Perempuan di Perut Bulan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan di Perut Bulan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:26 Rating: 4,5

Perempuan di Perut Bulan

JENDELA kamarku baru saja diketuk angin. Kesiurnya merdu dan melenakan. Saat kubuka jendela, kulit wajahku bagai tertampar lembut. Di atas langit pekat, mataku menangkap bulan bulat penuh yang menggantung redup. Bentuk bulan yang bulat padat, menurutku sedikit menyerupai perut perempuan yang hamil tua. Penuh berisi.

Sementara di bibir jendela sebelah kamarku, ada ibuku yang senantiasa berdiri tertegun memandanginya. Bulan bulat penuh. Meskipun tidak setiap malam bisa muncul, namun selalu Ibu menantikan kehadirannya. Tanpa pernah bosan.

Menyimak kisah yang dituturkan Ibu, aku lantas memperhatikan dengan seksama rupa bulan. Meskipun kisah Ibu hanya fiktif belaka, aku akhirnya sependapat dengan Ibu, bahwa siluet yang ada di dalam perut bulan tersebut menyerupai sesosok tubuh perempuan yang seolah sedang duduk menjahit.

Tentang mengapa Ibu selalu melakukan hal itu, aku tahu pasti alasannya. Ibu hanya ingin berbagi rasa ketika hatinya terluka. Saat hari-harinya dirundung kecewa.

Bermula ketika tadi pagi Helena berkunjung ke rumah ini. Meskipun Helena muncul dengan sikap santunnya, tapi Ibu menanggapinya dingin saja. Ibu rupanya masih marah kepada Helena. Memendam kekecewaan yang teramat dalam kepadanya.

“Helena rindu pada Ibu.” Helena hendak memeluk, tapi tangannya ditepiskan Ibu.

Ibu berjalan ke tepi jendela, berusaha menghindari Helena.

“Bu, Helena mohon, Ibu mau mengerti alasan Helena tinggal bersama Ayah. Helena ingin tetap melanjutkan sekolah, Bu.”

“Ibu sudah mengerti. Sangat mengerti. Jadi, buat apa kamu katakan lagi? Ibu sudah terlampau sering mendengarnya. Ibu sudah mengerti!” Dingin jawaban Ibu.

“Belum, Bu. Ibu belum mengerti. Kalau Ibu sudah memahami kehendak Helena, Ibu pasti tidak akan bersikap seperti ini kepada Helena. Tidak tinggal bersama Ibu, bukan berarti Helena tidak sayang lagi pada Ibu. Helena sangat sayang pada Ibu.”

“Kalau kamu sudah merasa nyaman tinggal di sana, sebaiknya jangan pernah datang lagi ke rumah ini. Ini rumah Ibu dan Kirana. Bukan rumah kamu lagi. Kirana, tolong kamu tutup pintunya kalau tamunya sudah pulang. Ibu mau istirahat dulu.” Ibu pun berlalu begitu saja tanpa mau menoleh lagi kepada Helena.

Aku menghela napas dengan tersendat, sesak. Apa yang sudah diuraikan Helena tadi, mampu memancing jatuhnya bulir air mataku. Di tengah perseteruan yang terjadi antara Ibu dan Helena, aku merasa menyesal tidak memiliki pekerjaan yang baik. Mungkin, dengan upah kerja yang lebih dari cukup, aku akan bisa mempertahankan keberadaan Helena di rumah ini. Semestinya, akulah yang bertanggung jawab penuh atas biaya pendidikan Helena. 

“Pulanglah dulu ke rumah Ayah, Ibu bukan marah kepadamu. Dia hanya marah kepada Ayah. Bersabarlah dulu untuk menerima pelampiasan kemarahan Ibu. Mbak menyesal sekali sudah menelantarkan kamu.” Aku tak sanggup menyatakan ketidakberdayaanku kepada Helena. Aku merasa malu kepadanya. Tidak berarti bagi hidupnya. 

“Sudahlah, Mbak, jangan selalu memikirkan aku. Pikirkan saja Ibu. Perhatian Mbak selama ini sudah lebih dari segalanya bagiku. Hanya Mbak Kirana yang bisa mengerti keputusanku. Terima kasih, Mbak. Jika aku lama tidak pulang ke rumah ini lagi, itu karena aku ingin Ibu tenang dulu. Kapan-kapan aku datang lagi. Tolong jaga Ibu.”

Aku peluk Helena erat. Luruh lagi air matanya. Begitu juga dengan air mataku, tumpah dengan derasnya di bahu Helena.

