Pintu Hijau (1) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau (1) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:13 Rating: 4,5

Pintu Hijau (1)

KAKEK menunggu kedatanganku di rumahnya nanti malam, kata ibu tadi sore. Malam ini aku tiba di kediaman kakek dengan mengendarai mobil dinas ayah. Cukup lama kakek tidak memintaku berkunjung dan karena itu aku bertanya-tanya. Pintu rumah kakek tidak ditutup. Aku masuk ke kamarnya dan ia sudah menunggu.

"Duduklah," pintanya.

Aku mengangguk dan duduk di kursi rotan berdekatan dengan kakek yanng berbaring di ranjang kamar. Aku mau bertanya kenapa kakek memintaku datang tapi gagal aku tanyakan. Tiba-tiba aku merasa bersalah karena semestinya tanpa ada keperluan apa pun berkunjung ke rumah kakek adalah tugasku. Aku cucu kakek satu-satunya.

"Bacalah ini untukku, Nak," kata kakek, menyodorkan berlembar-lembar kertas padaku. Lembar-lembarnya kusut dan tampak disusun sendiri.

Aku menerimanya dan mulai membaca:

"Dengan kamulah. Sungguh" kata Bang Rusydi padaku. Lalu ia beranjak pergi karena memang sudah waktunya meninggalkanku. Tepatnya, aku mengusir Bang Rusydi. Bila waktu-waktu tertentu aku tahu ia akan kembali datang. Aku berani bertaruh soal ini.

Di bawah palang pintu kamar, di mana aku mengiring Bang Rusydi pergi, secara tak sengaja aku melihat Paman Debing datang tergopoh-gopoh. Jalannya pincang. Paman menemui Suliman Pihatin yang sedang duduk di beranda. Sepertinya memang Suliman tin menunggu kedatangan paman, sebab aku lihat langsung berdiri saat melihat paman datang. Aku kembali masuk ke kamar. Entah kenapa sekonyong-konyongnya aku tak bisa menutup mata. Ingat sama Bang Rusydi. Padahal malam sudah mulai larut dan besok aku harus bekerja seperti biasa.

Sebenarnya, aku tak tahu kenapa aku selalu ingat sama Bang Rusydi. Padahal aku melakukannya dengan  semua lelaki yang singgah ke sini. Tapi Bang Rusydi seolah menjadi lain. Awalnya aku menduga, itu mungkin hanya pikiranku yanng kadang-kadang ingat pada rumah melalui Bang Rusydi. Mungkin lama-lama akan hilang juga. Namun sepertinya tidak begitu. Apalagi Bang Rusydi selalu bertanya tentang rumahku di SUngairima yang membuatku selalu ingat pada rumah, pada ayah dan ibuku.

Aku agak takut kalau bercerita tentang rumah, karena oleh Suliman aku dilarang bercerita tentang diriku yang sebenarnya: aku harus mengatakan aku orang kota ini.

"Mengakulah orang kota ini. Jangan pernah bilang kamu orang kampung. Orang-orang kampung jelek-jelek, hitam-hitam dan kasar! Dan jangan lupa, bergeraklah sehalus mungkin," kata Suliman padaku suatu kali.

Entah kenapa aku bisa melakukannya untuk orang lain. Bahkan, berhasil menutupi diriku sendiri bahwa aku orang Sungairima. Akan tetapi, ketika Bang Rusydi yang bertanya, persoalannya menjadi berbeda. Ditambah lagi Bang Rusydi sendiri bertanya seolah emmaksaku dengan tatapannya. Setelah itu aku tak begitu tahu sebabnyam aku langsung bercerita yang sebenarnya.


***
BEBANKU akan sedikit terkurangi kalau aku menumpahkan segala tentang hidupku di catatan ini. Semuanya bermula dari kebohongan Paman Debing. Kebohongan yang sangat rapi sampai aku sama sekali tidak menduga bahwa paman tengah berbohong.

