Pintu Belakang Kiai Suleman | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Belakang Kiai Suleman Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:50 Rating: 4,5

Pintu Belakang Kiai Suleman

"KIAI palsu! Ulama su'!" Kata-kata itu terus terngiang di telinga Kiai Suleman. Kata-kata itu serupa tumpahan air hujan yang tiba-tiba turun dari langit dan menderas, tanpa Kiaia Suleman menahan. Oh ya, Kia Suleman memang sengaja tidak menahan. Kiai lembut hati itu hanya berusaha menghindar sembari bibirnya tak henti berucap ampunan kepada Gusti Sang Pemberi Hidup.

Sungai Bahari tercemar, Kiai Suleman paham itu. Sebuah pabrik berdiri pongah di tengah perumahan penduduk yang padat. Pabrik tekstil. Kepunyaan warga asing. Limbah pabrik menggenangi bahari setiap hari. Bahari berubah kotor, keruh, dan berganti warna. Bau apek menyerbu hidung, seakan-akan puluhan mobil sampah berkeliling di speutaran kota untuk mencari tempat pembuangan akhir.

Bila tidak muncul usaha meredam, api pastinya menyala. Api di kepala, api di tangan, api di pabrik. Semua terbakar! Bumm! Sebab, panas warga tak bisa dicegah. Panas itu bahkan telah sampai di ubun-ubun, menguap dan mengaliri darah. Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin orang-oranng diam saat titik api melintas? Dan Santo, apakah ia nantinya hendak bertepuk tangan dengan kejadian ini?

Kiai Suleman belum selesai dengan bacaannya saat Nyai Suleman datang dengan segelas  kopi hitam kental dan sepiring tempe goreng. Langkahnya pelan pagi itu, di teras rumah, jelang matahari menyibak jendela-jendela yang sebelumnya rapat tertutup malam. Bau harum seketika menyeruak.

"Tinggal Abah harapan warga," Nyai Suleman meletakkan gelas dan piring.

"Aku tahu itu."

"Mengapa Abah tidak bergerak?"

Kiai Suleman terdiam. Mengapa tak bergerak? Ah! Kiai Suleman meletakkan buku bacaannya dan membetulkan letak sarungnya. Tangannya menyentuh kopi dan menyeruputnya. Oh, tidak biasanya istriku bikin kopi seperti ini. Kurang pas kopinya, kurang manis gulanya, dan kurang panas airnya. Semua serba kurang, tanggung. Tetapi, apakah karena serba tanggung itu hingga kopi terasa kurang sedapnya?

Kiai Suleman menggeleng. Mungkin bukan. Ya, mungkin bukan itu masalahnya. Perasaan sedih, marah, benci, khawatir, atau sejenisnya, yang akhir-akhir ini menyelimuti tubuhnya itulah yang mungkin jadi pemicunya. Lalu, mengapa aku harus menyalahkan istriku membikin kopi? Mengapa aku tidak menyalahkan lidahku yang dibaluri kelu?

Kiai Suleman meletakkan gelas. Hilang sudah hasrat menikmati tempe goreng. Padahal, hampir setiap pagi ia minta dibuatkan. Kiai Suleman berdiri. Ada rasa kecewa menyergap. Nyai Suleman mengingatkan sang suami untuk mencicipi tempenya, tetap Kiai Suleman menggeleng.

Di luar sana, lalu lalang para santri menyambut pagi membuat dadanya agak sesak. Tiba-tiba ia ingin masuk ke dalam rumah. Apa memang nyala api yang sebenarnya diinginkan Snato?

***
Sepekan yang lalu, Kiai Suleman bertemu Lurah Sasi. Lurah Sasi dikenal ramah. Ia sangat menghormati  Kiai Suleman. Tapi, kali ini, ia seperti bingung bagaimana cara menghormati Kiai Suleman. Ucapan Lurah Sasi berbelit, matanya jelalatan, dan wajahnya dicekam bimbang. Ia bercerita Bahari yang tercemar, Bahari yang bau apek, Bahari yang sudah tidak menarik lagi. Benar, apa yang diungkapkan Lurah Sasi memang benar. Namun, apa urusannya dengan Kiai Suleman.

"Ini masalah Santo..."

Dada Kiai Suleman berdebar. Benaknya langsung melayang kepada si sulung.

"Ada apa dengan Santo?"

