaga Boom, lelaki itu datang seperti dari bulan. Sri Wulan dengan wajah murung, sama sekali tak peduli kehadiran lelaki itu. Ia tak tertarik. Demi apa pun, ia tak tertarik. Jangankan ingin bertanya kenapa ia bisa terbang, datang dari mana, atau sekadar namanya siapa, memandang pun ia enggan.

Lelaki itu datang dengan bentuk manusia modern, padahal saat itu orang-orang setempat masih sangat tradisional. Ia memakai celana jeans, rambut mohawk, tindik di telinga kanan dan kirinya, memakai kalung, dan tentu saja sambil memegang smartphone. Terdengar di sana lagu Lingkin Park, Numb.

Ketika lelaki itu mendekat dan duduk bersamanya, ia masih dengan mata sendu, memandang langit yang hitam karena malam. Memandang sedikit cahaya karena bulan sabit dan bintang-bintang.

"Sendirian saja?" tanya lelaki itu.

Sri Wulan mengangguk dan tanpa memandang bentuk muka lelaki di sampingnya.

"Aku datang dari bulan semata karena ingin menghiburmu. Aku tahu selama ini kau menjadi makhluk paling sedih di dunia."

Sri Wulan tertarik dengan pembicaraan itu. Ia ingin peduli, tetapi hatinya berbicara, lelaki ini sama saja, hidung belang yang suka merayu.

Melihat gelagat Sri Wulan yang tak acuh itu, ia mengibaskan sayap-sayapnya yang putih.

"Bagaimana, kita jalan-jalan ke langit malam ini. Mau?"

"Ndak ada ceritanya jalan-jalan ke langit," kata Sri Sulan ketus.

"Aku punya sayap. Aku ini keturunan burung Hud-Hud!"

"Burung itu tidaak ada di sini."

"Tetapi aku di sini buktinya."

Pembicaraan ini berlangsung sengit. Karena sebegitu sengitnya, si penulis kebingungan mau ditulis dengan cara apa. Akhirnya Sri Wulan mau diajak terbang. Kemudian setelah beberapa waktu yang agak lama, mereka kembali. Sri Wulan wajahnya berseri-seri.

Hari-hari selanjutnya, Sri Wulan selalu menunggu kehadiran lelaki itu. Lelaki yang tak mau disebutkan namanya dalam cerita ini. Ia menunggu dengan perasaan yang sangat bahagia.

Sampai pada suatu malam....

Malam itu, malam yang hujan. Seperti biasanya, hujan memang sering mengundang kesedihan. Sri Wulan sedih dan tidak mengerti harus berbuat  yang bagaimana lagi. Ia dikurung dalam kamar dan dibalik pintu kamarnya sudah berjaga dua lelaki bertubuh kekar untuk mengantisipasi kalau Sri Wulan kabur. Sementara itu, pesta pernikahan akan segera dilakukan lusa. RUmah tangganya sudah bersiap-siap segalanya. Termasuk menggoreng-goreng kue kucur, onde-onde, kerupuk manish omah tawon, membuat sagon, kembang gulo, dan lain-lain semacamnya.

Di depan rumah sudah terpasang riasan-pengantin. Di belakang rumah sudah disiapkan dua sapi dan empat kambing untuk melengkapi perayaan itu.

Tetangga=tetangga membicarakannya. Sri Wulan yang cantik cocok sekali mendapatkan lelaki tampan putera mahkota itu daripada yang lain. Mereka tidak tahu kalau Sri Wulan justru merasa tidak cocok. Sebab lelaki putera mahkota itu tidak menyukai puisi dan ia sangat menyukai puisi. Sri Wulan menyukai kesederhanaan dan lelaki itu lebih suka berfoya-foya.

Ia masih berpikir, pokoknya pernikahan itu mau tidak mau harus dibatalkan. Sebenarnya ia punya kesempatan untuk membatalkannya dengan cara memecahkan cermin lemari dan mengambil pecahannya kemudian menggoreskan di lengan. Tetapi, bunuh diri tidak baik bagi siapa pun, bagi agama manapun.