Paman Debing lama tidak diketahui rimbanya. Sampai keluarga kami menduga paman meninggal dunia. Kami mengambil kesimpulan demikian karena pada tahun itu, tepatnya tahun 1965 dan setahun berikutnya telah terjadi kerusuhan di mana-mana, geger politik kata orang, pembantaian kata orang, pembersihan kata orang, keadaan di banyak kota menjadi mencekam kata orang, mereka yang melakukan pembantaian dan pembersihan itu sangat membabi-buta kata orang. Aku tidak terlalu mengerti sebab-musabab kerusuhan yang dimaksud. Yang kutahu, betapa banyaknya orang yang dibantai dan meninggal dunia karena kerusuhan itu.

Sedangkan kepergian Paman Debing dulu, adalah menuju ke sebuah kota, entah kota mana. Karena kepergian Paman ke sebuah kota, dan kota pada tahun-tahun itu, dalam bayangan kami, selalu dekat dengan kerusuhan dan pembantaian, sehingga kami mengambil kesimmpulan paman meninggal dunia. Kerusuhan yang menyebabkan banyak orang mininggal, termasuk paman yang meninggal, begitu kami menduga.

Maka karena paman tidak pulang sampai enam tahun setelah kerusuhan dan pembantaian itu, kesimpulan kami semakin kuat: paman memang benar telah meninggal. Entah siapa yang melontarkan hal itu lebih dulu, aku tidak  tahu. Rasanya dari semua orang, kecuali Bibi Yuni, istri paman.

Sampai pada suatu hari, kami dikejutkan kedatangan Paman Debing. Kami semua gembira dengan kedatangannya. Terlebih lagi Bibi Yuni. Yang kutahu, sejak paman pergi enam tahun yang lalu, Bibi Yuni selalu nampak murung, selalu menyebut-nyebut nama paman bila rasa kangen dan inngatannya tertuju pada suaminya itu.

Tentulah kedatangan paman yang tidak kami duga itu adalah bentuk hadiah yang sangat besar. Kembalinya paman bagi kami sudah lebih dari cukup. Paman Debing tidak meninggal sebagaimana yang kami duga. Tidak banyak yang berubah pada diri paman selain umurnya saja yang tambah tua. Hanya saja cara paman berjalan berbeda dengan yang dulu. Paman seolah malas berjalan: paman pincang.

Kami sungguh sangat terkejut. Dan yang paling terpukul adalah Bibi Yuni. Bagaimana tidak, setelah satu hari Paman Debing datang, kami baru mengetahui bahwa kaki paman yang kiri sudah berganti dengan kaki palsu. Makanya cara berjalan pincang. Apa yang menimpa paman kami tidak tahu. Bibi Yuni terlihat murung lagi setelah mengetahui hal itu. Ayah dan ibuku hanya diam dengan kesedihan. Sepertinya mereka tak percaya hal itu.

Pada awalnya, kecurigaan datang dari ayah. Pada malam harinya, letika Paman Debing datang di siang harinya dengan diantar ojek, ayah mendatangiku diam-diam di tengah malam yang sudah larut. Ayah membangunkanku dengan gerakan sangat hati-hati seolah takut ada yang mengetahui. Setelah aku bangun dan pikiranku masih kosong tiba-tiba ayah berkata dengan berbisik.

"Nak, kaki Paman kamu yang kiri kenapa? Sepertinya bukan kaki, bukan kayu." Begitu kata ayah. Sedangkan aku serta merta kaget.

"Maksud, ayah?"

"Mungkin Pamanmu kecelakaan sehingga kakinya mesti dipotong," jelas ayah yang selanjutnya membuat aku tertegun tak punya kata-kata untuk diomongkan.

Demikianlah ayah memberitahuku. Dan pada akhirnya Bibi Yuni mengetahuinya juga. Bahkan seluruh warga di kampung Sungairima tahu. Selanjutnya perihal kaki paman menjadi bahan omongan di mana-mana: di pasar ketika ibu menjual umbi-umbian hasil ladang, orang-orang membicarakannya, kata ibuku; tak ketinggalan teman-temanku di sekolah juga berbicara soal kaki paman; di sungai ketika aku mencuci, para ibu-ibu menyerukan hal serupa, lengkap dengan perasaan ibunya pada Paman Debing yang tentu saja kemudian berujung pada pembicaraan di mana Bibi Yuni sebagai bahan dikasihani karena memiliki suami dengan kaki palsu.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 14 Agustus 2016

0 Response to "Pintu Hijau (1)"