"Maaf, Kiai, sekali lagi saya minta maaf. Sbeetulnya ini bukan semata soal Santo. Ini lebih tepat persoalan Santo dengan pemerintah atau Santo dengan aparat."

"Iya, ada apa?"

"Begini, Kiai pasti tahu kalau Sungai Bahari tercemar. Memang biangnya pabrik tekstil itu. Semua orang marah karena tidak lagi dapat memanfaatkan sungai yang dulu bersih dan jernih itu. Penyakit kulit dan pernapasan juga mulai menyerang. Saya sudah mengimbau warga untuk emnahan diri. Namun, diam-diam Santo bergerak. Ia memprovokasi warga untuk menutup pabrik itu secepatnya. Bahkan ia berkata, kalau pemerintah tidak bisa menutup, kita yang akan menutupnya."

"Kamu yakin, semua itu karena Santo?"

"Santo memimpin demo di kantor Wali Kota. Aparat sudah emmegang bukti."

Kiai Suleman bergetar. Ia emnahan kecewa. Lurah Sasi berharap Kiai Suleman menyampaikan hal ini kepada Santo. Sebagai peringatan, sebagai sikap hati-hati. Menyampaikan? Kiai Suleman menerawang. Di bening matanya terlukis orang-orang berteriak, aparat membawa pentungan dan senjata, dan ah, nyala api. Ya, nyala api. Kerusuhan. Apa yang sebenarnya ia cari dengan kisruh Bahari?

***
Santo, orang-oranng memanggilnya begitu. Nama yang aneh, nama yang unik. Kiai Suleman sengaja memberi nama itu. Tetapi, bagaimana mungkin seorang kiai memberi nama anaknya dari tradisi agama lain? Santo adalah gelar untuk orang suci umat Kristiani. Nama Santo memang pemberian kawan kuliahnya dahulu. Yosef, yang kini sudah menjadi pastor. Tidak ingin nama itu jadi bahan gunjingan, Kiai Suleman emnambahkan kata Arab, 'ihsan,' yang berarti sempurna atau terbaik, hingga jadilah Ihsanto untuk nama anak sulungnya.

Entah semenjak umur berapa Santo mulai merepotkan dirinya, Kiai Suleman tidka begitu ingat. Ia hanya ingat, Snato bandel semenjak kecil. Ia doyan berkelahi, suka bolos sekola, senang begadang, hobi kebut-kebutan motor, dan yang paling merisaukan, Santo selalu menolak belajar di sekolah agama. Bagi Santo, cukup Bapaknya yang jadi Kiai. Dirinya? Santo hanya tertawa kalau ditanya cita-citanyaa. Orang merdeka, begitu jawabnya.

Santo tetap makhluk yang menjengkelkan hingga dewasa. Tak ada yang dilakukan Kiai dan Nyai Suleman selain menjaga Snato supaya tidak terjerat dua perkara, kriminal dan narkoba. Bagi Kiai Suleman, kalau sudah terjerat kriminal, susah untuk bersih, karena catatan hitam sudah tercetak tebal di kepolisian. Sedangkan, bila narkoba menjerat, isi otak kita bisa dibikin ruwet karenanya.

Untung, Tuhan mengasihi Kiai Suleman. Entah dapat bisikan dari mana, tiba-tiba saja Santo bersikeras akan kuliah di jurusan agama. Tidak tanggung-tanggung, ia ingin ambil filsafah Islam. Tak apa, Kiai Suleman sudah cukup senang Santo mau kuliah di jurusan agama. Kiai Suleman bahkan sudah membayangkan Santo bakal meneruskan cinta-citanya kelak, menjadi ahli agama Islam seperti dirinya. Namun, bayangan Kiai Suleman tinggal bayangan. Santo menolak jadi ahli agama.

Seusai lulus, Santo menjatuhkan pilihan kerjanya pada sesuatu yang tidak pernah bermukim dalam pikiran Kiai Suleman, pekerja sosial. Santo bergabung dengan LSM lingkungan yang menarik simpatinya. Jadilah, Santo rutin mengadakan penelitian, penerbitan jurnal, melancarkan kritik dan protes, juga menyampaikan pemikiran alternatif untuk disampaikan ke lembaga negara. Satu hal yang kada emmbuat Kiai Suleman ketar-ketir, Santo hobi berdemonstrasi.