Sejak saat itu, Helena lama tidak datang berkunjung lagi. Helena bagai raib begitu saja. Betapa aku sangat merindukannya. Tidak tahu dengan Ibu. Namun, sikap Ibu masih seperti biaanya. Sendiri, melamun di bibir jendela hingga tengah malam.

Kubiarkan Ibu mengusir rasa sepinya seperti itu. Terkadang, kutemani Ibu dengan melakukan hal yang sama, melempar pandangan mataku ke atas langit. Ibu merasa senang jika kutemani.

“Dia tidak pernah lelah, Kirana. Duduk menjahit semalaman suntuk. Kau tahu, perempuan itu sesungguhnya sedang bersedih. Dia menjahit semua sayatan luka. Begitu tekunnya, agar semua luka benar-benar tertutup rapat. Luka yang benar-benar sudah tertutup rapat, tidak berarti sakitnya bisa langsung hilang. Sewaktu-waktu, luka itu masih terasa seperti menggigit.” Suara Ibu tersamar oleh seraknya yang lirih, nyaris tidak bisa tertangkap telinga dengan baik.

Aku tahu, Ibu sesungguhnya sedang berkisah tentang dirinya sendiri. Luka hatinya. Kekecewaannya. Dikhianati pasangan hidup. Lalu Helena. Tidak mudah juga bagiku meminta Ibu untuk memaafkan Helena. Dalam hal ini, Helena tidak sepatutnya turut dipersalahkan Ibu.

Usai mendengarkan Ibu berkisah, kubiarkan Ibu dengan segala kesedihannya. Setelah Ibu tenang, baru kemudian kupeluk dia. Bertahun-tahun kesedihan ini mencengkeram keseharian Ibu. Sampai hatiku pepat memikirkannya.

Kupandangi sekali lagi perempuan yang sedang duduk menjahit di tengah sinar bulan. Rasa benci terkadang melintas di benakku. Mengapa perempuan itu tiada bosannya menjahit? Mengapa dia tidak lekas keluar saja dari perut bulan? Setiap kehadirannya di kegelapan malam, sudah tentu memicu turunnya air mata ibuku. Dan, aku benci itu!

***
Di bawah langit yang teduh hari ini, aku mendapat kejutan yang tidak terduga. Helena, dia telah berdiri di hadapanku kini. Untuk kali ini, entah mengapa dia datang ditemani Ayah dan istri muda Ayah. Aku sedikit canggung menyambutnya. Tapi, hal itu tidak lantas menyurutkan kegembiraanku atas kedatangan Helena. Aku memeluk Helena erat. Menciumi kedua pipinya. 

Ibu dengan tegas menolak bertemu mereka. Tapi Helena memaksa, meminta dengan penuh harap untuk diizinkan bicara. Sementara di luar, Ayah dan istri mudanya tampak digayuti resah dengan kepala tertunduk dalam.

“Helena rindu pada Ibu.” Selalu tak pernah lupa ia ucapkan itu ketika bertemu Ibu. Seperti biasa, Ibu membuang pandang ke arah lain.

“Helena datang ke sini mau minta doa dari Ibu. Minggu depan Helena mau menjalani operasi. Doakan Helena, Bu, agar operasi Helena berjalan dengan baik.”

Aku terkejut mendengarnya. Mendekati Helena dengan segala tanya di hati.

“Kamu mau operasi, Helena? Operasi apa? Kamu sakit apa, Helena?”

“Bukan Helena yang sakit, Mbak, tapi orang lain.” Helena menunduk sedih.

“Siapa yang sakit? Dan kenapa harus kamu yang melakukan operasi?” Aku terus mencecarnya. Kulihat Ibu masih tidak peduli. Ia masih tidak ingin menatap Helena.

“Ada yang membutuhkan ginjal Helena, Mbak. Helena sudah memutuskan untuk menolongnya. Sudah saatnya bagi Helena untuk berbagi.” Helena bertutur lirih.

Aku bagai ingin pingsan mendengarnya. Ibu juga tampak menggeliat resah.

“Helena, untuk apa kamu melakukan itu? Apa sudah kamu pikirkan, bagaimana menjalani hidup hanya dengan satu ginjal? Helena, kamu tidak perlu melakukan hal semacam itu untuk menolong orang lain. Ada banyak cara ....”

“Mbak, aku sudah ikhlas!” Helena menyergah cepat.

“Helena ....” Lidahku seperti sudah ditumbuhi tulang, sulit untuk berkata-kata.

