Sebuah Rahasia | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebuah Rahasia Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:07 Rating: 4,5

Sebuah Rahasia

HUJAN turun deras ketika aku baru beberapa detik tiba di rumah. Tak hentinya aku bersyukur karena hari ini aku lupa membawa jas hujan. Untung, aku tadi langsung lekas pulang ketika melihat langit sudah nyaris rata tergulung mendung. Padahal tadinya Mia, sahabat sebangku, mengajakku menjenguk Leo, pacar Mia sekaligus teman sekelas kami yang sedang sakit. Namun ketika melihat cuaca hari ini yang tak bersahabat, akhirnya kami menundanya besok.

Saat aku hendak melukar baju seragam sekolah dengan baju harian, tiba-tiba ponsel yang kugeletakkan di meja belajar, berdering. Mia menelepon.

"Mia, ada apa?" aku langsung panik saat mendengar isak Mia di ujung telepon.

"Leo, Ra..." Suara Mia terdengar lirih. Bergetar.

Tiba-tiba aku merasakan firasat buruk.

"Iya, Mia. Leo kenapa?"

"Leo barusan mening...."

Tut... tut... tut... Telepon terputus sebelum Mia menyempurnakan kalimatnya. Firasat burukku menjadi kenyataan.

***
AKU dan Mia masih di pemakaman Leo ketika orang-orang telah pulang ke rumah masing-masing. Mia terlihat sangat kehilangan dan terpukul dengan kepergian Leo yang begitu mendadak. Nyaris setahun Mia dan leo berpacaran. Tepatnya sejak aku dan Mia naik kelas 2 SMA. Namun, sebulan lalu, hubungan keduanya etrlihat renggang, bahkan seminggu terakhir ini Mia bercerita baru putus dengannya. Hingga detik ini aku belum tahu penyebab mereka putus karena Mia enggan bercerita. Ia hanya bilang, Leo baru saja memutuskannya.

Aku merangkul erat tubuh Mia yang masih menangis sesenggukan.

"Sabar, Mia."

Hanya itu kalimat yang meluncur dari bibirku, karena memang tak ada kalimat lain yang mampu terucap untuk menghibur kesedihan sahabatku.

***
DUA hari kemudian, suatu sore di sebuah kafe.

"Ja... jadi Leo memutuskanku bukan karena..." Mia tak melanjutkan kalimatnya. Ia terngaga tak percaya dengan yang barusan ia dengar dari Vera, adik Leo yang baru masuk kelas satu SMA.

"Bukan, Kak Mia, sama sekali bukan karena ada gadis lain, Kak Leo sengaja mengarang cerita itu sebagai dalih agar Kak Mia benci sama Kak Leo, agar Kak Leo dapat lebih mudah memutuskan Kak Mia," ungkap Vera dengan raut sedih.

Sunguh, Mia sama sekali tak mengira jika setahun terakhir ini Leo menderita penyakit kanker otak. Pantas, beberapa bulan terakhir ia kerap mengeluhkan sakit kepala. Kata Vera, Leo tak mau kelak hanya merepotkan Mia bila terus bersamanya. Hingga akhirnya Leo memilih putus dengan mengarang cerita pada Mia bahwa ia sudah  tak mencintainya lagi. Waktu itu Mia tak terima Leo memutuskannya secara sepihak. Tapi ia langsung sangat marah saat Leo mengatakan bahwa sudah ada gadis lain yang mengisi relung hatinya..

***
"ENTAH mengapa aku merasa sangat bersala pada Leo, Ra," ucap Mia dengan raut dipenuhi kesedihan dan nada penuh penyesalan.

Akhirnya aku tahu alasan Leo memutuskan Mia. Barusan, sepulang sekolah Mia mengajakku pergi ke pantai Laguna, salah satu pantai yang cukup indah di kota Kebumen, tepatnya di Desa Lembupurwo. Pantai dengan gumuk pasir hitamnya yang natural serta hutan cemaranya yang rindang dan teduh. Persis di sebelah utara hutan cemara, atau beberapa meter sebelum tiba di bibir pantai, terhampar lengkungan sungai mirip danau yang semakin memerindah suasana.

Sesekali, terlihat gerombolan bangau putih terbang ke sana kemari dan akhirnya turun di tepian sungai berair cukup jernih itu. Sayang masih ada sampah-sampah yang terserak di sekitar sungai, hutan cemara dan tepian pantai. Rupanya, masih banyak orang yang tak menyadari jika buang sampah sembarangan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, mengurangi keindahan alam, dan tentu saja amenjadi pemicu munculnya wabah penyakit.

Di pantai inilah, tepatnya di sebuah warung bambu yang kosong, beberapa meter dari bibir pantai, Mia menceritakan sebuah rahasia tentang Leo yang barusan ia dengar dari Vera.

"Kamu nggak perlu merasa bersalah, Mia. Karena kamu memang nggak bersalah. Mungkin jika kita berada di posisi Leo, kita juga akan memilih berbohong demi menutupi penyakitnya agar jangan sampai diketahui dan menyebabkan orang lain menjadi sedih dan khawatir."

Entah mengapa, usai mengatakan kalimat itu, justru aku malah diserbu rasa bersalah pada Mia. Tak hanya Leo, aku juga menyimpan sebuah rahasia dan sampai kapanpun tak akan kubocorkan pada Mia.

Selama ini diam-diam aku juga menyukai Leo. Tapi aku memilih menyembunyikan perasaan ini ketika mengetahui Mia juga naksir berat sama cowok yang sepintas pandang mirip Aliando itu. Dan ketika Mia akhirnya jadian dengan Leo, aku makin disadarkan kenyataan bahwa aku bukanlah sosok gadis idaman cowok beralis tebal dan bermata seteduh danau itu.

"Ra, pulang yuk."

Lamunanku buyar ketika Mia menoleh ke arahku dan mengajak pulang. Aku mengangguk dan tersenyum tipis saat melihat raut Mia tak semendung sebelumnya. Sepertinya, ia mulai bisa berdamai dengan kenyataan. Ah, bukan hanya Mia, tapi juga aku. Ya, kami berdua sama-sama tengah berusaha keras berdamai dengan kenyataan pahit. Kenyataan bahwa cowok yang sama-sama kami cintai kini telah berpulang pada-Nya. ❑ Puring Kebumen, 1 Agustus 2016.

Sam Edy Yuswanto. Mukim di Purwosari RT 1 RW 3 No 411 Puring Kebumen 54383.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 14 Agustus 2016


0 Response to "Sebuah Rahasia"