Sang Pertapa, Mintaraga - Tiba Saatnya Wahyu Jatiwasesa Didapatkan - Setyaki Bertapa Menunda Pernikahannya - Bermula Dari Begawan Sapwani yang Bertapa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sang Pertapa, Mintaraga - Tiba Saatnya Wahyu Jatiwasesa Didapatkan - Setyaki Bertapa Menunda Pernikahannya - Bermula Dari Begawan Sapwani yang Bertapa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

Sang Pertapa, Mintaraga - Tiba Saatnya Wahyu Jatiwasesa Didapatkan - Setyaki Bertapa Menunda Pernikahannya - Bermula Dari Begawan Sapwani yang Bertapa

Sang Pertapa, Mintaraga 

Siapa sesungguhnya Begawan Ciptoning alias Begawan Mintaraga. Tersiar kabar hingar-bingar, sampai ke kahyangan, tempat orang-orang --- eh wayang-wayang, yang lebih tinggi derajatnya.
Ia hanya dari kalangan orang biasa --- et wayang biasa-biasa saja. Hanya sedikit lebih tinggi derajatnya dibanding rakyat jelata.
Diam-diam, di kalangan kahyangan berpusing-pusing. Kok wayang biasa-biasa saja jadi Begawan.
Ia memang masih trah, keturunan raja-raja. Dari keturunan Pandawa Lima, urutan ketiga. Ia bernama Arjuna. Yang menyembunyikan jati dirinya. Ia dari kalangan akar ilalang, memang bukan sekedar akar rerumputan. Ia bertapa tak mudah goyah godaan. Ia hebat karena kuat.

Tiba Saatnya Wahyu Jatiwasesa Didapatkan 

Telah tiba saatnya. Wahyu Jatiwasesa dijatuhkan. Bersama hujan. Di malam orang-orang lena lelap.
Antara Astina dan Amarta memang ada yang gemar menduga-duga, Wahyu Jatiwasesa bakal di puncak Menerakresna, di gunung Patrakelasa.
Dalam wadah yang bersih indah beraroma nirwana. Dan jadi rebutan dua kerajaan yang berbeda bagai malam dan siang.
Ada yang ingin mendapatkan dengan cara instan. Ada juga dengan laku spiritual. Ada yang mendapatkan atau bukan dengan keikhlasan.
Ada yang harus mendapatkan meski dengan cara keculasan. Orang-orang Amarta yang biasa peka rasa menduga orangorang Astina akan meraih dengan cara tak semestinya.
Wisanggeni dari Amarta yang konon manusia setengah dewa diam-diam sengaja membuat wadah Wahyu Jatiwasesa tiruan. Dan Durna dari Astina tergesa-gesa, terpedaya, memilih wadah Wahyu Jatiwasesa yang bukan aslinya. Hanya Abimanyu sesungguhnya yang berhak mendapatkannya. Karena Abimanyu yang gemar bertapa dengan kesungguhan.

Karena Sedang Bertapa Sadewa Menunda Pernikahannya 

Di negara Selamerah Sang Prabu Rasadewa kesohor memiliki anak gadis yang luar biasa cantiknya. Kabar ini terdengar ke mana-mana, hingga ke manca negara. Dewi Rasawulan namanya. Anehnya, siapa mempersunting kelak akan jaya di arena perang Baratayuda. Banyak yang kepincut melamarnya.
Dursasana dari dukuh Banjarjumput pun ikut-ikutan mencoba. Janaka yang sudah banyak istri juga ingin mengoleksinya. Demikian pula Prabu Dewakesuma dari Praja Simbarmanyura ikut mabuk asmara. Tetapi justru Kresna yang berhak menjodohkan Dewi Rasawulan dengan Sadewa. Dan itu kehendak para Dewa.
Hanya saja Sadewa ingin menunda hari pernikahannya karena sedang menyelesaikan bertapanya.

Setyaki Bertapa Menunda Pernikahannya 

Hanya karena kuatnya iman yang benar seseorang bisa menerapkan kebijaksanaan sesungguhnya. Cuma lantaran iman yang benar seseorang dianugerahi indra keenam yang tajam.
Sang Betara Kresna seolah selalu dituntun bisikan gaib.
Tahu jodoh Setyaki hanyalah Dewi Endang Tri Rasa, putri Begawan Bratasudarsana dari padepokan Candi Atar. Maka Betara Kresna selalu mengawasi Sang Dewi agar tak jatuh ke tangan lain lelaki.
Diam-diam Batara Kresna menyusup ke taman kaputren Candi Atar. Bercokol di sana. Tetapi wujudnya malih macan sebagai upaya penyamaran. Meski ujudnya macan bisa berbicara seperti manusia. Memberi nama dirinya Sardula Buda Kresna.
Datang Adipati Karna dan para pengawalnya dari kerajaan Amarta ingin melamar Dewi Endang Tri Rasa, tetapi sang macan menghalang-halanginya, menyerangnya. Datang sang Dursasana dari Banjarjumput, tetapi maut nyaris merenggut, lalu nyalinya ciut dan hanya bisa segera pulang membawa dendam yang tak alang kepalang.
Resepsi penikahan Setyaki ditunda. Karena Setyaki sedang

Bermula Dari Begawan Sapwani yang Bertapa 

Di Padepokan Giri Bentar, tempat yang kesohor amat gawat kelewat-lewat.
Ibarat siapa berani mendekat bakal menemui sekarat. Banyak binatang buas liar yang selalu haus darah dan daging segar.
Ditumbuhi semak belukar. Cadas-cadas keras mudah runtuh. Pohon beracun banyak tumbuh.
Tempat yang seram. Tetapi di sini Begawan Sapwani berdiam. Dijadikan tempat bertapa, memuja-puji kepada Dewata ingin mendapatkan keturunannya.
Tak disangka. Berkat keteguhan bertapa. Jatuh di pangkuannya bekas bungkus bayi Bima yang dilemparkan Gajah Sena. Bekas bungkus bayi Bima sirna, berganti bayi sehat yang sempurna.
Bayi tiban itu diberi nama Jaya Jatra.
Kelak setelah dewasa disuruh melacak keberadaan Bima. Tetapi sial, Jaya Jatra kesasar ke negara Astina bukan ke Amarta.
Dan disandra di sana. Sebelum ketemu Bima.
Dan, agar tak mudah terlacak diubah namanya menjadi Sindunata.
Agar benar-benar lupa asal-usulnya. ❑ - c

*)Sunardi KS, lahir di Desa Mayong, Jepara. Menulis di beberapa media cetak dengan bahasa Indonesia dan daerah (Jawa). Buku kumpulan puisi berbahasa Jawa-nya berjudul Wegah Dadi Semar, 2012.bertapa


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunardi KS
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 24 Juli 2016

0 Response to "Sang Pertapa, Mintaraga - Tiba Saatnya Wahyu Jatiwasesa Didapatkan - Setyaki Bertapa Menunda Pernikahannya - Bermula Dari Begawan Sapwani yang Bertapa "