Matanya melihat jendela dengan putus asa. Jendela dikunci dari luar dengan rantai seberat gabah satu karung.

"Lewat genteng saja." Tiba-tiba ia mendengar suara lelaki imajiner itu. Entah dari mana pusatnya. Matanya kini tertumbuk pada genteng rumahnya. Dan ya, tunggu apa lagi. Ia memanjat dinding dan membuka genteng. Dari sanalah ia mulai kehidupan di luar rumah. Langkah kakinya cepat secepat turunnya hujan kala itu.

Ke arah Selatan Sri Wulan berlari seperti dibawa angin. Ia memang hendak menjauh dari pantai utara Tuban itu. Pantai yang dikuasai ayahnya sendiri. Kabur dari rumah dan berkeluaran di pantai sama saja cari mati.

Dua hari dua malam ia akhirnya berhenti di suatu tempat. Tempat yang biasa orang-orang memanggilnya Dusun Soko, wilayah paling pojok Kabupaten Tuban. Tepat di tengah-tengah alas yang rimbun. Selama perjalanan ia makan seadanya, kadang daun, kadang buah, kadang-kadang meminta-minta dari rumah ke rumah. Tetapi bukan ini inti ceritanya.

Saat Sri Wulan duduk kelelahan, muncullah lelaki imajiner.

"Aku tak bisa menikahimu kalau nyawamu masih bersedia mendiami ragamu!" kataya tegas. Sejak itulah, demi cintanya, Sri Wulan menyiapkan kain kafan untuk kematiannya. Tetapi ia tak mau bunuh diri. Maka dengan segala hormat ia berpesan pada orang tua yang duduk di gubuk tengah alas, kalau ia mati. kafan inilah bungkusku, katanya/

Sri Wulan, dlaam keadaan lelah, masih memikirkan perkataan orang yang dicintai itu, sampai lelah itu membawanya ke alam mimpi. Ia tertidur lelap sekali. Hampir sehari semalam matanya masih terpejam. Lalu, entah karena apa ia terbangun. Mungkin lapar, mungkin haus, mungkin ingin kencing. Di samping tubuhnya, ia
melihat secangkir berisi minuman yang hitam pekat. Tanpa pikir panjang, ia meminumnya perlahan.

Sri Wulan tidak mengerti apa yang ia minum Rasanya tidak seperti kopi. Hambar. Tetapi karena haus, ia tetap meminumnya. Seperti dalam iklan susu, ia meminum itu sampai tetes terakhir. Betul-betul tetes terakhir. Sampai ia rasakan ada yang aneh dalam dirinya. Seperti terbang. Seperti melayang.

Begitulah kronologinya. Ayahnya kini hanya bisa menangis. Dan orang bengis seperti ia memang juga bisa menangis. Tetapi ia masih bertanya-tanya, siapa yang membunuh anaknya.

USai berkabung kira-kira empat jam, orang paling ditakuti seantero kabupaten itu menyuruh penduduknya, bagi siapa yang menemukan pembunuh Sri Wulan, akan mendapat imbalan emas satu kilo. Akhirnya, bisa dipastikan, hari-hari itu menjadi hari tersibuk di sana. Orang-orang mencari siapa pembunuh itu.

Tetapi hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, tetap tak ditemukan. Kini, limaratus tahun kemudian, pembunuh itu sepertinya sudah dilupakan. Tetapi kau mungkin masih bertanya-tanya, siapa pembunuhnya setelah membaca cerita ini.

Sama, aku juga.***


Daruz Armedian, lahir di Tuban dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Tulisannya pernah nangkring di "Media Indonesia," "Suara Merdeka," "Kedaulatan Rakyat," "Republika," dll.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 7 Agustus 2016

0 Response to "Pembunuh Sri Wulan"