Potret Keluarga - Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang - Ayat-ayat Sunyi - Semarang-Jakarta - Instrumentalia - Hujan Larut Malam - Sia-sia - Pengemis - In Memoriam Abdul Wahab | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Potret Keluarga - Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang - Ayat-ayat Sunyi - Semarang-Jakarta - Instrumentalia - Hujan Larut Malam - Sia-sia - Pengemis - In Memoriam Abdul Wahab Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:07 Rating: 4,5

Potret Keluarga - Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang - Ayat-ayat Sunyi - Semarang-Jakarta - Instrumentalia - Hujan Larut Malam - Sia-sia - Pengemis - In Memoriam Abdul Wahab

Potret Keluarga

potret keluarga itu pun memudar
kusam di dinding rumah limasan
ada gunoto kecil tersenyum lebar
diapit ayah dan ibu penuh harapan

potret kabur itupun membangun kenangan
tentang kasih sayang, luka, dan takdir
tentang isyarat, maut, dan keyakinan
dongeng memang hanya mimpi penyair
2016

Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang

masih adakah yang akan kukatakan
sebelum aku lapor masuk ke dalam
dan menggendong tas ransel hitam
masih adakah yang akan kaubisikkan

melalui pintu detektor aku pun tersekat
tak mampu lagi memilih kata-kata
di sakuku hanya selembar tiket pesawat
di hatiku hanya kau punya nama

masih adakah yang akan kausampaikan 
sebelum aku dipannggil terakhir kali
dan petugas bandara gelisah mencari
masih adakah yang akan kautanyakan

ketika namaku disebut akupun mengembang
tersaruk-saruk menuju tangga pesawat
ketika ponselmu bergetar aku pun tersendat
jantungku, o, ternyata tertinggal kau genggam
2016

Ayat-ayat Sunyi

sepotong bulan pun lingsir menuju subuh
detik jam sedingin es dalam kulkas
ada ayat-ayat sunyi mengalun dari jauh
bolehkah aku memimpikanmu walau kauretas
2016

Semarang-Jakarta

pagi masih gelap ketika kita duduk di pesawat
belum lagi pukul enam, di luar merayap kabut
gerimis pun mulai menderai di kaca jendela
kita memulai hari seperti tak sengaja

musim penghujan mengeras dalam dingin
pesawat lepas landas seakan tak peduli cuaca
awan kelabu mengaburkan mata siapa saja
aku hendak berkata namun ternyata hanya ingin

benarkah perjalanan ini sangat biasa
benarkah kita sedang mengekalkan kenangan
sedangkan sajak tak juga lahir berbulan-bulan
hidup hanya sebentar namun cinta kita lebih lama

sesekali kau memandnag ke luar jendela
sesekali kau pun terkantuk-kantuk jua
sesekali aku bersenandung lagu tua
lihatlah, kita menimbang-nimbang kata
2016

Instrumentalia

denting piano menggema dalam hening malam
menembus kegelapan emnuju gugusan bintang
kutangkap isyarat diam menyentuh bayang-bayang
ditingkah drum, saksofon, dan gitar hitam kelam

siapa berlagu, siapa menembang, apakah artinya?
kudengar satu bait bob dylan, lalu maskumambang
bergolak bach, lalu merambat megatruh begitu rawan
pada mulanya ratap kesunyian, ingin hati berbahagia
2016

Hujan Larut Malam

suara siapakah mendesah dalma hujan?
menderas di halaman dan atap rumah
menciptakan komposisi lagu rawan
di antara gigil dedaunan yang basah

benar, malam ternyata telah larut
gelisah reranting dipermainkan angin
tembang siapakah sayup dan hanyut?
puisimukah mengalun bagai desir errumputan?

angin pun risau mendesau dalam hujan
makin lebat tidak berhenti-henti juga
ada yang membersihkan cuaca semesta
Engkaukah membaca ayat-ayat tertahan?
2016

Sia-sia

pahit kopi teronggok sia-sia di dasar gelas
percakapan-percakapan tak juga tuntas
ketika selepas pagi buta tamu-tamu berkemas
buah-buah catur dan kartu-kartu remi pun terhempas
2016

Pengemis

seorang pengemis menadahkan tangan
ketika aku ingin menghabiskan sup makaroni
benarkah aku belum terlampau kenyang?
kucari uang recehan namun kutemukan hanya puisi
2016

In Memoriam Abdul Wahab

di surau kecil dna tua, di kampung tak berpeta
kita pun pasrah bersimpuh di sleembar tikar kumuh
tersungkur sembahyang membawa air mata dan luka-luka
puluhan tahun kita dusta, lupa, dan alpa, o sang mesiah

di luar malam telah larut, mungkin angin pun tak ada
ada sepotong bulan di langit kelam pucat terlena
betapa fana hasrat atau gairah kita, tak bermakna
puluhan tahun hanya memburu fatamorgana, o sia-sia

benar, ujarmu, dunia hanya panggung sandiwara
kita habiskan usia dengan bermain dan bercanda
domba-domba yang teledor dan kehilangan gembala
di kegelapan surau tua, kita seonggok tubuh tak berguna
2015-2016


Gunoto Saparie: Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah, tinggal di Jalan Taman Karonsih 654 Ngaliyan Semarang 50181

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gunoto Saparie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 31 Juli 2016


0 Response to "Potret Keluarga - Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang - Ayat-ayat Sunyi - Semarang-Jakarta - Instrumentalia - Hujan Larut Malam - Sia-sia - Pengemis - In Memoriam Abdul Wahab"