“Sebenarnya siapa yang sakit, Helena? Apa dia begitu berarti bagimu?” Kupaksakan lidahku yang kelu untuk bertanya.

Ibu masih terdiam. Berdiri membelakangi aku dan Helena. Tidak bisa lagi disembunyikan geliat tubuhnya yang resah.

Helena tidak segera menjawab. Kepalanya tertunduk lagi, menyembunyikan wajah sedihnya dariku.
“Aku yang sakit.”

Sebuah suara tiba-tiba mengejutkan kami. Ada seseorang yang berdiri di belakangku. Aku memutar badan terpatah-patah. Serentak dengan gerakan badanku, Ibu pun menoleh dengan cepat.

Helena makin dalam membenamkan kepalanya.

“Aku sudah menolaknya, tapi Helena terus meminta padaku.”

Seseorang itu berkata-kata lagi. Lututku menjadi gemetar seketika. Kutikam tajam perempuan di depanku itu dengan tatapan mataku yang tak bisa lagi berkedip. Mengapa harus sepahit ini perjalanan hidup?

Di muka pintu, kulihat Ayah berdiri tanpa berani menatap wajah-wajah yang pernah ditinggalkannya. Dalam keadaan sekalut ini, mengapa Ayah tidak meminta kepadaku, atau juga kepada Ibu agar memohon kepada Helena untuk mengurungkan niatnya. Sudah menyakiti hati keluarga, mengapa masih pula mengorbankan darah dagingnya sendiri. Di mana pembelaan Ayah untuk Helena?

Hening yang menyesakkan itu, tiba-tiba dibuyarkan oleh lemparan sebuah benda dari tangan Ibu. Ibu mengamuk dengan kemarahan yang besar. Semua benda yang terjangkau oleh tangannya, satu per satu dihempaskan dengan keras.

Aku segera berlari mendekati Ibu. Memegangi tubuhnya sekuat tenaga.

“Pergi! Pergi dari rumahku!” Ibu berteriak kalap. “Pergiiiii!”

Ayah dan istri mudanya bergegas meninggalkan ruangan. Pergi begitu saja tanpa jejak kata-kata lagi.
Dengan tubuh lunglainya, Ibu berusaha mendekati Helena. Matanya berpendar sedih menatap wajah Helena. 

“Kembalilah pada Ibu, Helena. Dan jangan lakukan hal itu, Ibu mohon.” Bergetar bibir Ibu akibat terlalu memaksa menahan tangis.

“Maafkan Helena, Bu. Helena sayang Ibu.” Hanya itu yang Helena ucapkan.

Helena menolak permohonan Ibu. Sebelum pergi, sempat ia memeluk Ibu. Memeluk aku.

Di bawah teduhnya langit hari itu, adalah terakhir kali aku dan Ibu bisa memeluk Helena.

Sejak saat itu pula, Ibu telah mengalihkan matanya dari rembulannya. Seharusnya aku gembira Ibu tidak lagi berdiri di bibir jendela dengan wajah sedihnya. Kupikir, Ibu sudah mengabaikan semua perasaannya yang ada selama ini. Namun, yang terjadi ternyata justru sebaliknya. Ibu semakin membenamkan diri dalam kesedihan. Tak ada lagi kisahnya tentang perempuan bulan. Tatapan matanya kosong sudah. Ibu bagai menyerupai patung batu meski masih bernyawa.

Ibu sudah benar-benar melupakan rembulannya. Mengabaikan perempuan yang ada di dalamnya. Kebisuannya membuat hatiku sedemikian kalut dan cemas. Namun, tiada daya apa pun yang mampu kulakukan. Hingga kemudian aku memutuskan membuka jendela sepanjang malam. Aku ingin, perempuan bulan itu menemani lagi malam-malam sepi Ibu.

“Jangan salahkan Helena lagi, Bu.” Aku berbisik sambil memeluk Ibu. “Dia anak baik. Dia tidak bersalah, Bu. Dan dia juga sangat menyayangi kita,” kataku lembut.

Mata letih Ibu mencari wajahku, seperti hendak menyampaikan sesuatu.

“Besok antarkan Ibu ke makamnya,” lirihnya sambil berusaha menghentikan tangis.

Lekas aku mengangguk. Mengangguk sekuat-kuatnya sambil mengurai senyum haruku.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mimi Aira 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1467/XXIX 4 - 10 April 2016

0 Response to "Perempuan di Perut Bulan"