Celakanya, sebagai koordinator LSM, Santo mendapat ujian pertama berupa kasus di Sungai Bahari, tempat ia bermain di kala kecil. Santo senang, karena ia tentu saja mengenal Bahari beserta lingkungan yang melingkupinya. Namun, tidak dengan ayahnya. Kiai Suleman kerap kali dicekam khawatir. Kekhawatiran Kiai Suleman akhirnya terbukti, Santo digelandang aparat keamanan usai beunjuk rasa yang berujung rusuh di depan kantor Wali Kotamadya.

***
"Ini konsekuensi perjuangan, Abah," kata Santo dari balik terali penjara.

"Perjuangan apa?" tanya Kiai Suleman tak paham maksud anaknya.

"Perjuangan menegakkan kebenaran.

"PAkah perjuangan menegakkan kebenaran harus selalu berakhir di penjara?"

Santo tak menjawab karena ia memang tidak ingin menjawab. Namun, dari balik penjara, Santo mulai kehilangan rasa hormat kepada ayahnya. Semua ini bermula dari kawan-kawannya yang mengungkapkan kalau Kiai Suleman telah melakukan pertemuan rahasia dengan Wali Kota dan pemilik pabrik. Entah pertemuan apa yang membicarakan apa. Tetapi disinyalir pertemuan itu berkaitan dengan nasib pabrik tekstil yang ditolak warga, juga nasib dirinya.

"Benar Abah melakukan pertemuan dengan Pak Wali dan pemilik pabrik?" selidik Santo saat Kiai Suleman mengunjungi dirinya.

"Dari mana berita itu kamu dengar?" tanya Kiai Suleman balik.

"Saya minta Abah jujur."

Kiai Suleman menghela napas. Ia memang tidak bisa berbohong dan tidak terbiasa berbohong. Dengan berat hati, ia mengakui. Tapi, Kia Suleman sedikit menyesal, sebab pengakuannya itu ternyata sudah cukup bagi Santo untuk meninggalkannya. Santo tidak memerlukan penjelasan lagi, sekalipun ayahnya itu telah meminta ia mendengarkan dahulu. Ah, anak muda, keluh Kiai Suleman, sebab sesudah itu ia harus rela emnerima tuduhan dan umpatan semacam. Kiai palsu dan Ulama Su' dari kawan-kawan Santo, juga orang lain.

Kiai Suleman pasrah dengan tuduhan, juga prasangka seperti itu. Ia tidak merasa terbebani. Menurutnya, hanya sejarah bening milik malaikat di langit yang akan menulis kiprah dirinya secara jujr. Andaipun Kiai Suleman harus mengulang kembali lembaran hidupnya, ia tetap akan menemui Wali Kota dan pemilik pabrik demi selesainya soal Bahari. Apa yang akan terjadi kalau ia diam? Bagaimana ia harus bertanggung jawab di akhirat nanti?

Bagi Kiai Suleman, segalanya sudah jelas. Tugas dan tanggung jawab para ulama seperti dirinya adalah memberikan nasihat, petuah, dan saran kepada orang-orang seperti Wali Kota dan pemilik pabrik itu. Kalau salah, mereka wajib diingatkan dan bahkan diperingatkan, kalau benar, mereka harus didoring dan dibantu. Satu yang  Kiai Suleman hindari, ia tidak mau kiprah dirinya diketahui banyak orang.

Kiai Suleman selalu ingat nasihat Kiai Muzakir, gurunya, tatkala ia belajar di pesantren dahulu. Kata Kiai Muzakir,

"Pintu depan bukan untuk orang-orang seperti kita. Sebab, pintu depan selalu ada pandangan mata, tepuk tangan, kilatan kamera, dan sorot televisi. Kita harus lewat pintu belakang. Pintu belakang sepi, tidak banyak orang. Di situ, keikhlasan dan kejujuran kita akan diuji."

Kiai Suleman paham betul petuah itu.

Bogor, 8/2016

Catatan:
Ulama Su': Ulama atau tokoh agama yang buruk, yang kerjanya hanya mengacau, merusak, dan menyesatkan umat.

Sigit Widiantoro menulis cerpen dan esai di media. Tinggal di Bogor.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sigit Widiantoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 14 Agustus 2016



0 Response to "Pintu Belakang Kiai Suleman"