Perempuan Limited Edition (27) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (27) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:38 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (27)

"OH."

Nadia mengangguk.

"Rajin juga kamu ya, Di?" kata Nadia lagi setelah Adi selesai melaksanakan kewajibannya dan kembali ke mobil.

"Namanya juga kewajiban Bu, lagian gak butuh waktu sampai berjam-jam Bu," jawab Adi tidak bermaksud menyindir Nadia.

"Dulu Ibu juga rajin ta?" kata Adi lagi dan Nadia hanya menarik sudut bibirnya. Entah apa maknanya.

"Dulu bila Ibu meminta saya mengantar ke gereja Kotabaru, saya nunggunya di Masjid Suhada, Bu, sekalian Maghriban di situ. Jadi sambil menyelam minum air, hehehe..."

"Oh."

Hanya itu komentar Nadia. Namun dalam hatinya kagum dengan anak ini. Pemikirannya sunguh seperti orang dewasa.

"Kadang saya kangen lho salat di Suhada."

"Ya kamu ke sana aja ta."

"Maksudnya kangen saat ngantar Ibu ke Kotabaru dan saya sekalian salat seperti dulu Bu," Adi memancing Nadia.

"Kamu ada-ada saja." Itu tanggapan Nadia dan Adi merasa gagal mengingatkan agar mantan bosnya itu menjadi seeprti dulu lagi.

Tanpa terasa mobil sudah samapi di Ring Road utara, kemacetan mulai terasa saat di lampu merah Jalan Gejayan. Nadia mulai merasa bosan melihat kemacetan.

"Kok samapi segini panjangnya sih?" Nadia mengeluh.

"Hari Minggu Bu, biasa banyak yang jalan-jalan ke mal," jawab Adi karena memang lokasinya dekat sekali dengan mal baru.

Setelah melewati lampu merah, Adi sengaja melewati jalur lambat untuk menghindari deretan mobil yang jalannya seperti siput. Namun sial, justru sebelum sampai Polda, terjadi kerumunan sepeda motor.

"Aduuh apalagi ini?" cetus Nadia.

"Razia kali Bu," jawab Adi karena melihat ada beebrapa polisi yang mengamankan jalan.

"Masak Minggu-minggu razia?"

"Kali aja Bu."

Setelah mendapat jalan dengan bantuan seorang polisi, Adi terkejut bukan main. Karena ini bukan razia, melainkan kecelakaan dan Adi melihat sepeda motor Adrian tak berbentuk. Adi sangat hapal joknya yang diganti bergambarkan Ac Milan dan beberapa stiker Ac Milan yang masih menempel pada motor. Adi sangat paham karena Adrian sangat menyukai Ac Milan.

Adi sgera merapikan mobil, melirik mantan bosnya, khawatir Nadia melihatnya juga.

"Ii... iiitu seperti motor Adrian, Di...," teriak Nadia sambil tangannya mengguncang-guncang lengan Adi.

"Sabar Bu.... sabar."

Perkiraan Adi meleset ternyata Nadia melihatnya juga.

Mobil belum berhenti sempurna Nadia sudah melompat keluar dari pintu mobil.

"Sabar Bu!" Adi berteriak sambil menyusul Nadia.

"Pak yang kecelakaan orangnya di mana sekarang?"

"Oh sudah dibawa ke rumah sakit sebelah Bu," jawab polisi yang ditanya Nadia.

Adi sedang memastikan apakah itu benar-benar motor milik Adrian atau bukan. Setelah melihat plat nomor AB 1530.. Adi benar-benar yakin motor yang ringsek itu milik Adrian.

"Cepat Di..." suara Nadia sangat keras.

"Baik Bu, sabar Bu, sabar!" Adi emnjadi tergopoh-gopoh apalagi melihat mantan bosnya sudah menangis.


"Sabar Bu, Ibu berdoa saja supaya mas Adrian tidak kenapa-kenapa," kata Adi yang lupa mantan bosnya itu tidak mengenal doa lagi.

Mobil menuju rumah sakit yang hanya berjarak tidak sampai 500 meter dari lokasi kejadian. Lagi-lagi Nadia segera membuka pintu mobil, padahal masih maju mundur meluruskan posisi parkir.

"Ibu...."

Nadia tak menggubris teriakan Adi dan terus berlari ke bagian UGD.

"Ada yang bisa dibantu Bu?" sapa salah satu petugas jaga. Nadia masih mengatur napasnya untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba mendengar suara panggilan dari ruang perawatan.

"Mama!"

Nadia menoleh ke arah suara dan Adrian mendekati mamanya, Nadia langsung berlari dan memeluk Adrian, menangis sejadi-jadinya.

"Mama dari mana?" Nadia tak menjawab pertanyaan Adrian. Nadia meneliti Adrian yang hanya lecet-lecet di bagian tangan dan pelipisnya. Antara percaya dan tidak melihat luka yang dialami Adrian bila melihat motornya tidak berbentuk seperti itu, siapapun akan berpikir jauh.

"Kamu?"

"Adrian nggak papa, Ma, cuma yang nabrak sedikit parah," terang Adrian.

Nadia kembali emmeluk puteranya sambil diciumi bertubi-tubi.

"Dia tadi muncul dari gang melawan arah, motornya kenceng lagi. AKu juga kaget dan tak sempat menghindar," urai Adrian.

"Kamu dari mana tadi?" tanya Nadia setelah sadar bahwa ini bukan mimpi.

"Dari gereja Kotabaru, Ma," jawab Adrian dan Nadia merasa tersengat ribuan watt listrik.

"Bersyukurkah pada Tuhan, Ma, karena Tuhan masih melindungi aku."

Kata-kata putranya terasa menembus ulu hatinya. rasa malu, menyesal dan banyak lagi yang bersarang di otaknya benar-benar tak masuk akal jika putranya hanya lecet-lecet. Adi sendiri yang menyaksikan Adrian hanya lecet-lecet tak berarti, heran.

"Alhamdulillah ya Tuhan, Mas Adrian tidak kenapa-kenapa," gumam Adi sambil mendekat pada ibu dan anak ini.

"Mama pulang aja duluan, Adrian bisa kook ngurus ini sendiri, Adrian kan bukan anak-anak Ma," kata Adrian yang emlihat mamanya sungguh khawatir dan selalu menganggap dirinya masih anak-anak. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 31 Juli 2016

0 Response to "Perempuan Limited Edition (27)"